Penghormatan terakhir kepada alm Elia Waran sebelum diantar ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Oransbari.
Penghormatan terakhir kepada alm Elia Waran sebelum diantar ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Oransbari.

Ini Pesan (Alm) Elia Waran untuk Masyarakat Mansel

Elia Waran, Kepala Suku Besar Hatam Manokwari Selatan

Elia Waran, Kepala Suku Besar Hatam Manokwari Selatan

“Atas tanah-tanah yang sudah dibebaskan oleh para leluhur terdahulu kepada pihak manapun, agar tidak lagi diganggu gugat. Ini salah satu pesan terakhir almarhum Elia Waran, Kepala Suku Besar Hatam Manokwari Selatan kepada sanak keluarga dan seluruh pemilik hak ulayat di Manokwari Selatan, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya, Jumat lalu.

“Biarlah tanah-tanah yang ada bisa membawa berkat dan hidup bagi semua warga yang mendiami tanah Oransbari ini, ungkap Pengurus Dewan Adat Suku Kabupaten Mansel Bernard Insyur, mengulang pesan-pesan terakhir almarhum saat prosesi pemakaman berlangsung.

Ia juga berpesan kepada pemerintah daerah agar tidak membeda-bedakan suku dalam menjalankan tugas pelayanan di daerah tersebut. “Semua orang yang datang ke daerah ini memiliki hak untuk hidup, saya minta supaya mereka juga diperhatikan,”  jelas Bernard Insyur mengutip pesan almarhum.

Bernard Insyur yang didampingi Ketua Dewan Adat Yusuf Kawei serta Kepala Suku Hatam Wilayah 1 Manokwari Selatan Bernard Mandacan saat menyampaikan pesan-pesan terakhir almarhum juga menyampaikan bahwa sebelum almarhum menutup mata, ia juga berpesan kepada bupati yang adalah bagian dari keluarga besar suku Hatam agar terus membimbing masyaraat asli Mansel secara khusus dan masyarakat asli Arfak dan Papua secara umum untuk selalu berbenah diri, berjuang memperbaiki dan mengejar ketertinggalan.

Suatu saat masyarakat asli Papua, masyarakat asli Arfak, dan masyarakat Manokwari Selatan akan lebih baik dari sekarang.

Khusus kepada suku besar Hatam, almarhum juga berbesan agar selalu berkomunikasi dengan baik antara satu dengan yang lainnya agar kekeluargaan di dalam suku besar tersebut selalu berjalan dengan harmonis.

Hal ini disampaikan mengingat almarhum Elia Waran juga meninggalkan jabatannya sebagai kepala suku, yang mana seseorang harus diangkat untuk menggantikannya. Ia berharap pengangkatan kepala suku berikutnya tidak menimbulkan keributan di dalam keluarga.

“Almarhum meminta supaya hal ini dibicarakan dengan baik antara keluarga,” tambah Bernard menegaskan bahwa Dewan Adat Suku pada prinsipnya akan menunggu kesiapan dari keluarga untuk melakukan prosesi pengangkatan kepala suku berikutnya.

Elia Waran menutup usainya yang 65 tahun 6 bulan dan 21 hari. Lahir di Oransbari pada tanggal 7 April 1951 sebagai anak ke-5 dari 5 bersaudara dari pasangan suami istri almarhum Saulus Waran dan Almarhuma Mirina Waran.

(Alm) Elia Waran menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 28 Oktober 2016 di rumah kediaman Oransbari pantai dan meninggalkan 2 orang istri 6 orang anak dan 5 orang cucu.

Sesuai catatan hidupnya Elia Waran menamatkan pendidikan dasarnya di SD YPK Oransbari, dan menyelesaikan pendidikan SMPnya di SMPD Negeri Persiapan Ransiki. Dan akhirnya mengikuti ujian persamaan paket C di Manokwari.

Selain pendidikan formal, mantan Kepala Desa Oransbari tahun 1974  sampai tahun 1990 ini juga tercatat pernah mengikuti berbagai jenis pendidikan non formal, di antaranya  kursus cepat pamong desa (Suspatda) angkatan 1 di Kabupaten Manokwari pada tahun 1977, Diklat Khusus Petugas Sensus Penduduk di Kabupaten Manokwari tahun 1980, kursus petugas sensus barang daerah Kabupaten Manokwari di Ransiki tahun 1984. Penataran P-4 pola pendukung 17 jam di Kabupaten Manokwari tahun 1985. Fasilitator permainan simulasi P-4 Kabupaten Manokwari tahun 1988. Penataran lembaga musyawara desa Provinsi Irian jaya di Jayapura tahun 1990 dan yang terakhir bimbingan teknis peningkatan kapasitas pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Manokwari Selatan pada tahun 2016.

Demikian, almarhum meninggalkan jabatannya sebagai kepala suku besar Hatam Manokwari Selatan, Kepala Suku besar Distrik Oransbari, Ketua Lembaga Musyawara Adat Distrik Oransbari dan anggota DPRD Kabupaten Manokwari Selatan, dimana almarhum tercatat sebagai Wakil Ketua Komisi A, Wakil Ketua Badan Kehormatan, Anggota Badan Musyawara dan anggota Fraksi Nusantara DPRD Manokwari Selatan.

Sebelumnya almarhum pernah menjabat sebagai kepala Desa Oransbari dari tahun 1974 sampai dengan tahun 1990 serta sebagai badan pekerja Harian Majelis Jemaat GKI Maranata Oransbari dengan jabatan penatua periode 1999 hingga  tahun 2003.

Almarhum juga tercatat memiliki pengalaman berorganisasi dibidang politik, yakni sebagai pengurus Partai Golkar Kecamatan Oransbari dari tahun 1985 sampai dengan 1995, dan akhirnya bergabung dengan partai PKPI pada tahun 2014 kemudian mengantar dirinya ke kursi anggota dewan Manokwari Selatan, yang dilantik pada 31 Desember 2014 bersama dengan 18 anggota dewan lainnya.

Catatan perjalanan almarhum tidak hanya sampai disitu, perjalanan hidup yang tidak tercatat juga diungkapkan berbagai pihak di Kabupaten Manokwari Selatan, sesuai penelusuran media, almarhum dikenal sebagai sosok yang tidak banyak bicara, namun dalam bertindak ia selalu melihat secara universal.

Sesekali mengeluarkan pendapat akan sulit untuk dibantah dan disangkal manfaatnya oleh orang banyak. Hal ini membawa dirinya sebagai sosok yang tidak terbantahkan apabila mengeluarkan pendapat.

“Pendapatnya selalu tepat arif dan bijaksana, meski tidak terlalu banyak berbicara, namun sekali mengeluarkan pendapat, baik pada situasi yang aman maupun lagi tegang. Semua yang mendengarkan akan menurutinya dengan segera,” ungkap Kepala Suku Besar Biak Distrik Oransbari Marten Mansumber kepada wartawan.

Berkat keberaniannya membebaskan sejumlah lahan dengan tujuan pembukaan kampung dan untuk tujuan pembangunan, Elia Waran bagi warga Oransbari dikenal sebagai seorang bapak pembangunan bagi daerah Oransbari.

Mengikuti jejak leluhurnya Bastian Waran, berbagai luasan tanah juga dibebaskan untuk kepentingan pembangunan gedung peribadatan baik itu untuk umat Kristiani maupun bagi umat Muslim.

Ketua BPKRMI Distrik Oransbari Ahmad Amir mengungkap, tidak ada satupun lahan yang dibebaskan oleh almarhum untuk membangun fasilitas umum dibarengi dengan penggantian uang, semua diberikan secara gratis.

“Tidak hanya kawasannya, dalam proses pembangunan juga kadang disisakan bahan seperti kayu,” tambahnya.

Badan Pekerja Gereja, Jemaat Maranata Oransbari Pantai Pdt Yosepina Mandacan saat  memimpin ibadah penguburan mengungkap bahwa dilingkungan gereja Elia dipandang sebagai panutan bagi semua jemaat, perempuan pertama dari Suku Arfak yang bergelar pendeta ini mengungkap bahwa almarhum selalu mendukung kesuksesan setiap kegiatan keagamaan, baik dalam bentuk arahan maupun dalam bentuk finansial.

Pengakuan atas kepribadian Sosok Elia Waran juga diungkap Kepala Suku Jawa Distrik Oransbari Tatang. Kepada media Tatang menyampaikan bahwa selama hidup mereka tidak perna mendapat perlakuan sebagai suku pendatang dari almarhum.

Tatang mengungkap bahwa tata krama yang ditunjukkan oleh sosok almarhum Elia Waran melebihi kelembutan yang melekat pada diri masyarakat Jawa sendiri.

“Beliau adalah orang yang sangat santun, tata krama yang dimilikinya bahkan melebihi kami orang Jawa yang sudah dikenal sebagai masyarakat yang lembut,” jelas Tatang.

Didalam Organisasi Kesukuan badan Pengurus Dewan Adat Suku Kabupaten Manokwari Selatan Bernard Insyur juga mengakui, didalam diskusi-diskusi yang dilakukan oleh badan pengurus DAS. Almarhum adalah orang yang tidak pernah berpikir sepihak, pikirannya hanya satu yaitu masyarakat, tanpa membedakan suku, ras dan agama. “Mendapat sesoarang yang sama persis di daerah ini adalah hal yang cukup sulit,” katanya.

Dilingkungan kerja sebagai anggota DPR, Elia Waran juga memperagakan hal yang sama, sejumlah anggota DPR saat menyampaikan kesan-kesannya pada acara pemakaman sangat mengaguminya.

Untuk membangun komunikasi yang lebih baik Elia Waran selalu menerapkan pola kekeluargaan, meski memikul jabatan yang sama, almarhum selalu menyapa anggota DPR lainnya dengan sapaan anak. Kesan tersebut yang paling dikenang oleh sejumlah anggota dewan Mansel.

“Panggilan hanya satu, yaitu anak. Meskipun didalam setiap rapat kadang agak memanas, namun sapaan dari seoarng Elia Waran selalu mencerahkan suasana, bukan hanya karena almarhum memanggil kami anak, namun arahan yang disampaikannya secara spontan kami mengikutinya, karena sebelumnya beliau sudah memperagakannya didalam kehidupan sehari-hari,” kata Heni Pocerattu, politisi asal Partai Demokrat.

Mansel dan khusunya Distrik Oransbari merasa berduka, sepeninggal almarhum Elia Waran. Secara spontan hampir semua rumah yang ada di distrik ini kosong bahkan pada hari meninggalnya kios-kios yang ada di wilayah  Oransbari tidak ada yang buka, tidak ada satupun keluarga yang tidak berkunjung ke rumah duka sejak saat meninggalnya hingga pada acara penguburan.

Khusus pada prosesi pemakanan semua kepala suku baik dari suku nusantara maupun dari suku asli turut hadir mengantar  almarhum ke tempat peristirahatan terakhir yang terletak di tempat pemakaman umum (TPU) Oransbari. Selama jalan bapak, sosokmu akan selalu kami kenang. (SUTANTO)

Tinggalkan Balasan