RITUAL SIRIH PINANG. Upacara penghormatan dan permohonan ijin leluhur di Fakfak. Ritual ini menjadi pembuka acara peresmian kampus baru Politeknik Negeri Fakfak. | Dokumentasi CAHAYAPAPUA.com

Polinef Fakfak dan Tantangan untuk Mengisi “Ruang Kosong”

Kebutuhan tenaga kerja terampil dan terdidik memang sangat besar di Tanah Papua. Investasi terus tumbuh, tapi belum diikuti oleh daya dukung sumberdayamanusia lokal yang mumpuni. Ada jarak yang lebar antara kualitas lulusan perguruan tinggi dengan kompetensi yang diharapkan di dunia kerja, terutama sektor swasta.  Siapkah Politeknik Negeri Fakfak menjawab masalah ini?

RITUAL yang sarat dengan nuansa religius-magis digelar, mendahului peresmian kampus baru Politeknik Negeri Fakfak (Polinef), Selasa (16/12/2014) lalu.

Dipimpin para tetua, ritual ini digelar sebagai bentuk penghargaan pengelola Polinef terhadap budaya dan kearifan lokal. Sementara warga  memaknainya sebagai ungkapan rasa hormat dan permohonan ijin pada leluhur. Prosesi ini dikenal sebagai ritual sirih-pinang. Dilakukan ketika hendak memanfaatkan bangunan baru.

Tetua adat memulai ritual dengan cara meletakkan sesembahan sirih-pinang dan rokok di bawah pohon beringin. Lintingan rokok disusun membentuk pola persegi empat. Sirih dan pinang diletakkan di setiap sisinya.

Sesajian lain adalah aneka kue dan satu tempayan berisi empat cangkir kopi. Penempatannya juga mengikuti pola sesajian pertama: diletakkan pada keempat sisi tempayan. Bedanya kue dan kopi dikonsumsi para hadirin sampai habis.

Setelah upacara dilaksanakan, acara peresmian gedung dilanjutkan dengan pembacaan doa menurut keyakinan Islam. Bedanya ini dilakukan di dalam gedung.

Sejak diluncurkan secara perdana 18 Oktober 2012 silam di gedung pertemuan Winder Tuare Fakfak, pengelola Polinef terus berupaya melakukan pengembangan. Salah satunya dengan menyediakan kampus yang lebih representatif.

Kampus baru Politeknik Negeri Fakfak

“Tahun ini sudah dimulai pembangunan kampus baru. Yang sudah selesai adalah gedung workshop teknik sipil dan mesin. Diharapkan akhir 2015 sudah berdiri gedung perkuliahan dan ruang direktorat,” kata Sulwan Dase, Selasa (23/12/2014).

Sulwan adalah Ketua Jurusan Teknik dan Manajemen Informatika Polinef. Ia juga merangkap selaku Kepala Pusat Pengembangan Pembelajaran dan Pejaminan Mutu Pendidikan. Tahun 2016, katanya, pengelola mematok target untuk merampungkan pembangunan asrama mahasiswa.

Melihat capaian selama dua tahun terakhir, terutama soal penyediaaan ruang kuliah, boleh disebut ini adalah langkah maju. Itu jika pembandingnya adalah kondisi yang dihadapi pengelola pada awal-awal perkuliahan.

Keterbatasan sempat memaksa perkuliahan dilaksanakan di Aula Windet Tuare dan Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Fakfak. Ruangan BLK dimodifikasi. Tiga ruangan untuk Program Studi (Prodi) Teknik Sipil, Teknik Mesin dan Teknik Manajemen Informatika. Ruangan lain disulap sebagai kantor dan kantin.

Pendidikan politeknik—termasuk Polinef, adalah pendidikan vokasi. “Kompetensi lulusannya diharapkan menjadi tenaga terampil terdidik, siap bekerja di berbagai sektor sesuai dengan program studi yang ia tekuni,” jelas Sulwan.

Ada tiga program studi (Prodi) yang dikelola oleh Polinef diantaranya manajemen informatika, teknik sipil serta teknik perawatan dan perbaikan mesin. Kedepan, Polinef hendak melakukan pengembangan diantaranya dengan membuka Prodi agroindustri, teknik dan teknik informatika

Sejauh ini ada 300 mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan. Oktober 2015, Polinef akan mewisuda lulusan perdananya.

Kebutuhan tenaga kerja terampil dan terdidik memang sangat besar di Tanah Papua. Investasi terus tumbuh, tapi belum diikuti oleh daya dukung sumberdayamanusia lokal yang mumpuni.

Gubernur Papua Barat, Abraham Oktavianus Atururi dalam pidatornya saat menyampaikan rancangan APBD 2015 ke DPR Papua Barat, Sabtu (20/12/2014) menegaskan bahwa minimnya kualitas SDM lokal merupakan salah satu masalah utama pembangunan di Papua Barat

Meski di provinsi ini terdapat banyak lembaga pendidikan, para lulusannya dinilai belum kompetitif terutama saat berkarir di sektor swasta.

“Sejujurnya ada jarak yang lebar antara kualitas lulusan perguruan tinggi dengan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja,” sebut Hidayat Alhamid, Tangguh Expansion Community Affair, beberapa pekan lalu di site Tangguh LNG, Babo, Teluk Bintuni.

Tangguh LNG adalah proyek skala besar dan multinasional yang melibatkan pengembangan enam lapangan gas di KKS (Kontrak Kerja Sama) Wiriagar, Berau dan Muturi yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat. Tangguh menghasilkan 7,6 juta ton LNG per tahun dan menyumbang sekitar 3 persen produksi LNG dunia.

Proyek yang dioperasikan oleh BP Berau Ltd ini juga sedang mengembangkan proyek kilang ketiga. Fakfak merupakan salah satu daerah yang akan terkena dampak dari ekspansi tersebut.

Jumlah pekerja asli Papua di proyek Tangguh telah melebihi separuh dari jumlah seluruh pekerjanya. “Kami berkomitmen merealisasikan 85 persen pekerja di proyek ini pada tahun 2029 adalah orang asli Papua. Sekarang jumlahnya sekitar 54 persen dari sekitar 3000-an pekerja,” kata Workforce Management Supervisior Tangguh LNG Operation, Demianus Wakman.

Sepintas memenuhi target ini kelihatan mudah. Tetapi kenyataannya, secara internal BP masih melakukan upaya serius untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas SDM calon pekerjanya. Itu dilakukan mulai dari awal pemagangan hingga saat para pekerja resmi bekerja pada mega proyek ini.

Proyek Tangguh LNG hanyalah satu potret. Ada sekian banyak perusahaan yang kini—dan berencana—berinvestasi di Papua Barat.

Hidayat kuatir jika SDM penduduk lokal tak disiapkan, investasi yang seharusnya ikut mendorong pertumbuhan ekonomi—salah satunya lewat serapan tenaga kerja– justru menjadi pintu baru marginalisasi orang asli Papua.

Pendidikan tentu pintu utama dalam upaya peningkatan SDM. “Polinef Fakfak harus bisa mengisi ruang kosong itu bersama perguruan tinggi lainnya,” kata Hidayat Alhamid dalam satu kesempatan yang berbeda di Babo.|PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

 

 

Tinggalkan Balasan