Dari kanan, Pdt. Benny Giay, Selvia Titihalawa, dan Sokratez Sofyan Yoman (Jubi/ Mawel Benny)

Pimpinan Gereja Tolak Rencana Presiden Natal di Papua

ABEPURA, CAHAYAPAPUA.COM – Forum Kerja Oikumenis Gereja-Gereja Papua tegas menolak rencana kunjungan Presiden Republik Indonesia, Ir.Joko Widodo (Jokowi) untuk bernatalan di Papua tahun ini. Pemimpin gereja menilai rencana natalan itu sangat politis di tengah duka dan penderitaan Rakyat Papua.

”Tidak ada gunanya presiden mengunjungi tanah Papua,” tegas Pendeta Sokratez Sofyan Yoman, Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Babtis Papua (PGBP) dalam jumpa pers Forum Kerja Oikumenis Gereja-Gereja Papua di Padang Bulan, Abepura, kota Jayapura, Papua, Kamis (11/12).

Kunjungan itu, menurut Yoman hanya membuang-buang waktu, energi dan dana yang begitu besar. Dana milyaran hanya untuk pesta pora di atas penderitaan dan duka rakyat seperti para pemimpin negara Indonesia sebelumnya.

Yoman mencontohkan kunjungan presiden Megawati -mantan presiden yang kini menjadi orang dibelakang Jokowi- yang juga pernah berkunjung ke Papua.

“Semasa menjabat presiden, Megawati Soekarno Putri pernah mengunjungi Papua dengan harapan menyelesaikan masalah Papua. Kunjungannya tidak pernah mengahiri kekerasan dan pembunuhan rakyat Papua yang kini jalan terus. Rakyat sipil yang tidak berdosa terus menjadi korban tindakan TNI/POLRI.” kata Yoman.

Kunjungan Jokowi untuk merayakan Natal di Papua ini, menurut Pdt. Benny Giay, Ketua Sinode Kigmi di Tanah Papua, adalah sesuatu yang tidak perlu. Rakyat Papua tidak membutuhkan Jokowi merayakan natal. Rakyat Papua lebih membutuhkan kebijakan afirmatif.

“Kebijakan yang betul-betul menghargai, melindungi dan yang orang Papua bisa ingat manfaatnya,” kata Giay.

Katanya lagi, orang Papua yang menginginkan kehidupan aman dan damai yang harus menjadi perhatian Jokowi. Bukan, Jokowi merencanakan pemekaran provinsi dan transmigrasi yang mengancam keberadaan orang Papua. ”Rencana Jokowi ini tambah menghancurkan kami,” tegas Giay.

Sedangkan Pdt. Selvia Titihalawa, dari Gereja Kristen Injili Papua (GKI) yang mendampingi kedua pemimpin gereja ini dalam konfrensi pers mengatakan penolakan ini harus dipahami konteksnya oleh presiden. Orang Papua sedang berduka untuk lima korban pelajar di Paniai, 8 Desember lalu.

”Datang merayakan natal lalu mengatakan damai itu indah di tengah duka ini bikin sakit. Dan pernyataan ini tidak cocok,” kata Pendeta Titihalawa.

Ketiga pendeta dari tiga denominasi gereja di Tanah Papua ini mengusulkan pemerintah Jokowi memikirkan dan melakukan aktivitas yang bermafaat bagi orang Papua.

“Pemerintah harus mengelar dialog dan meminta maaf kepada rakyat Papua. Sebelum dialog, tidak perlu hal yang tidak penting di Papua,” tegas Yoman.|SUMBER: TABLOIDJUBI.com

Tinggalkan Balasan