Warga Kampung Pensiun Pelayaran yang mendatangi Mapolres Teluk Bintuni, kemarin.

BINTUNI, cahayapapua.com- Puluhan warga Kampung Pensiun Pelayaran, Rabu (12/8/2015) siang mendatangi Mapolres Teluk Bintuni. Mereka menuntut agar salah satu warganya berinisial Y yang ditahan karena terlibat aksi pengeroyokan terhadap oknum anggota polisi dilepaskan.
“Keinginan warga semua minta anak ini pulang dan tidak boleh ditahan di polisi. Inginnya anak itu lepas. Kalau bisa diselesaikan sama-sama daripada masyarakat terjadi keributan agar semua aman,” ujar Ismail Asmorom dari lembaga adat tujuh suku yang ikut dalam aksi tersebut.
Dikatakan bahwa aksi pengeroyokan terjadi pada Senin malam usai acara pesta yang terletak di Kampung Pensiun Pelayaran yang letaknya tidak jauh dari Polres Teluk Bintuni.
Sementara itu Wakapolres Teluk Bintuni, Kompol. Mathias Yosias Krey saat dikonfirmasi membenarkan terjadinya perkelahian yang melibatkan anggotanya.
Menurutnya perkelahian dipicu oleh kesalahpahaman serta dipengaruhi oleh minuman keras. “Untuk kronologisnya, ini kesalahpahaman antara anggota Polres Teluk Bintuni dari anggota Dalmas dengan masyarakat kampung pelayaran. Kesalahpahaman antara muda-mudi,” ujarnya.
Diceritakan aksi perkelahian berawal dari anggota polisi berinisial H berjalan bersama seorang perempuan yang sudah berkeluarga untuk mengantar pulang.
“Anggota ini antar pulang, tapi dari pihak perempuan, keluarganya dan adik-adiknya curiga dan punya pikiran lain, jangan sampai kaka perempuannya diapa-apakan sama anggota polisi. Warga tidak tanya-tanya dan dalam pengaruh miras, kemudian pukul anggota ini,” cerita Wakapolres.
Anggota polisi tersebut sempat dikeroyok warga yang berjumlah sekitar 5 atau 6 orang. Akibat aksi pengeroyokan tersebut korban sempat mengalami luka di bagian muka, dan gigi patah. Beruntung aksi brutal tersebut berhasil dilerai warga lainnya dan teman korban.
Namun permasalahan ternyata tidak selesai pada malam itu, keesokan harinya anggota polisi yang menjadi korban pengeroyokan bersama rekan-rekannya mendatangi salah satu pelaku di rumahnya. Saat menjemput pelaku pengeroyokan berinisial Y, sempat terjadi penganiayaan yang dilakukan oleh beberapa oknum anggota polisi.
“Dalam penjemputan, anggota polisi sempat pukul pelaku, terus dinaikan ke mobil patroli dan di bawah ke polres. Anggota adalah teman-temannya (korban, red) yang turun jemput,” kata Wakapolres.
Karena kejadian ini pihak korban yang merupakan anggota polisi telah membuat laporan polisi untuk diproses secara hukum. Dan saat ini kasusnya tengah ditangani pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut.
Sementara pihak pelaku berinisial Y sempat ditahan di Mapolres Teluk Bintuni, sementara empat pelaku lainnya sedang menjalani pemeriksaan oleh pihak penyidik reskrim Polres Teluk Bintuni.
Meskipun demikian, pihaknya juga telah melakukan mediasi bersama orangtua pelaku pengeroyokan yang juga dihadiri anggota MRP Papua Barat, M. Waney.
“Ini sudah dilaporkan resmi sama anggota polisi untuk dibuat laporan polisi. Jadi ini memang sudah ditangani di kepolisian dan akan diproses. Tapi karena mengingat di Papua ada kedekatan secara adat, dan kembali ke korban,” ujarnya.
Dari hasil mediasi bersama keluarga pelaku mengharapkan agar kasus tersebut diatur secara kekeluargaan. Namun menurutnya terkait pendekatan kekeluargaan masih menunggu kebijakan dari Kapolres yang saat ini sedang dinas luar.
Sementara terkait dengan tindakan oknum anggota polisi yang sempat melakukan penganiayaan saat melakukan penjemputan paksa terhadap pelaku, Wakapolres menegaskan bahwa oknum anggota polisi tersebut akan menjalani pemeriksaan di PropamPolres Teluk Bintuni.
“Untuk pihak anggota sendiri, akan diperiksa sama propam,” tegasnya Jika dari hasil pemeriksaan ternyata ada kesalahan, maka pihaknya tidak segan-segan untuk memberikan sanksi terhadap oknum anggota yang bersalah.
“Apabila ada kejadian seperti ini, minimal rekan perwira harus tahu dan dilaporkan secara berjenjang ke wakapolres dan disampaikan ke kapolres. Saya mau yang senior yang turun, dan pangkat yang lebih tinggi dan juga dengan yang piket. Bukan anggota yang bermasalah turun kesana,” ungkapnya menyesalkan.
Untuk masyarakat ia menghimbau untuk menghindari konsumsi miras untuk menjaga kamtibmas, meskipun peredaran miras di Bintuni diakui cukup banyak.
“Kita harus jaga kamtibmas. kita sendiri yang bisa kendalikan miras, bukan sebaliknya. Terus jangan buat keributan, kita sama-sama saling menghargai,” imbaunya.
|ARI MURTI|EDITOR : BUSTAM