Warning: include(/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70

Warning: include(/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70

Warning: include(): Failed opening '/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php' for inclusion (include_path='.:/usr/local/lib/php') in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70

Warning: include_once(/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/ossdl-cdn.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 90

Warning: include_once(): Failed opening '/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/ossdl-cdn.php' for inclusion (include_path='.:/usr/local/lib/php') in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 90

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php:70) in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-phase2.php on line 1164
Penyidik didesak dalami usulan dan aliran dana pengadaan lahan motor prix - Cahaya Papua
Unit Tipikor Sat Reskrim Polres Manokwari saat menggelar Press Release Tindak Pidana Korupsi Pengadaan Tanah Sirkuit Motor Prix pada Biro Pemerintahan Provinsi Papua Barat. (Adlu Raharusun/Cahaya Papua)

Penyidik didesak dalami usulan dan aliran dana pengadaan lahan motor prix

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Direktur Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy mendesak penyidik tindak pidana korupsi Kepolisian Resor Manokwari agar terus mengusut aliran dana dan perencanaan pengadaan tanah sirkuit motor prix di Distrik Masni, Manokwari.

Dalam perspektif Warinussy, dalam kasus yang menyeret Kepala Biro Pemerintahan Pemprov Papua Barat Elisa Sroyer dan Zeth Ayal, Kepala Penyuluh Pertanian Distrik Masni sebagai tersangka ini, penyidik seharusnya mendalami alur kasus mulai dari tahap pengusulan di lembaga legislatif.

“Tidak mungkin anggaran itu tidak ada yang usulkan,  harus ditelusuri siapa yang mengusulkan itu di DPR-PB dan fraksi mana?” ujar Warinussy.

Ini penting, lanjut Warinussy, sebab dalam sistem DPRPB ada yang disebut dana aspirasi. Sehingga perlu dilacak dan diungkap apakah ini masuk dalam skema dana aspirasi anggota DPR atau bukan.

“Setiap penggunaan anggaran itu sebelumnya diusulkan dari DPR-PB juga, kemudian dititipkan ke dinas terkait,” jelasnya.

Agar kasus ini terang benderang, Warinussy juga meminta Sroyer dan Zeth Ayal agar terbuka saat di pengadilan nanti. Ini untuk mengungkap apakah hanya mereka berdua yang menikmati aliran dana ini atau ada orang lain lagi yang turut serta.

Dia menjelaskan Rp 2,9 milyar yang dianggarkan untuk pengadaan tanah sirkuit, yang telah terbayar sekitar Rp 800 juta. Kemudian Penyidik menyita sekitar Rp 900 juta.

Warinussy juga meminta agar penyidik kepolisian jangan hanya berhenti pada penelusuran dugaan korupsi pengadaan tanah tersebut, tetapi juga mengembangkannya—jika ada indikasi- ke ranah kasus pencucian uang.

Sebelumnya, Dua tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan sirkuit motor prix di satuan pemukiman (SP) 6, Distrik Masni, Elisa Sroyer dan Zeth Ayal, Rabu (10/1), diserahkan penyidik Tipikor Polres Manokwari ke Kejaksaan Negeri Manokwari. Kedua tersangka tersebut langsung diperiksa selama satu jam lebih.

Dalam kasus tersebut Elisa Sroyer berperan sebagai pihak yang bertanggungjawab melakukan pengadaan lahan sirkuit motor prix, sementara Zeth Ayal yang merupakan Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Distrik Masni, berperan sebagai pembayar tanah yang dipercayakan oleh Elisa Sroyer.

Setelah diperiksa Elisa Sroyer lalu berbicara kepada media. Dia menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga dan masyarakat umum. Elisa menyatakan sama sekali tidak mempunyai niat korupsi dalam pengadaan lahan tersebut dan menyatakan bahwa ia dizolimi.

Elisa mengatakan selama ini sebagai orang yang berkecimpung di birokrasi, ia sudah membuat kebijakan untuk menyelesaikan persoalan pengadaan lahan di Papua Barat seperti lahan Polda Papua Barat dan Kejaksaan Tinggi Papua. “Ini semua saya ambil sebagai kebijakan, kalau tidak pembangunan itu tidak akan jalan,” kata Elisa.

Dia juga menyatakan kekecewaannya karena selama ini terkesan ada media yang menurutnya memvonis dirinya seakan-akan bersalah tanpa melakukan konfirmasi. “Harusnya media (melakukan) konfirmasi kepada saya agar saya memberi klarifikasi tentang semua ini, tapi tidak apa-apa saya terima ini semua dan saya terima kasih kepada kepolisian dan kejaksaan,” kata Elisa yang terlihat meneteskan air mata ketika berbicara kepada media.

Elisa juga menyatakan akan tetap kooperatif setiap dipanggil penyidik. Dia juga menyatakan bahwa beberapa warga menelponya memberi dukungan dan ingin mendatanginya namun dia meminta agar tidak boleh sebab dia akan tetap menjalani proses tersebut.

“Kemarin saya lalai, itupun karena saya melaksanakan tugas Negara di Kabupaten Tambrauw sebagai Plt. Bupati. Soal tanah ini kan 35 ribu per meter, kalau dihitung dengan nilai uang Rp 2,9 miliar itu kan pas bahkan ada sedikit kelebihan,” ungkapnya.

Dia mengatakan pembayaran tersebut menjadi masalah karena orang dia percayakan yakni Zeth Ayal malah dia tidak jujur kepada dirinya. Elisa bahkan mengaku tidak tahu ada masalah terkait pengadaan lahan tersebut. Dia mengaku baru mengetahui adanya masalah kurang lebih satu tahun belakangan.

“Saya sempat emosi,  tetapi yang bersangkutan sudah minta maaf kepada saya dan berharap sama-sama kooperatif agar membantu saya menjelaskan permasalahan sebenarnya,” kata Sroyer.

Proyek pembangunan sirkuit motor prix, di jalur 13, Kampung Bowi Subur, Distrik Masni, secara volume diklaim sudah tuntas. Saat ini hanya tersisa pekerjaan pembangunan pagar sirkuit yang sudah masuk dalam tahap penyelesaian.

PPTK di Dinas Kepemudaan dan Olahraga Papua Barat, La Irama, Sabtu pekan lalu (13/1) mengklaim pembangunan pagar tersebut sudah hampir tuntas. “Kemarin saya sudah naik ke lokasi dan cek. Pekerjaannya sudah hampir tuntas,” ujar dia.

Mengenai beredarnya foto di media massa yang nampak ada beberapa bagian bangunan yang sebatas pondasi, kata dia, volume pekerjaannya memang hanya sampai disitu karena ada proses Contract Change Order atau penambahan dan pengurangan pada bagian tertentu.

La Irama mengatakan proses penambahan dan pengurangan terjadi pada beberapa bagian karena adanya perubahan dasain terutama penambahan galian pondasi  karena terdapat tanah berlumpur serta ada bidang tanah yang mengenai jalur sungai.

“Tampak pada foto yang hanya pondasi, itu memang sudah CCO. Memang ada aturan seperti itu. Tidak bisa ditambah lagi volume pekerjaannya. Ada bidang yang tanah lumpurnya sangat dalam sehingga galian pondasinya harus satu meter,” jelasnya.

Untuk land clearing atau pembersihan lahan menurutnya sudah selesai dengan melakukan penimbunan secara menyeluruh di lahan sirkuit yang disesuaikan dengan anggaran.

Sedangkan untuk pembangunan lintasan sirkuit kata La Irama, secara volume juga sudah selesai. Menurut dia secara fisik bagi masyarakat awam pembangunan tersebut menurutnya bisa dinilai belum selesai.

Dia mengatakan karena tanah yang labil, akhirnya terjadi pengalihan pekerjaan, yang semula untuk membangun lintasan ke penimbunan tambahan dengan bebatuan khusus untuk menambah ketinggian timbunan. (MAR)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: