Petani Pegunungan Arfak menurunkan jualannya di pasar Wosi Manokwari. | CAHAYAPAPUA.com /TOYIBAN

Petani Pegunungan Arfak Didera Sejumlah Persoalan

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com—– Tantangan berat harus dihadapi untuk mengembangkan pertanian di Kabupaten Pegunungan Arfak. Selain kondisi geografis yang bertopografi pegunungan, aksesibilitas transportasi antar kampung serta kemampuan menejerial para petani selama ini masih menjadi hambatan berat.

Direktur Perdu, Mujianto mengatakan, pemerintah daerah harus menjadikan sektor Pertanian sebagai prioritas pembangunan, supaya pengembangan pertanian memperoleh perhatian yang cukup dalam kerangka pembangunan daerah maupun nasional.

Menurutnya, saat ini pertanian sistem tradisional yang dilakukan masyarakat Pegunungan Arfak sudah maju. Intensitas pemasaran yang dilakukan Petani dari Pegunungan Arfak ke Manokwari sudah lebih tinggi sejak kendaraan roda empat bisa menembus kabupaten tersebut. Namun demikian hal itu belum mampu mendongkrak kesejahteraan mereka.

“Sebab ongkos yang mereka keluarkan cukup besar, saat produksi maupun saat mereka harus menjualnya ke Manokwari. Disisi lain alat transportasi yang selama ini naik turun ke Pegunungan Arfak tidak mampu mengangkut hasil panen warga dalam kapasitas yang besar,”kata Muji.

Akibatnya tak jarang, uang yang diperoleh petani dari hasil penjualan hanya mampu menutupi biaya transportasi dan biaya hidup selama mereka di Manokwari. Terkait persoalan ini, pemerintah diminta menyiapkan kendaraan khusus yang dapat dimanfaatkan petani untuk memasarkan produksi pertanian mereka ke Manokwari. Kendaraan ini harus memiliki kapasitas muatan lebih besar dengan harga lebih yang lebih terjangkau.

Muji pun mengungkap, selama ini belum ada pasar di Pegunungan Arfak yang dapat dimanfaatkan petani untuk memasarkan hasil pertanian mereka. Seandainya pun ada, pasar tersebut tak dapat memberi solusi lebih bagi masyarakat. Sebab sebagian besar warga di kabupaten ini berprofesi sama. “Jalan satu-satunya bagi warga Pegunungan Arfak, ya harus menjualnya ke Manokwari. Sebab mereka sadar banyak pembeli di Manokwari,” katanya.

Muji juga mengungkap, selama ini belum ada pengempul atau agen yang mendatangi petani untuk membeli hasil panen mereka. Menurutnya para pengepul enggan membeli langsung hasil pertanian dari Petani karena para petani mematok dengan harga yang sama antara harga di pasar dengan harga di petani.

Muji menilai masyarakat belum memiliki kemampunan menejerial penjualan yang baik dalam hal pemasaran. “Selama ini mereka mengambil peran ganda, selain bertani mereka pun menjual sendiri hasil pertanian mereka. Sayangnya hal itu tidak dilakukan dengan perhitungan yang matang,”Imbuh Muji.

Dari sisi kualitas lanjut Muji, hasil produksi para petani Pegunungan Arfak cukup bagus, bahkan sayuran hasil panen mereka lebih baik dibanding sayuran yang didatangkan dari luar Papua Barat. Secara kuantitas, hasil panen petani Arfak ini pun  mampu memenuhi dua pasar tradisional di Manokwari.

Perlu upaya bersama agar produksi pertanian di Pegunungan Arfak dapat dikembangkan kepada sistem komersil yang lebih luas.  Perlu ada kebijakan yang dioriansikan pada peningkatan kapasitas petani serta akses pasar yang lebih luas.

“Dulu hasil pertanian warga hanya dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga, saat ini petani sudah mulai melakukan sistem komersil, meski belum sepenuhnya berorientasi pasar. Kedepan hasil pertanian warga ini harus bisa di ekspor bukan hanya ke Manokwari, ini harus menjadi cita-cita pemerintah daerah,”kata Muji.

Perlu skema yang dapat dimanfaatkan petani untuk memperoleh modal. Selain itu pemerintah pun harus menyiapkan Skema untuk memperluas pasar agar hasil pertanian warga mampu menembus daerah lain.

Pegunungan Arfak, lanjut Muji bisa dirancang menjadi daerah penghasil sayur terbesar di Papua Barat, terutama jenis sayur dataran tinggi. Kabupaten ini pun bisa dirancang menjadi destinasi Agrowisata sayuran.”Jika hal ini dilakukan dengan perencanaan dan konsep yang baik tentu bukan hal yang susah. Apalagi di Pegunungan Arfak masih memilik obyek wisata lain seperti danau dan satwa liar,”imbuhnya

Pendampingan harus dilakukan terhadap petani, dari proses produksi hingga pemasaran. Penyuluhan menurut Muji belum cukup bagi petani. Sebab petani bukan hanya membutuhkan cara yang tepat dalam produksi, mereka pun membutuhkan kemampuan untuk mengatur keuangan serta penjualan hasil panen mereka.

“Upaya pengembangan pertanian di Kabupaten Pegunungan Arfak harus ditata secara terintegrasi mumpung masih diawal pemerintahan. Sehingga pemerintahan Pegunungan Arfak berikutnya dapat melanjutkan dengan baik,”katanya.

Seperti diketahui, Perdu sudah puluhan tahun melakukan pendampingan di pertanian di wilayah Pegunungan Arfak, tepatnya di Distrik Menyambauw. Menurut Muji cukup banyak jenis tanaman sayur dikembangkan di wilayah ini. Terutama jenis sayur dataran tinggi, begitu pun untuk buah-buahan. | TOYIBAN