Gedung DPR Papua Barat yang kembali diblokade beberapa waktu lalu.

POLEMIK KETUA DPRPB : Pimpinan Dewan Didesak Fasilitasi Dialog

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.comKoordinator Jaringan Advokasi Kebijakan Anggaran (Jangkar) Papua Barat, Metuzalak Awom menyarankan, semua pihak yang berkonflik terkait persoalan jabatan ketua DPR Papua Barat (DPRPB) duduk bersama untuk berdialog. Dialog ia yakini mampu membangun persepsi serta konsep penyelesaian persoalan yang sama atas masalah yang kini melumpuhkan aktivitas di kantor DRPPB.

“Kita tidak berbicara di luar atau di pinggir jalan. Adat Papua itu menyelesaikan masalah dengan berbicara (dialog),” kata Metuzalak Awom, Rabu (9/9/2015), yang menyarankan pimpinan dewan memfasilitasi pertemuan itu.

Siapa pun yang akan menduduki jabatan ini, lanjut Awom, hendaknya tidak memunculkan tindakan anarkis sebab aktivitas pemerintahan harus terus berjalan. Semua pihak harus saling menghargai dan mau membuka ruang untuk menindaklanjuti tuntutan sesuai mekanisme pemerintahan.

“Kita harus cari jalan terbaiknya. Masalah ini tidak seberapa karena yang dituntut adalah ketua DPR Papua Barat. Dengan masalah pemalangan seperti ini, kita merugikan semua kepentingan rakyat banyak karena pelayanan terhenti,” Metuzalak menambahkan.

Terpisah presiden Mahasiswa Unipa, Aloysius Siep berharap persoalan ini tidak menimbulkan konflik yang lebih luas. Semua pihak harus duduk bersama mencari solusi terbaik.

“Kita tahu bahwa kami ini Papua dan orang Demokrat juga Papua. Ini harus kami jaga. Kalau ada pertemuan lanjutan, semua datang. Kepentingan golongan jangan jadikan kami hanya sebagai bumper karena kami harus mengorbankan kuliah,” ujar dia.

Ketua Harian Barisan Merah Putih Provinsi Papua Barat, Leo Tuturob menegaskan, jika pimpinan DPRPB enggan bertemu maka blokade pintu gerbang tidak akan dibuka.

Koordinator Aliansi Masyarakat Papua Barat, Napoleon Fakdawer berharap anggota dewan berkoordinasi dengan pimpinan.

“Saya yang bertanggung akan semua ini. Palang ini tidak akan bergeser sebelum kami bertemu dengan pimpinan,” ujar Napoleon ketika berdiskusi dengan sejumlah anggota DPRPB.

Dua hari lalu, gerbang utama kantor DPR Papua Barat kembali diblokade setelah dibuka melalui prosesi adat beberapa hari sebelumnya. Massa membawa timbunan pasir yang diletakkan tepat didepan pintu gerbang sebagai simbol blokade. Selain itu massa juga kembali memblokade gedung DPR PB dengan sejumlah bambu dan memasang baliho disalah satu sudut gedung.

Di hari yang sama, beberapa saat sebelum bambu dan baliho dipasang kembali, politikus PDI Perjuangan, yang juga mantan ketua DPR Papua Barat Djimie Idjie ke kantor tersebut dan melepas bambu yang tertempel pada gedung tersebut. |RASYID FATAHUDDIN| EDITOR : TOYIBAN