Kaum ibu Teluk Bintuni menggeruduk kantor DPRD setempat menuntut pengungkapan kasus Frelly, Senin (22/9).

Polisi Militer AD Kembali Periksa Prada Samuel di Jayapura

SORONG, CAHAYAPAPUA.com— Samuel Jitmau, 1 dari 5 saksi kunci dalam kasus pembunuhan sadis Ny. Frelly dan dua anaknya di Teluk Bintuni, Papua Barat menjalani penahanan dan pemeriksaan di markas polisi militer TNI AD, Jayapura sejak Senin (21/9).

Komandan Komando Resor Militer 171/Praja Vira Tama Sorong, Brigadir Jenderal TNI Purnawa Widi Andaru, menyatakan, Samuel diperiksa polisi militer karena berstatus sebagai anggota TNI AD. Samuel yang berpangkat Prada, bertugas di satuan Yonif 752 Kompi E Bintuni.

Pemeriksaan ini berkaitan dengan dugaan keterlibatan Samuel dalam kasus pembunuhan itu. “Dia sudah saya tahan karena ada keterkaitannya dengan barang bukti. Tapi kami masih perlu mendalami,” kata Purnawa di ruang VIP Bandar Udara DEO Sorong.

Penyelidikan polisi militer akan difokuskan pada barang bukti yang diserahkan polisi ke polisi militer. Danrem mengaku sejak awal kooperatif dan tidak akan menghalang-halangi proses hukum kasus ini.

Pesawat yang ditumpangi Samuel dilaporkan tiba di Bandara Sentani, Jayapura Senin, sekitar pukul 10.00 WIT. Beberapa menit kemudian, Samuel terlihat turun dari pesawat.

Ia dikawal seorang anggota polisi militer, kemudian turun dari pesawat sebelum digiring masuk ke mobil tahanan Pomdam XVII/ Cenderawasih.
Mobil tersebut bergerak menuju markas polisi militer angkatan darat, tempat Samuel ditahan dan menjalani pemeriksaan.

Frelly Dian Sari, 26 tahun, yang dikabarkan sedang mengandung, bersama dua orang anaknya, Cicilia Putri Natalia, 6 tahun, dan Andika, 2 tahun, ditemukan tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan di rumah mereka Distrik Sibena Teluk Bintuni 27 Agustus lalu. Polisi menduga korban dibunuh pada 25 Agustus.

Jasad ketiganya diketahui setelah salah satu keluarga korban hendak menyalakan lampu di rumah korban karena rumah terlihat gelap. Saat kejadian tersebut, suami korban tengah melakukan tugas sebagai seorang guru pengajar di salah satu sekolah di Distrik Yansey.

Kapolda Papua Barat Brigadir Jenderal Royke Lumoa menyatakan pihaknya saat ini memfokuskan penyelidikan soal keterlibatan Samuel dalam kasus pembunuhan sadis tersebut.

Kapolda enggan menanggapi pertanyaan wartawan soal dugaan keterlibatan 4 saksi kunci lain. Jumat akhir pekan lalu, Kapolda Royke berjanji akan mengungkap kasus ini paling cepat 2 hari atau paling lambat 7 hari.

Pernyataan ini ia sampaikan saat Markas Polda Papua Barat digeruduk sekitar 6 ribu warga Manokwari yang menuntut polisi segera menuntaskan kasus ini. |M. NASIR, Editor : Patrix Barumbun Tandirerung