Kampung Demaisi, Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat. | CAHAYAPAPUA.com | Duma Tato Sanda

Perubahan Kawasan Ancam Cagar Alam Pegunungan Arfak

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Rencana kebijakan Pemprov Papua Barat mengenai alih fungsi kawasan dikuatirkan menghambat bahkan mengancam realisasi visi pembangunan berwawasan lingkungan yang dicanangkan pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf).

Disebut ancaman sebab Pemprov pernah mengusulkan perubahan 82.593 hektar kawasan cagar alam Pegunungan Arfak menjadi areal penggunaan lain dalam revisi rencana tata ruang wilayah provinsi.

Rencana ini juga bertentangan dengan kehendak Pemprov untuk mewujudkan Papua Barat sebagai provinsi konservasi. Sejauh ini belum jelas apakah revisi RTRW itu sudah disahkan menjadi RTRW. Namun kalangan pegiat lingkungan curiga usulan revisi itu sudah disahkan. Pemprov diminta terbuka soal masalah ini.

Direktur Jaringan Advokasi Sosial dan Lingkungan (Jasoil) Tanah Papua, Pietsau Amafnini seperti dikutip mongabay.co.id mengatakan rencana perubahan kawasan di taman nasional menjadi APL akan mengancam masyarakat adat, kekayaan hutan lain termasuk satwa endemik di Pegunungan Arfak.

Kawasan cagar alam ini diperkirakan memiliki 110 spesies mamalia, 320 jenis burung,  lima merupakan  satwa endemik  seperti  cenderawasih  Arfak  (Astrapia  nigra),  parotia barat (Parotia sefilata), dan namdur polos (Amblyornis inornatus), termasuk 350 jenis kupu-kupu.

Sementara itu Pemkab Pegaf belakangan mulai aktif mengkampanyekan perlindungan hutan dan satwa endemik. Salah satunya adalah dengan melarang warga menggangu habitat dan sarang burung pintar di kawasan Mbenti, Minyambouw.

Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Negeri Papua, Prof. Charlie Heatubun menyarankan agar pemerintah lebih mengedepankan investasi di sektor jasa lingkungan, pertanian berkelanjutan dan lainnya yang tak menambah resiko bencana. DUMA TATO SANDA

EDITOR: PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

Tinggalkan Balasan