Petani Kilo 8 Jalan Tanggaromi, Kaimana, usai panen raya ubi jalar.

Petani Kaimana Panen Ubi Jalar Diatas Lahan Seluas 50 Hektar

KAIMANA, CAHAYAPAPUA.com–– Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kaimana kembali sukses mengawal program Pemerintah Pusat melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT).

Senin (1/8), diwakili Plh Sekda Martinus Furima bersama perwakilan TNI dan Polri, masyarakat petani, serta tamu undangan melakukan panen perdana ubi jalar varietas sari diatas lahan seluas 50 Hektar di Kebun Warga Kilometer 8 Jalan Tanggaromi.

Kepala Bidang Pertanian dan Holtikultura pada Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kaimana Obaja Womsiwor dalam laporannya mengatakan, pengembangan ubi jalar merupakan program pemerintah pusat melalui Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI Tahun 2016.

Pengembangan ubi jalar ini lanjutnya, menggunakan dana sebesar Rp.177.000.000 yang bersumber dari APBN. Dana langsung dialokasikan ke rekening kelompok tani dan pihak hanya melakukan pendampingan.

“Luas lahan pengembangannya 50 hektar milik kelompok tani Talawa yang terpencar di beberapa titik. Kelompok Tani Talawa ini sendiri berjumlah 50 orang. Kami berharap pengembangan ubi jalar di Kabupaten Kaimana berjalan baik dan berkelanjutan,” ujarnya.

Kesempatan yang sama Plh. Sekda yang juga Asisten II Setkab Kaimana, Martinus Furima mewakili Pemerintah Daerah menyampaikan apresiasi kepada Kelompok Tani Talawa yang sukses mengembangkan ubi jalar. Ia berharap, ubi jalar yang dihasilkan bisa membawa manfaat bagi peningkatan ekonomi rumah tangga. Menurutnya, ubi jalar sangat familiar dengan petani di Kilo 8. Olehnya ia berharap, sukses yang ditunjukkan Kelompok Tani Talawa dalam mengembangkan ubi jalar, harus menjadi embrio untuk kelompok tani lainnya.

Lebih jauh Furima mengatakan, pengembangan ubi jalar dengan sistim demplot sangat tepat dalam rangka mempercepat proses produksi. Disisi lain, Furima mengakui, kehadiran program beras Raskin telah menggeser posisi pangan lokal yang dulunya menjadi makanan pokok masyarakat. Selain itu kata Furima, pemberlakuan otonomi khusus (Otsus) juga ikut menggeser karakteristik masyarakat yang dulunya aktif bekerja sebagai petani, menjadi masyarakat yang dimanjakan oleh berbagai bantuan. Kedepan pendampingan kepada masyarakat petani harus dihidupkan kembali.

“Dinas harus tata kembali semua petugas lapangan. Mantri tani harus dihidupkan kembali. Kebun-kebun dinas di setiap distrik harus dibuka lagi. Petugas penyuluh lapangan wajib berada di lapangan baik yang berstatus PNS maupun tenaga kontrak. Penyuluh harus hadir mendampingi semua kelompok tani. Mewakili Pemerintah Daerah Kami memberikan apresiasi kepada kelompok tani Talawa yang telah sukses mengembangkan ubi jalar. Pengembangan dengan sistim demplot sangat baik guna meningkatkan hasil produksi,” tukasnya. (ISA)

Tinggalkan Balasan