Ilustrasi. | Tribun News

Pisang Kaimana Kuasai Pasar Timika

KAIMANA,CAHAYAPAPUA.com—– Pisang merupakan komoditas yang sangat potensial bagi peningkatan ekonomi masyarakat tani di Kabupaten Kaimana. Tidak hanya dikonsumsi untuk kebutuhan lokal, tetapi hasilnya yang melimpah dengan  kualitas yang teruji, sukses merambah pasar Timika.

Pendistribusian pisang ke wilayah ini, berlangsung dua minggu sekali, menggunakan jasa KM Tatamailau. Pantauan lapangan pada kedatangan KM Tatamailau, Senin (26/1/2015), ribuan tandan pisang dengan ukuran dan jenisnya yang bervariasi, diangkut menuju Timika. Pisang ini berasal dari kebun warga di Kampung Tanggaromi, Wamesa, Waho, Kooy dan Marsi, yang dijadikan satu untuk diangkut ke Timika.

Yakob Isoga, koordinator petani pemilik pisang ketika dikonfirmasi sebelum bertolak ke Timika mengatakan, pisang asal Kaimana sangat laku di pasaran Timika karena kualitas dagingnya bagus. Pisang yang Ia didistribusikan, berasal dari Kampung Tanggaromi, Wamesa, Waho, Kooy dan Marsi, yang digabung jadi satu dan dikirim kepada penadah yang ada di Timika. Tiba di Timika, sebagian  didistribusikan ke lokasi perusahaan Freeport, sisanya dijual di pasaran dalam kota.

Kepada penadah di Timika, satu tandan pisang dengan ukuran kecil dijual dengan harga Rp.100.000, sedangkan satu tandan berukuran besar dijual dengan harga Rp.200.000. Selain pisang, pada musim tertentu, pihaknya juga membawa hasil pertanian lainnya. Seperti; mangga, nenas, durian ketika musimnya tiba. Hasil yang diperoleh, cukup memuaskan karena bisa mencapai angka bersih 15 juta hingga 20 juta, tergantung banyak dan sedikitnya komoditas yang diangkut.

“Pisang berasal dari Kampung Tanggaromi, Wamesa, Kooy, Waho dan Sisir. Kami satukan untuk dikirim ke Timika. Sistim distribusinya, dari Wamesa, Kooy, Waho kami muat dengan longboat menuju Tanggaromi. Lalu dari Tanggaromi, kami muat pake truk ke kota dengan ongkos 700 ribu sekali angkut. Kalau dari Sisir, angkut menggunakan taksi, dengan ongkos angkut 200 ribu. Pisang langsung turun di pelabuhan, sambil tunggu kedatangan kapal. Ongkos angkut di kapal 200 ribu per keranjang. Nanti tiba di pelabuhan Timika, kami sewa angkutan lagi menuju kota,” jelas Isoga.

Disinggung tentang kesulitan yang dihadapi selama berbisnis pisang, Yakob Isoga mengatakan, kesulitannya hanya pada waktu pemuatan ke kapal. Pasalnya, kapal yang digunakan untuk mendistribusikan hasil ini merupakan kapal penumpang, sehingga jumlah yang diangkut terbatas, akibat kapasitas penampungan kecil dan jam kapal bersandar juga terbatas. Untuk itu, Ia berharap Pemerintah Daerah dapat membantu, memecahkan persoalan ini, sehingga masyarakat bisa mengangkut hasil pertanian ke luar Kaimana.

“Kesulitanya hanya pada waktu pemuatan. Karena kapalnya kapal penumpang, muatnya sedikit selain karena kapasitas penampungannya terbatas, jam kapal bersandar juga cuma sebentar sehingga banyak yang tidak bisa dinaikkan. Masalah lainnya lagi, kapal masih singgah Tual sehingga sebagian besar barang bawaan rusak di jalan. Kami berharap Pemerintah Daerah bisa melihat persoalan ini, dengan menghadirkan kapal khusus yang bisa membantu masyarakat membawa hasil pertanian keluar daerah. Masih banyak petani yang mau titipkan pisang, tetapi mereka ragu dan takut pisangnya busuk di jalan,” terang Isoga. | ISABELA WISANG

Tinggalkan Balasan