Hiu paus (Rhincodon typus)-Teluk Triton, Kaimana

Perlu Wadah untuk Nikmati Wisata Hiu Paus

KAIMANA, Cahayapapua.com–– Hiu Paus Erana merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Kaimana yang saat ini mulai diminati pengunjung. Letaknya yang berada di wilayah perlintasan Teluk Triton, membuat tempat ini mudah disinggahi. Namun sayang hiu paus di lokasi ini hanya bisa dipandangi dari balik bagan milik nelayan.

Masyarakat berharap pemerintah daerah menyediakan wadah khusus seperti bagan atau sejenisnya agar pengunjung bisa lebih leluasa berwisata hiu paus. Bahkan selain hiu paus, ada pula mamalia laut lainnya yang acap kali muncul di permukaan laut seputar Erana dan Triton yakni lumba-lumba.

“Kedepan lokasi ini pasti akan ramai dikunjungi. Dan ini peluang bagi Kaimana untuk mengembangkan sektor pariwisata dan meningkatkan PAD. Supaya pengelolaannya baik dan tertib, pemerintah bisa sediakan wadah khusus bagi para pengunjung, setelah itu berlakukan tarif retribusi,” usul warga.

Untuk diketahui, perairan Erana, Triton dan sekitarnya merupakan tempat migrasi hius paus di wilayab perairan Kaimana. Belakangan, wilayah ini menjadi magnet bagi pengunjung karena mamalia jenis ini sulit dijumpai. Berdasarkan penelitian Conservation International, jumlah hiu paus yang biasa melintas di wilayah perairan Erana, Triton dan sekitarnya sebanyak 8 ekor.

Ukuran hiu paus bervariasi dengan panjang berkisar 6 hingga 12 meter. Mereka bermain tak jauh dari bagan ikan milik nelayan. Pada waktu tertentu, apalagi ketika pemilik bagan menjatuhkan ikan kecil ke laut, mamalia ini akan bermunculan untuk memangsanya.

Cara ini yang kemudian digunakan para pemilik bagan untuk menarik perhatian pengunjung. Banyak pengunjung memanfaatkan momen kemunculannya untuk keperluan fotografi. Bahkan ada pula pengunjung yang melakukan tindakan berlebihan dengan turun ke laut untuk memeluk dan berfoto bersama.

Memeluk dan berfoto bersama hiu paus memang sesuatu yang istimewa. Namun perlu diketahui bahwa hiu paus merupakan mamalia yang sangat sensitiv. Bila terus disentuh, apalagi terkena senggolan benda keras atau tergores jaring maka hiu paus secara perlahan akan mengalami sakit lalu mati.

Pemerintah Indonesia bahkan telah menerbitkan keputusan untuk melindungi hius paus, melalui keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 18/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Hiu Paus (Rhincodon typus). Siapa pun yang berkunjung wajib mentaati kode etik (Code of conduct) wisata hiu paus yang sudah ditetapkan.

Salah satu unsur yang harus dipatuhi saat berwisata hiu paus adalah berenang pada jarak minimal empat hingga lima meter dari tubuh hiu paus, tidak bersuara keras dan tidak memotret menggunakan cahaya. Selain itu, menyentuh atau menunggangi hiu paus juga beresiko terkena kibasan ekornya, dan sisik plakoid dari hiu paus yang bertekstur tajam bisa melukai tubuh wisatawan. (ISA)

2 comments

  1. sukses untuk kaimana… 🙂

Tinggalkan Balasan