Ilustrasi Populasi Penyu. www.klikpositif

Predator Kian Mengancam Populasi Penyu di Jamursba Medi

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com -– Populasi penyu di Pantai Jamursba Medi, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw kian terancam akibat perburuan sejumlah hewan predator.

Projec leader, Abun, Tambrauw, WWF Indonesia – Program Papua, Ronny Tethol, mengatakan, predator alami itu berupa, babi hutan, biawak, dan anjing milik masyarakat yang sudah hidup liar di wilayah tersebut.

Selain itu, ancaman akibat proses alam yang diluar kendali manusia pun terjadi. “ Saat ini gelombang tinggi dan menggerus lokasi peneluran penyu. Selain itu Saat turun hujan lebat terkadang lereng jurang di wilayah peneluran longsor dan menutupi pantai. Ini aktivitas alam yang berada diluar kendali manusia,” katanya.

Ancaman cuaca, kata dia, terjadi setiap tahun. Meskipun demikian, ia mengatakan, populasi dan habitat penyu di daerah tersebut masih cukup bagus.

Menurut Ronny, aktivitas perburuan yang dilakukan masyarakat diloksi itu tidak ada. Namun, penyu yang di wilayah tersebut, terkadang terperangkap jaring-jaring nelayan di tempat lain.

“Wilayah pantai utara Papua Barat ini, hanya menjadi tempat peneluran, setelah bertelur, penyu akan bermigrasi ke tempat lain. Kadang ada yang tertangkap di Manokwari, Raja Ampat dan tempat lainya,”ujar Roni menjelaskan.

Ronny membeberkan, enam jenis penyu yang hidup di Indonesia, empat diantaranya terdapat di Papua Barat, yakni penyu belimbing, penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik.

Empat spesies penyu itu menjadikan pantai Jamursba Medi sebagai tempat bertelur. Penyu Belimbing dan penyu lekang yang paling banyak melakukan aktivitas peneluran di pantai tersebut.

“Penyu belimbing menghadapi ancaman paling besar saat musim ombak datang. Sebab tempat peneluran penyu ini paling dekat dengan pantai,” imbuhnya.|RASYID FATAHUDDIN