: Aksi pendukung Andika – Flora menuntut pemungutan suara ulang Pilkada Teluk Wondama

PILKADA WONDAMA: Pendukung Andika – Flora Tuntut Pemungutan Suara Ulang

WONDAMA, CAHAYAPAPUA.com – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Teluk Wondama Andarias Kayukatuy — Flora Rumbekwan (Andika-Flora) menuntut dilakukan pemungutan suara ulang terutama di wilayah Distrik Wasior.

Tim sukses Paslon nomor urut 3 ini mengklaim mendapatkan fakta adanya prosedur yang tidak dijalankan oleh petugas KPPS pada saat proses pencoblosan berlangsung sehingga memungkinkan terjadinya praktik curang yang menguntungkan kandidat tertentu.

Tuntutan agar diadakan pemungutan suara ulang diserukan pada unjuk rasa damai di kantor Panwaslu Teluk Wondama di Iriati, Wasior, Jumat (11/12).

Ratusan massa pendukung ikut serta dalam aksi  tersebut, termasuk kandidat bupati Andarias Kayukatuy. Selain melakukan orasi, pada kesempatan itu, tim sukes Andika-Flora juga mendaftarkan laporan pelanggaran di TPS berikut bukti-bukti pendukung berupa foto maupun dokumen ke Panwaslu. Mereka juga menghadirkan sejumlah saksi untuk memberikan keterangan terkait dugaan kecurangan yang terjadi di TPS.

“Kami tidak protes hasil perolehan suara tapi proses pemungutan suara tidak berjalan dengan baik, itu yang terjadi.  Jadi kami demo hari ini, kami rasa tidak terima proses ini tidak sesuai dengan PKPU,” ungkap Haji Halik selaku sekretaris tim sukses.

Adapun yang menjadi salah satu sorotan utama adalah keengganan petugas KPPS melakukan pencocokkan nama pemilih sebagaimana tertera dalam surat undangan (model C6 KWK) atau KTP dan atau identitas lainnya dengan daftar nama dalam DPT.

Keharusan melakukan pencocokkan nama, kata Halik, telah diamanatkan dalam PKPU nomor 10 tahun 2015 pasal 15 ayat 6. Hal itu dipertegas lagi dengan surat edaran KPUD Teluk Wondama nomor 458/KPU-TW-0324366662/XII/2015 yang juga diterima oleh masing-masing tim sukses.

Pada poin tiga disebutkan, petugas KPPS nomor 4 dan nomor 5 bertugas menerima model C6 KWK dan KTP, wajib melakukan pencocokan nama yang tertera pada model C6 KWK dan KTP dan salinan DPT yang ada di meja KPPS.“Fakta di lapangan KPPS tidak melakukan ini. Pemilih mereka bawa model C6 langsung masuk begitu saja tanpa ada pencocokkan antara undangan dengan KTP, KK atau identitas lainya. Semua TPS tidak melakukan itu. Sehingga mobilisasi massa itu terbuka terjadi di hampir semua TPS,” ujar Halik.

Menurut Halik, pihaknya mendapatkan indikasi adanya pengerahan massa dengan memanfaatkan keengganan petugas KPPS melakukan pencocokkan nama pada banyak TPS di Distrik Wasior. Namun dia menolak berspekulasi bahwa hal itu merupakan pola yang telah diatur untuk memenangkan pasangan tertentu.

“Ada (kemungkinan) ke situ tapi nanti biar Panwaslu yang buat kesimpulan dan rekomendasikan sesuai keterangan saksi yang kami ajukan. Tapi kalau ada temuan di beberapa TPS, besok itu (hari ini) harus dilakukan pemungutan suara ulang. Kita fokus di Distrik Wasior karena peluang terbesar terjadi permainan seperti mobilisasi massa di situ,“ ucap anggota DPRD dari PDIP ini.

Sementara itu, sampai Jumat petang, Panwaslu belum memberikan keterangan resmi terkait laporan pelanggaran yang diajukan Paslon Andika-Flora. Ketua dan anggota Panwaslu masih sibuk melakukan pemeriksaan barang bukti dan mengambil keterangan para saksi. |ZACK TONU BALA

One comment

  1. menerut sy pilkada sdh berjalan dgn baik tanpa indikasih mani politik sebab disemua TPS di kabupaten teluk wondama ada petugas keamanan yg jaga jdi kemungkinan terjadi kecurangan itu sangat kecil. bagi para kandidat harus menerima hasil yg telah di rekap itu dgn lapan dada n mengajarkan kepada masyarakat untuk berpolitik yg baik n benar sehingga di kemudian hari masyarakat akan mengikuti pesta demokrasi eksekutif maupun legislatif yang bersih tanpa di intimidasi n manipolitik dri Orang2 yg tdk bertanggun jawab.

Tinggalkan Balasan