Drama penyanderaan di Sydney berakhir ketika pasukan keamanan Australia pada Selasa (16/12) menyerbu Kafe Lindt di Sydney, Australia, di mana sejumlah warga disandera. (Foto:Reuters/Jason Reed)

Penyanderaan di Kafe Lindt Sydney Berakhir

SYDNEY, CAHAYAPAPUA.com — Setelah berlangsung lebih dari 16 jam, drama penyanderaan di Sydney berakhir ketika pasukan keamanan Australia pada Selasa (16/12) menyerbu Kafe Lindt di Sydney, Australia, di mana sejumlah warga disandera.

“Penyanderaan di Sydney telah berakhir. Detail penyanderaan akan diumumkan secepatnya,” tulis Kepolisian New South Wales dalam akun Twitter resmi, seperti ditulis CNN, pada Selasa (16/12).

Serentetan tembakan terdengar meletus pada pukul 2 pagi waktu setempat. Beberapa penjaga kafe dan pengunjung yang menjadi korban penyanderaan berlarian ke arah polisi paramiliter ketika situasi mulai terkendali.

Hingga saat ini belum diketahui jumlah pasti dan kondisi sejumlah penjaga kafe dan pengunjung yang menjadi korban penyanderaan.

Menurut laporan media lokal, seperti diberitakan CNN, beberapa orang dilaporkan tewas, dan sebagian lagi terluka. Namun, belum ada informasi lanjutan atas laporan ini.

Belum diketahui juga kondisi pelaku penyanderaan, yang diidentifikasi sebagai Man Haron Monis.

Sebelumnya, sebanyak enam sandera telah berhasil melarikan diri dari lokasi penyanderaan.

Petugas medis terlihat memasuki lokasi penyanderaan dan mengangkut beberapa orang yang terluka dengan tandu. Hingga saat ini belum jelas apakah sang pelaku penyanderaan termasuk yang dibawa oleh petugas medis.

Penyandera diidentifikasi sebagai Man Haron Monis, seorang pengungsi asal Iran dan syekh gadungan yang memiliki sejumlah cacatan kriminal.

Awal tahun ini, Monis, yang menggambarkan dirinya sebagai seorang “penyembuh spiritual”, dituntut atas perlakuan tidak senonoh dan kekerasan seksual dari seorang wanita Sydney pada tahun 2002.

Monis, juga dikenal sebagai Sheikh Haron, didakwa tahun lalu karena dinyataan terlibat dalam kasus pembunuhan mantan istrinya yang ditikam dan dibakar di sebuah apartemen blok Sydney.

Menurut laporan media lokal, Monis dinyatakan bersalah pada tahun 2012 karena mengirim surat kebencian kepada keluarga dari delapan tentara Australia yang tewas di Afghanistan, sebagai aksi protes terhadap keterlibatan Australia dalam konflik di Afghanistan.

Website Monis berisi gambar grafis dari anak-anak yang diklaim merupakan korban dari serangan udara dari koalisi sejumlah negara, termasuk Australia, dan dipimpin oleh AS.

Website tersebut juga memuat beberapa penampilan Monis di pengadilan, serta pernyataan Monis yang ditujukan kepada komunitas Muslim dan Perdana Menteri Australia Tony Abbott.

Selama pengepungan, sandera dipaksa untuk menampilkan bendera Islam. Aksi ini memicu kekhawatiran bahwa penyanderaan ini dilakukan oleh kelompok militan ISIS.

Australia, sekutu setia Amerika Serikat, kini tengah bersiaga terhadap serangan kelompok militan dalam negeri yang diduga kembali dari pertempuran di Timur Tengah.

Insiden penyanderaan ini telah membuat sejumlah kantor tutup di sekitar lokasi kejadian. Para pekerja juga telah dievakuasi.

Keadaan ini mengejutkan warga Australia, apalagi terjadi menjelang libur Natal dan tahun baru.

September lalu, polisi anti-terorisme mengatakan mereka telah menggagalkan ancaman dari kelompok militan yang mengancam akan melakukan eksekusi pemenggalan kepala.

Beberapa hari setelahnya, seorang remaja di kota Melbourne ditembak mati setelah menyerang dua petugas anti – terorisme dengan pisau.

Lokasi penyanderaan, Kafe Lindt di Martin Place, Sydney, merupakan tempat yang populer di kalangan pekerja sekitar, dan dipadati pengunjung utamanya saat jam makan siang.

Oleh karenanya, kafe ini dianggap sebagai lokasi potensial untuk melakukan aksi teror, setelah ancaman pemenggalan tersebut digagalkan.

“Pelaku penyanderaan diduga merupakan simpatisan kelompok militan ISIS dan kelompok jihad internasional. Pelaku dianggap memiliki masalah kesehatan mental,” kata Adam Dolnik, seorang profesor di University of Wollongong, yang telah melatih polisi Sydney dalam proses negosiasi dengan pelaku penyanderaan, kepada Reuters, Selasa (16/12).

Dolnik menyatakan bahwa pelaku melakukan penyanderaan untuk mendapatkan perhatian.

Operasi pembebasan sandera merupakan operasi keamanan terbesar di Sydney sejak serangan bom di Hotel Hilton yang menewaskan dua orang pada tahun 1978.

Saat itu, sejumlah bank besar menutup kantor mereka di pusat bisnis dan warga dilarang untuk mendekati lokasi kejadian.

Reaksi Muslim Australia

Insiden penyanderaan di kafe Lindt, Sydney, yang berlangsung sejak Senin (15/12) pagi menimbulkan kekhawatiran yang besar bagi umat Muslim terutama mahasiswa asing di negara tersebut.

Para pemimpin Muslim di Asutralia menghimbau warga Muslim untuk tetap tenang.

“Dewan Imam Nasional Australia mengutuk tindakan kriminal ini dengan tegas,” tulis sebuah pernyataan dari Mufti Besar Australia.

Kekhawatiran tentang serangan di Australia oleh kelompok militan Islam telah berkembang selama lebih dari satu tahun. Badan Keamanan Australia meningkatkan status terorisme nasional ke level “tinggi” pada bulan September lalu. |CNN INDONESIA

 

Tinggalkan Balasan