Anggota Satgas Anti Korupsi Polda Papua Saat memeriksa sebuah ruma milik tersangka kasus dugaan korupsi dana swasembada sapi di Manokwari, Papua Barat. | CAHAYAPAPUA.com | Dina Rianti

Polisi Manokwari Kerja Keras Tuntaskan Dugaan Korupsi Sapi

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com— Penyidik tindak pidana khusus Polres Manokwari bekerja keras untuk menuntaskan berkas dua tersangka kasus dugaan korupsi swasembada sapi 2012 di Dinas Peternakan Papua Barat, dengan tersangka Amran Yusuf dan Sumarni.

Kapolres Manokwari AKBP John Edizon Isir, melalui Kasat Reskrim AKP Tommy H Pontororing, SH, Rabu (14/1/2015) menjelaskan berkas perkara kedua tersangka masih dalam penyusunan. Setelah berkas tuntas, akan segera diserahkan ke kejaksaan untuk diperiksa ulang. Ini sesuai petunjuk yang telah disampikan penyidik Kejaksaan Negeri Manokwari.

“Kami rencanakan besok (hari ini) berkas kedua tersangka sudah kami serahkan ke penyidik kejaksaan negeri manokwari untuk segera di periksa ulang. Kami berharap petunjuk yang telah disampaikan jaksa sudah terpenuhi semuanya, sehingga kejaksaan dapat segera keluarkan P.21 alias berkas lengkap,” katanya.

Saat ini penyidik masih terus menggenjot kelengkapan berkas perkara yang telah di susun. Diupayakan petunjuknya (P.19) yang telah di sampaikan oleh penyidik kejaksaan dapat terpenuhi, sehingga diharapkan kedepannya berkas perkara tersebut segera bisa di P.21 kan.

Saat ini sejumlah saksi telah diperiksa oleh penyidik kejaksaan, termasuk di antaranya beberapa kontraktor yang ikut dalam kasus dugaan korupsi swasembada sapi ini.

Dijelaskan, peran Amran Yusuf, selaku ketua Himpunan Peternak Indonesia wilayah Papua Barat, dan tersangka Sumarni berperan selaku Ketua Kelompok Peternak di Kampung Sumberboga di Distrik Masni. Kedua tersangka dianggap telah menyalahgunakan dana bansos 2012 senilai Rp 26 miliar serta pengadaan barang dan jasa senilai Rp 17 miliar untuk beberapa item kegiatan.

Namun sejumlah item kegiatan yang ada, tidak semua item pekerjaan ada kaitannya dengan item pekerjaan dari kedua tersangka Amran Yusuf dan Sumarni.

Dijelaskan lagi, dana bansos senilai Rp 26 miliar itu bersumber dari APBN. Terdapat adanya delapan item pekerjaan. Sedangkan yang terkait dengan dugaan korupsi hanya 4 yakni, poin 1,4,5 dan poin 8.

Dijelaskan pula, untuk pekerjaan barang dan jasa senilai Rp 17 miliar, terdiri dari 19 item pekerjaan, tidak semuanya item pekerjaan dikerjakan kedua tersangka. Tersangka hanya terlibat di poin ke 3, terkait tentang pengadaan 10 ekor sapi bibit pejantan, selaku pemasok sapi Bali untuk diedarkan di Manokwari dan Sorong.

Dalam ekspos perkara polisi dan kejaksaan di kantor Kejaksaan Negeri Manokwari sempat di singgung soal saksi yang diajukan penyidik Polres Manokwari.

Dijelaskan Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Manokwari, Jhon Ilef M, SH, saksi sebanyak 80 orang agar dikurangi. Menurut pandangan jaksa, saksi cukup yang melihat, mendengar dan merasakan. Untuk mengungkap suatu kasus tindak pidana korupsi tidak diperlukan banyak saksi.

“Biar 1000 saksi dihadirkan, kalau salah satunya tidak mendukung unsur akibatanya tidak berguna,” kata Jhon. “Jika 4 atau 5 saksi kalau sudah mengarah ke pembuktian unsur, lebih bermanfaat. Artinya saksi sedikit tapi lebih memenuhi unsur dibandingkan saksi yang terlalu banyak, namun tidak memenuhi unsur,” tegasnya.

Dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi swsembada sapi tahun 2012 di Dinas Peternakan Papua Barat ini penyidik Polres Manokwari telah menetapkan empat orang tersangka di antaranya Kepala Dinas Peternakan Papua Barat Hary T Uhi selaku KPA, Ruben J Rumere, selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) pada Dinas Peternakan Papua Barat, Amrin Yusuf selaku ketua Himpunan Peternak Indonesia wilayah Papua Barat dan Sumarni berperan selaku Ketua Kelompok Peternak di Kampung Sumberboga, Distrik Masni. |TAKDIR

Tinggalkan Balasan