Ilustrasi. dearbangla24

Pria 20 tahun, diduga pendukung ISIS, ditangkap di Sorong

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Kepolisian Resor Kota Sorong, Papua Barat, menangkap seorang pria yang diduga sebagai pendukung kelompok ISIS.

Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Martuani Sormin usai upacara Hut Bhayangkara di Manokwari, Senin (10/7), mengatakan, penangkapan dilakukan Satuan Reskrim dan Intelkam Polres Sorong Kota dari hasil pengembangan yang dilakukan beberapa hari terakhir.

Martuani menyebutkan, pria yang diketahui berinisial A tersebut ditangkap sekitar pukul 20.00 WIT pada Minggu.  Yang bersangkutan kini diamankan di Kantor Polres Sorong Kota untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

“Kita amankan untuk menelusuran lebih lanjut tentang sejauh mana keterpengaruhan dia terhadap kelompok ISIS. Dalam penggeledahan yang dilakukan di rumahnya, kami menemukan lima buku tentang ISIS,” kata dia.

Dijelaskan, penangkapan A terjadi setelah polisi menerima laporan bahwa yang bersangkutan diduga mengajak atau menyebarkan informasi untuk setia kepada ISIS dan menjadikan Kepolisian sebagai musuh yang harus diperangi bersama.

Dalam istilah intelijen, sebut Kapolda, yang bersangkutan disebut “sel tidur” dan simpatisan. Keberadaanya dinilai berbahaya terhadap perkembangan kelompok ISIS di Papua Barat.

“Kalau ini dibiarkan setidaknya kelompok-kelompok pendukung ISIS akan ada di daerah kita,” katanya lagi.

Polisi lanjut Polda akan mendalami keterlibatan A termasuk pengaruhnya terhadap penyebaran pendukung ISIS di Papua Barat, termasuk niat yang bersangkutan untuk terlibat dalam aksi teroris.

Kapolda mengutarakan, A bukan warga dari luar daerah. Melainkan warga Sorong yang hanya menuntaskan pendidikan SLTA di bangku Madrasah. Padahal awalnya dia mengaku merupakan alumni fakultas teknik di salah satu Perguruan Tinggi di Indonesia.

A adalah karyawan swasta yang bekerja di salah satu hotel ternama di Kota Sorong. Usianya masih cukup muda yakni baru 20 tahun.

“Kalau dia masih sebatas pada pemikiran terkait kelompok ISIS, itu tidak bisa dihukum, karena selama ini belum ada perbuatan yang dilakukan,” ujarnya.

“Kami sudah sampaikan kepada jajaran Polres di Papua Barat agar mengantisipasi masuknya paham radikal.” (ibn/mar)

Tinggalkan Balasan