Situasi Australia yang tengah tegang akibat penyanderaan semakin mencekam setelah paket mencurigakan ditemukan di gedung Kementerian Luar Negeri di Canberra. (Reuters/Jason Reed)

Polisi Serbu Lokasi Penyaderaan di Sydney, Tiga Tewas

SYDNEY, CAHAYAPAPUA.COM — Kepolisian New South Wales, Australia, menyatakan tiga orang tewas dalam insiden penyanderaan di Kafe Lindt, Martin Place, setelah polisi memutuskan untuk menyerbu lokasi penyanderaan pada Selasa (16/12) dini hari.

“Seorang pria berusia 50 tahun, seorang wanita berusia 38 tahun dan seorang pria berusia 34 tahun tewas dalam insiden penyanderaan tersebut,” kata Kepolisian New South Wales, seperti dilaporkan Reuters, Selasa (16/12).

Sementara, dua orang lainnya yang mengalami cedera ringan dibawa ke rumah sakit. Selain itu seorang polisi tengah dirawat akibat mengalami luka tembak.

Korban lainnya, seorang wanita, juga dirawat akibat luka tembak di bahu.

Laporan media lokal menyatakan pelaku penyanderaan merupakan salah satu diantara korban yang tewas.

Drama penyanderaan yang telah berlangsung selama lebih dari 16 jam berakhir setelah serentetan tembakan dan ledakan dari granat kejut mengarah ke lokasi penyanderaan pada pukul 02:00 pagi waktu setempat.

Hingga berita ini ditulis, tidak ada bom yang ditemukan temukan. Sebanyak 17 sandera telah diamankan.

Pelaku penyanderaan diidentifikasi sebagai Man Haron Monis, seorang pengungsi asal Iran dan syekh gadungan yang memiliki sejumlah cacatan kriminal.

Awal tahun ini, Monis, yang menggambarkan dirinya sebagai seorang “penyembuh spiritual”, dituntut atas perlakuan tidak senonoh dan kekerasan seksual dari seorang wanita Sydney pada tahun 2002.

Monis, juga dikenal sebagai Sheikh Haron, didakwa tahun lalu karena dinyataan terlibat dalam kasus pembunuhan mantan istrinya yang ditikam dan dibakar di sebuah apartemen blok Sydney.

Menurut laporan media lokal setempat, Monis dinyatakan bersalah pada tahun 2012 karena mengirim surat kebencian kepada keluarga dari delapan tentara Australia yang tewas di Afghanistan, sebagai aksi protes terhadap keterlibatan Australia dalam konflik di Afghanistan.

Website Monis berisi gambar grafis dari anak-anak yang diklaim merupakan korban dari serangan udara dari koalisi sejumlah negara, termasuk Australia, dan dipimpin oleh AS.

Website tersebut juga memuat beberapa penampilan Monis di pengadilan, serta pernyataan Monis yang ditujukan kepada komunitas Muslim dan Perdana Menteri Australia Tony Abbott.

“Pelaku penyanderaan diduga merupakan simpatisan kelompok militan ISIS dan kelompok jihad internasional. Pelaku dianggap memiliki masalah kesehatan mental,” kata Adam Dolnik, seorang profesor di University of Wollongong, yang telah melatih polisi Sydney dalam proses negosiasi dengan pelaku penyanderaan, kepada Reuters, Selasa (16/12).

Dolnik menyatakan bahwa pelaku melakukan penyanderaan untuk mendapatkan perhatian.

Selama penyanderaan, sandera dipaksa untuk menampilkan bendera Islam. Aksi ini memicu kekhawatiran bahwa penyanderaan ini dilakukan oleh kelompok militan ISIS.

Australia, sekutu setia Amerika Serikat, kini tengah bersiaga terhadap serangan kelompok militan dalam negeri yang diduga kembali dari pertempuran di Timur Tengah. | CNN INDONESIA

EDITOR: PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

Tinggalkan Balasan