Aktivitas penambalan jalan berlubang arah Manokwari- Mansel-Bintuni.

Puluhan lubang di Jalan Trans Manokwari – Bintuni ditambal

RANSIKI, Cahayapapua.com–– Balai Besar Jalan Nasional Wilayah XVII Papua Barat mulai menutup sejumlah lubang yang ada di sejumlah ruas jalan Manokwari – Manokwari Selatan. Ruas jalan ini juga merupakan satu-satunya penghubung ke Kabupaten Teluk Bintuni.

Kegiatan pemeliharaan jalan yang di lakukan selama 10 hari ini sudah berhasil menambal sekitar 50 lubang yang ada di sepanjang jalur tersebut, seperti dikatakan Pengawas Lapangan Piether Pandjaitan saat penambalan berlangsung.

Dijelaskan, bahan yang digunakan pada kegiatan perawatan ini adalah bahan aspal yang di pesan langsung dari Surabaya. Pabrik yang memproduksinya pun merupakan pabrik yang sudah mempunyai lisensi dari balai, sehingga bisa di pastikan bahwa kualitas tambalan ini bisa mendekati kualitas aspal.

Kegiatan perawatan atau penambalan ini di lakukan dengan tiga tahap, yakni menutup lubang dengan material (lapisan pondasi atas), material ini merupakan material batu krikil, kemudian disiram menggunakan aspal cair untuk mengikat LPA, kemudian untuk bagian atasnya di tutup dengan aspal dingin, yang dipadatkan dengan mesin tumbuk.

Ada lima pengawas lapangan, yakni Piether Pandjaitan selaku Pengawas Lapangan Batas Kota sampai Maruni, Markus Refideso, Pengawas Lapangan Oransbari-Maruni, Marten Otto Layuk pengawas lapangan jalur, Oransbari Ransiki, Taufik Silalahi dan Ucok Irmanto Situmorang selaku pengawas untuk jalur Ransiki -Mamei.

Piether Pandjaitan melanjutkan, kegiatan perawatan ini sudah mengahabiskan ratusan bungkus aspal basa. Sedangkan jalur yang sudah ditangani adalah jalur Ransiki -Manokwari, sedangkan untuk Ransiki-Momiwaren dan Mamei akan di lakukan selanjutnya.

“Kita sudah berjalan kurang lebih 10 hari, memang tidak berturut-turut karena pada saat kita mulai star langsung ada hari libur Lebaran, jadi kita baru mulai lagi sejak beberapa hari lalu. setiap harinya rata-rata kita bawa 60 sak aspal basa. Sampai hari ini kurang lebih sudah ada 50 titik yang kuta tangani,” jelasnya.

Pandjaitan juga menyampaikan dalam menjalankan kegiatannya ini mereka terkadang mengalami hambatan. Sempat mendapat perlawanan dari warga karena menambal jalan yang sengaja dilubangi tidak boleh ditambal. Tetapi setelah dilakukan penjelasan, masyarakat akhirnya bisa menerima dengan baik.

“Kita berharap, masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas jalan ini bisa lebih nyaman dari sebelumnya, meski perawatan yang kita lakukan ini tidak sebagus dengan pengaspalan baru, tapi setidaknya bisa menghindarkan pengguna jalan dan bahaya kecelakaan,” tuntasnya. (acm)

Tinggalkan Balasan