Gedung Rektorat Unipa

Polda tarik pernyataan soal keterlibatan HN dalam kasus pembangunan Rektorat Unipa

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polda Papua Barat, menarik kembali pernyataannya, soal HN yang terlibat dalam dugaan korupsi pembangunan gedung Rektorat Universitas Papua (Unipa) Manokwari.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Barat, AKBP Hary Supriyono Rabu lalu mengatakan bahwa sebelumnya tim penyidik Ditreskrimsus mengatakan, HN ikut terseret karena sebagai pemilik PT Pulau Lemon yang mengerjakan pembangunan gedung Rektorat Unipa.

Namun setelah HN dipanggil secara resmi oleh penyidik untuk dimintai klarifikasi, diketahui HN bukanlah direktur pada perusahaan tersebut sebagaimana nama yang tercantum pada dokumen perusahaan yang mengerjakan proyek itu.

“Setelah HN kita panggil untuk dikalrifikasi, ternyata nama yang di dokumen itu, bukan dia (HN,red) tapi N selaku Direkturnya, jadi bukan HN,” klaim Hari.

Dia pun mengakui, sebelum HN dimintai klarifikasi, penyidik menduga HN adalah Direktur dari PT Pulau Lemon yang mengerjakan proyek tersebut. Namun sekali lagi disebutkan ternyata HN, pada pekerjan proyek Unipa telah mengganti Struktur Perusahaannya dibawah tanggungjawab N, selaku Direktur PT Pulau Lemon melalui Akta Notaris.

“Dan memang dalam proyek ini, awalnya kita kira HN pemilik PT Pulau Lemon, dan setelah kami panggil (HN, red) untuk diklarifikasi, Direkturnya adalah N bukan HN. Dan berdasarkan dokumen yang diperlihatkan, di proyek itu memang dia tidak lagi termasuk dalam struktur perusahaan dan itu telah diubah melalui Akta Notaris,” terangnya.

Hari yang ditanya, kenapa kemudian HN sendiri pernah mengakui kepada awak media, bahwa pembangunan Unipa, mulai dari tahap 1 hingga 5 atau 2011 sampai 2015 pihaknya lah yang mengerjakan. Dijawabnya, penyidik dalam menangani kasus ini hanya berpatokan pada dokumen yang dapat dijadikan sebagai alat bukti.

Meski demikian, disebutkan, karena kasus ini masih dalam tahap lidik, tentu  penyidik akan terus menggali satu persatu keterkaitan antara peran HN dan N dalam perusahaan tersebut. Dan kata dia, pihaknya belum bisa berspekulasi lebih jauh terkait kasus ini.

“Kalau sudah naik ke tahap penyelidikan, pasti kita akan telusuri lebih jauh hubungan HN dan N ini. Rekan-rekan media juga bisa kawal kasus ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, HN kepada awak media mengatakan, terkait dugaan penyimpangan pembangunan Rektorat yang menyeret namanya ini, ia telah melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak yang ada. Dan dia mengaku tak pernah melakukan kesalahan dalam proyek tersebut.

Dan telah diperiksa oleh BPK, setiap rekomendasi dari BPK, ia laksanakan. Dengan mengembalikan kelebihan dana dari pembangunan, di 2013 hingga 2015 mencapai Rp 2 Miliar.

Dalam pengusutan kasus ini, Ditreskrimsus Polda Papua Barat, melibatkan Ahli Konstruksi untuk mengecek langsung pembamgunan tersebut. Dari hasil itu, menyatakan bahwa terjadi dugaan penyimpangan yang merugikan keuangan negara puluhan miliar rupiah. (tnj)

 

Tinggalkan Balasan