Pemudi Toraja, yang berhimpun dalam wadah Ikatan Pemuda Toraja Manokwari (IPTM), mementaskan tarian tradisonal Ma’Gellu’ beberapa waktu lalu di Ransiki, Manokwari Selatan. (Foto: Patrix/ Cahaya Papua).

Perantau Toraja Mulai Berkumpul di Manokwari

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com—– Kota Manokwari akan menjadi pusat perayaan ulang tahun organisasi kemasyarakatan Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Papua Barat ke-7 dan peringatan 102 tahun masuknya Injil di Toraja. Selain menggalang persatuan para perantau Toraja, kegiatan ini merupakan media refleksi atas jasa dan benih iman yang disemai misionaris asal Belanda, Aris van de Loosdrecht, seorang martir pekabaran injil di Jantung Pulau Sulawesi.

Oleh: Patrix Barumbun Tandirerung

KEGIATAN yang rencananya dibuka besok ini diikuti ribuan warga Toraja dari berbagai daerah di Papua Barat.
“Kegiatan ini dimaksud untuk memperkuat persaudaraan warga IKT se- Papua Barat. Selain itu, perayaan adalah ungkapan rasa syukur umat kristiani di Toraja terhadap peristiwa pekabaran injil di Toraja 102 tahun silam. Masuknya injil melahirkan banyak perubahan di kampung halaman,” ucap ketua IKT Papua Barat, Stepanus Selang kepada wartawan dalam konferensi pers di sekretariat panitia, komplek BLK Manokwari, kemarin.
Menurut agenda panitia, kegiatan akan dimeriahkan oleh berbagai lomba olahraga dan seni budaya. Pesertanya adalah utusan dari pengurus IKT Kabupaten/kota se-Papua Barat serta kontingen dari seluruh rayon IKT se-Manokwari.
Cabang olahraga yang dilombakan mencakup olahraga prestasi dan rekreatif diantaranya, sepak takraw, futsal, tarik tambang, domino, jalan bakeak, catur dan lainnya.
Sementara pada aspek seni budaya, dilombakan paduan suara, vocal group, membaca alkitab berbahasa Toraja (sura’ madatu), pagelaran tari-tarian dan fashion show etnik serta beberapa kegiatan lainnya.
Pembukaan kegiatan dan lomba olahraga akan dipusatkan di komplek BLK Manokwari. Sementara lomba dan pagelaran seni budaya dan ibadah raya dipusatkan di Gedung Wanita, Sanggeng.
Ketua Panitia Kornelius Mangalik mengatakan, hingga kemarin, kontingen dari luar Manokwari yang sudah hadir adalah dari Kabupaten Teluk Wondama.
“Dari luar Manokwari sudah terkonfirmasi sekitar 800-an orang yang akan tiba di Manokwari. Beberapa kontingen dalam perjalanan. Sementara dari Manokwari diperkirakan paling sedikit hadir 2000-an orang,” katanya.
Berdasar pantauan, panitia dan ratusan warga Toraja kemarin sudah berjibaku membangun tenda dan membersihkan lokasi kegiatan. Sejumlah umbul-umbul juga dipasang untuk menyemarakkan kawasan BLK.
Kontingen dari Teluk Wondama yang tiba kemarin subuh terlihat sudah menempati gedung yang disiapkan panitia.
“Kami berharap seluruh warga Toraja di Manokwari hadir saat acara pembukaan,” kata Kornelius.

Sejarah Pekabaran Injil
Agama Kristen mulai masuk di Toraja pada tanggal 16 Maret, seratus tahun yang lalu. Ditandai dengan dibaptisnya 20 orang warga Toraja oleh Pdt. Jonathan Kelling dari Indische Kerk (Gereja Protestan Hindia), seorang pendeta yang saat itu bertugas diBantaeng, selatan kota Makassar.
Setelah pembaptisan pertama, agama Kristen mulai berkembang didaerah ini, apalagi setelah dibukanya Pusat Pelayanan Resort Makale. Tempat tersebut pada jamannya, digunakan sebagai poliklinik, asrama pendidikan, tempat ibadah dan sekaligus sebagai tempat tinggal Dirk Cornelis Prins bersama keluarga.
Pusat Pelayanan yang terletak di Buisun Burake itu mulai digunakan pada tahun 1917. Sayang tiga tahun kemudian, saat DC Prins bersama keluarganya pulang kekampung halamannya tempat tersebut dibakar oleh masyarakat. Namun oleh warga gereja, tempat tersebut dianggap sebagai Gereja pertama di Toraja. Sebuah monumen Pekabaran Injil telah dibangun di tempat ini.
Sejatinya, beberapa tahun sebelum pembabtisan itu, Pdt. Aris van de Loosdrecht, dari Belanda dan istrinya Alida telah melakukan penginjilan. Mereka adalah misionaris pertama yang menginjakkan kakinya di bumi Toraja. Bahkan dapat dikatakan “benih” pelayanan merekalah yang membuat Gereja Toraja dapat berdiri dan berkembang sampai sekarang.
Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht menikah pada 7 Agustus 1913. Kemudian mereka berangkat untuk memberitakan Injil ke Toraja pada tanggal 5 September 1913.
Toraja kala itu merupakan daerah yang sangat terpencil di jantung pulau Sulawesi. Aris dan Ida (demikian panggilan mereka) tinggal di daerah Poso selama awal tahun 1914, di desa Tentena, sekitar 2000 Km timur laut Rantepao. Sebelum berangkat ke Rantepao, mereka dibantu oleh seorang penerjemah Alkitab N. Adriani, untuk menyesuaikan diri dan mengenal bahasa Toraja.
Upaya Aris dan istrinya bukan tak menemui kendala dan penolakan. Adat istiadat yang bertolak belakang dengan keyakinan kristiani masih sangat kental. Belum lagi, secara historis kala itu terjadi perlawanan masyarakat adat Toraja terhadap pemerintah kolonial.
Upaya dan sejumlah tantangan serta setting sejarah itulah yang pada gilirannya membuat Aris meninggal pada tanggal 26 juli 1917 di Bori’, Toraja Utara. Peristiwa tersebut bermula ketika Aris berangkat ke beberapa wilayah kerjanya, yaitu Nanggala, kemudian ke Balusu lalu mengakhiri perjalanannya di Bori’. Entah mengapa rencananya ini diubah, ia tidak berangkat ke Nanggala dulu, tetapi ia berangkat ke Bori’.
Kira-kira jam empat sore ia berangkat ke Bori’ dan tiba di sana sekitar jam lima sore. Setelah mandi di kali belakang rumah guru sekolah, ia kemudian duduk-duduk di beranda rumah guru bersama dengan guru sekolah di Bori’. Mereka mendiskusikan beberapa cerita-cerita Alkitab yang akan diterjemahkan kedalam bahasa Toraja.
Ketika hari mulai gelap, tiba-tiba seseorang yang wajahnya telah dilumuri dengan arang sehingga menjadi sangat hitam dan sulit untuk dikenali, melompat ke beranda rumah tersebut. Tidak lama kemudian ia menghujamkan tombaknya ke dada Aris. Aris terjatuh dari atas kursi sementara pelakunya melarikan diri
Saat terluka parah, salah seorang murid bermaksud memanggil istri Aris di Barana’, namun Aris melarangnya.
“Tidak usah! Sebentar lagi saya akan mati, sampaikan salam saya kepada istri yang sangat saya cintai dan juga anak-anak saya, sekarang tinggalkan saya sendiri. Saya ingin berdoa,” jawab Aris. Dalam keadaan berdoa inilah Aris menghembuskan nafas terakhirnya sebagai martir bagi keyakinannya.
Berkembang selama 1 abad lebih, agama Kristen yang dianut oleh mayoritas warga suku Toraja bagaimanapun ikut berperan dalam membentuk dan mengembangkan identitas Ketorajaan.
Diikat oleh kekerabatan, tradisi, adat istiadat dan akar sejarah yang sama, umat kristiani menghidupi kekristenan dan ketorajaannya berdampingan dengan warga suku Toraja lainnya yang secara turun temurun menganut agama Islam dan Alukta/aluk Todolo, keyakinan tradisional Orang Toraja.
Dari waktu ke waktu interaksi antara warga Toraja dari berbagai latar belakang keyakinan ini ikut serta membentuk dan mengembangkan identitas ketorajaan menjadi jauh lebih dinamis, toleran, inklusif dan saling menghargai. Warga Toraja menegaskannya persatuan itu dalam semboyan “misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate” serta “sangkutu’ banne sangbuke amboran”. (*)