Kapten KRI Mandau Letkol Laut Binsar Sitorus (kanan) dan Kafasharkan Letkol Laut Al Imran memberi keterangan kepada pers.

Perairan Manokwari Diawasi, Ternyata Nelayan Manokwari Dikejar oleh Kapal TNI

MANOKWARI, Cahayapapua.com—– Hingga satu bulan ke depan Kapal Republik Indonesia (KRI) Mandau 621 akan menggelar operasi di wilayah perairan Manokwari. Operasi rutin tersebut untuk memastikan keamanan laut dari aktivitas pencurian ikan di wilayah tersebut.

Komandan KRI Mandau Letkol Laut Binsar Sitorus di Manokwari, mengatakan, operasi ini merupakan patroli rutin. Rupanya kapal perang milik TNI Angkatan Laut ini sudah sejak beberapa hari di wilayah perairan Manokwari.

“Kami masih disini hingga satu bulan kedepan. Setelah kami bergeser akan ada KRI lainya yang datang, karena ini memang patroli rutin yang dilaksanakan disetiap wilayah,” kata dia.

Dia menyebutkan, patroli yang dilakukan KRI Mandau tidak hanya di wilayah perairan Manokwari, melainkan di seluruh wilayah perairan laut utara Papua Barat.

Binsar menjelaskan, dari pengalamanya beroperasi selama ini, perairan Manokwari relatif aman dari aktivitas nelayan asing. Nelayan lokal bisa leluasa mencari ikan tanpa gangguan kapal nelayan asing.

“Tahun 2007 saya memimpin KRI Kalaka berpatroli disini. Sejauh ini situasi perairan antara Pulau Fani hingga Manokwari cukup aman dan nelayan asing tidak berani masuk, karena disini cukup dekat dengan Manokwari,” katanya.

Sementara di bagian utara pulau Fani, ujaranya mengungkapkan, ada kalanya nelayan asing dari Filipina dan China melakukan aktifitas di lokasi tersebut.

“Mereka tidak mengganggu nelayan, cuma melakukan penangkapan ikan saja. Lokasi itu jauh dari Manokwari dan memang sudah agak dekat dengan Filipina,” ujarnya menambahkan.

KRI Mandau saat ini sedang sandar untuk beberapa hari di Dermaga Fasharkan TNI Angkatan Laut Manokwari. Setelah beberapa hari di dermaga tersebut kapal itu akan kembali berlayar. Binsar mempersilahkan warga Manokwari untuk mengunjungi kapal tersebut.

Kafhasarkan TNI AL Manokwari Letkol Laut Al Imran berharap, warga nelayan di daerah ini memanfaatkan kedatangan KRI Mandau untuk lebih mengenal kapal perang Indonesia.

“Terutama bapak-bapak nelayan yang kemarin mengalami peristiwa pengejaran, bisa kesini untuk mengenal kapal perang kita,” kata dia.

Kejar Nelayan

Pada saat yang sama, Letkol Laut Binsar Sitorus menjelaskan soal operasi mereka mengejar nelayan Manokwari yang dikira nelayan asing. Binsar mengatakan, pada Kamis dini hari lalu KRI yang ia pimpin sedang melakukan operasi di perairan laut utara Manokwari.

Saat itu ada perintah dari pusat untuk memantau aktivitas penangkapan ikan di jarak 50 hingga 60 mil laut lintang timur Manokwari.

“Menindaklanjuti perintah tersebut kami pun langsung menuju dan tiba dilokasi sekitar pukul empat dini hari. Dari pantauan radar terlihat tiga sampai empat spot (titik), kami pun terus mendekat untuk memastikan aktivitas tersebut,” kata dia.

Di jarak satu hingga setengah mil, lanjutnya, pihaknya pun mengarahkan lampu sorot jarak jauh kapal dan mendapati satu rumpon ikan dengan lampu LID. Sementara perahu nelayan belum terlihat karena jarak masih cukup jauh.

“Kami pun terus mendekat hingga di jarak sekitar 100 meter. Disitu baru kami bisa melihat tiga perahu yang dikemudikan nelayan. Sayangnya perahu-perahu itu malah melaju, sehingga kami putuskan untuk mengikuti salah satu dari tiga perahu tersebut,” tuturnya lagi.
Pengejaran terus dilakukan hingga di perairan sekitar pulau Mansinam Manokwari untuk memastikan bahwa perahu tersebut bukan perahu dari nelayan asing yang sedang mencuri ikan di wilayah perairan Indonesia.

“Biasanya kapal Filipina punya perahu-perahu kecil yang dimanfaatkan untuk menangkap ikan. Kami kuatir jangan sampai mereka itu bagian dari perahu-perahu kapal Filipina tersebut,” katanya menjelaskan.

Dia mengutarakan bahwa, pengejaran tidak akan dilakukan jika perahu nelayan itu tidak melarikan diri. Pengejaran kala itu dihentikan setelah mendapat informasi dari nelayan lain bahwa perahu yang dikejar tersebut dikemudikan oleh nelayan Manokwari.

“Saat itu kami ketemu dua nelayan, mereka yang memberikan informasi bahwa perahu yang kami kejar itu adalah nelayan disini. Dari situ kami hentikan pengejaran dan melajutkan patroli sebelum akhirnya kami sandar di Dermaga Fasharkan Angkatan Laut Manokwari,” katanya.

Binsar menduga, nelayan yang mengaku dikejar oleh kapal asing di perairan Manokwari Kamis lalu itu salah mengira. Kapal yang sebetulnya adalah KRI dikira kapal nelayan asing.

Laule, nelayan Borobudur II Manokwari pada wawancara sebelumnya mengaku dikejar sebuah kapal besar dengan panjang sekitar 25 meter. Saat itu ia dan beberapa rekanya menduga kapal tersebut adalah kapal nelayan asing.

Pengejaran berlangsung selama enam jam, dari pukul 04.00 WIT hingga pukul 10.00 WIT. Saat itu ia bersama delapan rekanya sedang menangkap ikan di sekitar rumpon di jarak 60 mil laut Manokwari.

“Baru sekali ini saya mengalami peristiwa seperti ini. Dilokasi itu kapal-kapal besar biasa lewat, tapi mereka tidak pernah mengganggu kami. Pagi itu kami kaget tiba-tiba kapal datang dan mengejar,” ujarnya seraya mengatakan kapal yang mengejarnya berwarna biru dan bagian atasnya berwarna putih.

“Kami tidak sempat melihat kru kapal, karena kami buru-buru menyelamatkan diri,”katanya lagi. (IBN)

Tinggalkan Balasan