Pabrik semen milik PT SIDC Papua Cement Indonesia atau PT SPCI di Kampung Maruni, Distrik Manokwari Selatan, Papua Barat.

Permasalahan Tanah Kendala Utama Investasi di Papua Barat

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com – Pengelolaan potensi sumber daya alam di wilayah Papua Barat membutuhkan perencanaan yang baik serta selaras dengan kearifan lokal.

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Nathaniel Mandacan usai membuka kegiatan dialog investasi dan bedah kasus permasalahan investasi se-Papua Barat, Rabu (30/9/2015).

Nataniel mengatakan, perencanaan dan penyesuaian terhadap kearifan lokal harus dikedepankan, agar aktivitas investasi di wilayah ini berjalan baik, terutama investasi yang dilakukan oleh investor asing.”Kendala utama investasi di Papua Barat adalah menyangkut persoalan tanah,”katanya.

Menurutnya, persoalan tanah sangat erat dengan budaya masyarakat, sebab masyarakat adat memaknai tanah sebagai ibu yang memberi penghidupan bagi mereka.
Melalui kegiatan yang dilaksanakan kemarin, pemerintah provinsi berupaya mendalami masalah investasi di daerah ini. Ia berharap dialog itu dapat melahirkan solusi yang berarti serta diaplikasikan untuk menyelesaikan persoalan investasi, terutama terkait hak ulayat masyarakat.

“Masyarakat sering mempermasalahkan tanah, tetapi kita tidak tahu nilai-nilai adat yang melekat di masyarakat. Nilai-nilai itu yang mesti digali oleh pemerintah sehingga penyelesaiannya tuntas tanpa menghambat investasi,” ujarnya.

Dia berpadangan, pola pendekatan yang tepat, harus mengikuti nilai-nilai kearifan lokal. Misalnya, dengan membangun kesepakatan bersama masyarakat untuk pembebasan areal yang akan diekploitasi sumber daya alamnya.

Pertemuan adat atau yang dikenal dengan ‘gelar tikar adat’ harus dilakukan bersama, antara pemerintah, investor dan masyarakat pemilik hak ulayat, yang tidak terbatas pada pemuka masyarakat atau kepala suku.

Nataniel mencontohkan, Investasi pabrik Semen Maruni senilai Rp 4 triliun oleh PT SIDC Papua Cement Indonesia atau PT SPCI di Kampung Maruni, Distrik Manokwari Selatan.

Investasi yang dikelola oleh investor asal China itu semestinya sudah dapat melakukan proses produksi tahun ini. Namun karena tersandung persoalan lahan sehingga target itu tidak tercapai.

Gubernur Papua Barat, Abraham O Atururi dalam sambutan tertulis yang dibacakan, Nathaniel mengatakan, masalah lahan, terjadi secara merata di Papua Barat.
Papua Barat, kata Gubernur, memiliki berbagai potensi sumber daya alam. Hal ini membuka peluang investasi yang sangat menjanjikan. Hingga kini, sebagian besar potensi tersebut belum dikelola.

“Pemerintah daerah harus menciptakan iklim investasi yang kondusif, administrasi perijinan, kepastian hukum serta rasa aman bagi investor, termasuk memfasilitasi penyelesaian masalah yang dihadapi investor,” kata gubernur. |RASYID FATAHUDDIN