Ratusan Warga Toraja mendatangi Mapolres Teluk Bintuni, menuntut pengungkapan kasus pembantaian ibu rumah tangga dan dua anak di daerah tersebut baru-baru ini.

Polisi Militer Turun Tangan Usut Pembunuhan Sadis di Bintuni

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com— Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Provinsi Papua Barat kembali mempertanyakan kelanjutan proses hukum atas kasus pembunuhan sadis yang menewaskan seorang ibu dan dua anaknya di Teluk Bintuni. Proses penetapan tersangka menurut Ketua IKT PB, Stepanus Selang, terlalu lamban.

“Sudah setengah bulan tapi kami dan keluarga belum pernah mendapat kejelasan soal siapa pelakunya. Apakah sudah ada yang ditetapkan sebagai tersangka atau belum,” ujarnya dalam rapat IKT yang digelar di Billy Cafe Manokwari, Sabtu (12/9) malam.

Selang mengungkap adanya kabar yang ia terima soal perkembangan kasus ini. Kabar itu menyebut bahwa seorang saksi yang sebelumnya diperiksa oleh polisi, telah dilimpahkan ke Densubpom Teluk Bintuni. Persoalannya, tukas Selang, status yang bersangkutan tidak jelas sehingga aparat penegak hukum perlu membeberkan alasan pelimpahan itu.

Polisi dianggap perlu membuka kepada publik apakah status yang bersangkutan sekadar sebagai saksi ataukah sudah ditetapkan sebagai tersangka mengingat kasus ini sudah menyita perhatian khalayak.
Masyarakat pun perlu mendapat informasi yang akurat dari aparat untuk menghidari munculnya spekulasi atau aksi publik yang justru kontraproduktif dengan semangat penegakan hukum.

“Polisi perlu menjelaskan ke publik terutama keluarga soal latar belakang, alasan dan tujuan pengalihan pemeriksaan ini ke polisi militer,” katanya.

Kabar adanya keterlibatan polisi militer untuk mengusut kasus ini dibenarkan oleh Letnan Kolonel Warjito,SH, Komandan Denpom Sorong. Institusi yang ia pimpin membawahi institusi kepolisian militer (Subdenpom) di Teluk Bintuni.

Warjito mengatakan, Denpom Sorong telah mengutus beberapa personil polisi militer untuk membantu aparat di Bintuni melakukan penyelidikan, pemeriksaan dan investigasi. Ia pun sedang berada di Bintuni bersama tim tersebut. “Kami masih melakukan pemeriksaan. Mereka yang diperiksa masih berstatus sebagai saksi,” katanya kepada Cahaya Papua melalui sambungan telepon, kemarin.

Lalu lewat pesan pendek, Warjito menegaskan bahwa saksi dan berkasnya belum dilimpahkan oleh polisi ke Subdenpom. Pihaknya sebatas membantu polisi. “Sama-sama melakukan penyelidikan dan penyidikan,” tulisnya.
Kapolres Teluk Bintuni, AKBP Harry Supriyono saat dikonfirmasi mengenai hal ini mengatakan bahwa berkas saksi sedang dipelajari dan didalami oleh Warjito.

Terpisah, Aktivis HAM Papua yang juga Direktur Lembaga Penelitian Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy, mengatakan pengusutan kasus ini menuntut sikap profesional dan tindakan cepat dan tegas dari aparat kepolisian.

“Jika polisi sudah memperoleh minimal 2 alat bukti sebaiknya segera tetapkan tersangkanya. Tidak perlu ragu siapa dia dan dari institusi mana,” ujarnya dari Bali seraya menyatakan dukungannya atas upaya penegakan hukum yang sedang dan telah ditempuh polisi.

Soal adanya pengalihan pemeriksaan saksi dari Polres Bintuni ke Polisi Militer, Warinussy mengatakan, jika saksi tersebut berstatus anggota TNI dan punya indikasi terlibat atau menjadi pelaku dalam kasus yang korbannya adalah masyarakat sipil ini, maka pada prinsipnya polisi bisa berkoordinasi dengan institusi kepolisian militer.

Mengenai saksi yang diperiksa oleh polisi militer, lanjut Warinussy, profesionalisme Polri harus tetap dikedepankan. Salah satunya adalah tindakan cepat dalam menentukan status oknum anggota TNI tersebut berdasar KUHAP. “Polisi juga tidak boleh terpengaruh oleh tekanan,” jelasnya.

Di satu sisi, adanya keterlibatan Polisi Militer dalam penyelidikan dan penyelidikan kasus ini sebagaimana diungkap Warjito, secara tidak langsung mengungkap adanya kemungkinan keterlibatan oknum anggota TNI dalam kasus pembunuhan ini. “Kalau berat ke militer, oknum tersebut bisa diproses dengan hukum pidana militer,” ucap Warinussy soal kemungkinan itu.

Selentingan informasi yang dihimpun media ini dari sejumlah sumber yang tidak disebut untuk alasan keamanan menyebut besar kemungkinan oknum anggota TNI yang kini diperiksa itu adalah orang yang menguasai telepon genggam korban pasca kejadian. Ini berkaitan dengan informasi yang menyebut bahwa HP korban hilang setelah dibunuh.

Nomor korban kemudian digunakan untuk melakukan panggilan kepada sejumlah nomor termasuk kepada kerabat korban. Ini berkorelasi dengan penuturan seorang kerabat korban yang mengaku ditelepon menggunakan nomor korban.

Anehnya, suara dibalik telepon itu bukan suara korban. Meski demikian, informasi ini masih simpang siur dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh pejabat berwenang. Polisi sepertinya sangat berhati-hati menyampaikan informasi sehingga tidak mengungkap dengan gamblang identitas dan keterangan-keterangan belasan saksi yang sudah diperiksa termasuk perannya masing-masing.

Celakanya, sikap berhati-hati dan kesan menahan informasi ini justru membuat publik semakin bertanya-tanya dan mengembangkan bermacam spekulasi berdasar potongan-potongan informasi yang mereka dengar. Sedikit banyak, penilaian publik bahwa aparat terkesan lamban juga muncul karena informasi mengenai perkembangan kasus ini sangat sedikit.

Ikatan Keluarga Toraja terus memantau kasus ini mengingat korban adalah warga Teluk Bintuni yang juga anggota Ikatan Keluarga Toraja. Beberapa hari lalu, dua utusan IKT Papua Barat yakni Kornelius Mangalik dan D.T Sarungallo telah bertemu dengan sejumlah pejabat terkait di Jakarta agar ikut memberi dukungan atas kasus ini.

“Kami sudah ke Komnas HAM, Komnas Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Komnas Perlindungan Anak Indonesia dan Bareskrim Polri,” sebut D.T Sarungallo via akun sosial media, facebook. “Kalau kasus pembunuhan Anggeline di Bali bisa mendapat perhatian luas dari lembaga-lembaga ini, kenapa kasus yang lebih sadis ini tidak. Ada apa,” ucap Sarungallo yang juga anggota DPRD Teluk Bintuni.

Korban Ny Frelly Dian Sari (26 Tahun) bersama dua anaknya Cicilia Putri Natalia (6 Tahun) dan Andhika (2 Tahun) ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya, Jl Raya Bintuni Km 7, Distrik Bintuni, dua pekan silam, Kamis (27/8). Diduga para korban dibunuh 2 hari sebelumnya.

Frelly yang juga dikabarkan sedang mengandung 4 bulan, ditemukan di ruang tengah lantai 2 rumahnya dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya penuh luka dan tusukan. Sementara jenazah 2 anaknya yang ditemukan di ruang berbeda di lantai 2 juga mengenaskan dengan sejumlah luka tusuk dan tebasan di tubuhnya.

Ny Frelly adalah istri dari Julius Hermanto. Suaminya bekerja sebagai guru di Kampung Yensey. Saat kejadian, Julius mengaku sedang berada di tempat tugas. Selasa pagi adalah pertemuan terakhir keluarga ini, tepat ketika Herman berangkat ke tempat tugasnya.

Akhir pekan lalu, Ratusan warga Bintuni dari etnis Toraja bersama sejumlah warga lokal menggelar unjuk rasa di markas Polres setempat. Mereka menuntut polisi segera menuntaskan kasus ini dan menangkap tersangka. “Kami meminta pelaku dihukum seberat-beratnya,” ucap Ketua IKT Teluk Bintuni, Mathius Ba’ba.
Aksi yang sama rencananya akan digelar akhir pekan ini dan diikuti seluruh warga etnis Toraja di Manokwari. |PATRIX B. TANDIRERUNG