Pintu utama los baru Pasar Wosi mengecil karena diubah menjadi lapak yang seharusnya tidak berada di lokasi tersebut. Pedagang mengungkap pengakuan baru pasca tertangkapnya tiga pegawai Disperindagkop Manokwari yang melakukan praktik Pungli di Pasar Wosi. Adlu Raharusun/Cahaya Papua

Pungli di Pasar Wosi terbongkar, pedagang ungkap pengakuan baru

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Pedagang mengungkap fakta baru dibalik terungkapnya praktek pungutan liar oleh pegawai negeri dinas perindustrian, perdagangan dan koperasi (Perindagkop) Manokwari di Pasar Wosi Manokwari.

Tim Saber Pungli Manokwari, Senin lalu, menangkap tangan dua orang pegawai Disperindagkop Manokwari masing-masing GW dan MK saat mereka beraksi menarik pungutan liar kepada para pedagang Pasar Wosi. Tim kemudian menangkap seorang lagi berinisial A yang juga merupakan pegawai Perindagkop setelah mengorek keterangan GW dan MK. Mereka telah ditetapkan sebagai tersangka.

Pedagang Pasar Wosi yang ditemui Cahaya Papua di Pasar Wosi, kemarin, mengungkap A merupakan pemain penting yang sudah beraksi sejak lama. Dia menurut pedagang merupakan otak dibalik praktik jual beli lapak pasar baru Wosi.

Pedagang menyebut A menjual lapak pasar baru Wosi kepada pedagang baru, padahal lapak-lapak tersebut diperuntukkan kepada pedagang lama —yang lapaknya digusur untuk kebutuhan pembangunan pasar baru.

“Sebagian dari pedagang yang mendapat lapak di pasar baru itu orang baru, sementara kami yang kena gusur tidak dapat tempat. Saat itu yang mengatur adalah pria berinisial A dari Perindakop itu,” ujar Aco –bukan nama sebenarnya.

Dia bahkan mengatakan A berperan menambah lapak baru diantara sudut-sudut los pasar yang seharusnya berfungsi sebagai pintu darurat. Ada juga lapak yang ditambahkan di pintu utama. Lapak-lapak kemudian diberikan kepada padagang baru.

Pedagang lain, sebut saja Iwan yang sudah 15 tahun berdagang di Pasar Wosi mengatakan, selama bertugas sebagai pengawas, seorang distributor bahkan bisa memiliki lebih dari satu lapak.

Dia contohnya yang harus menyewa lapak kepada salah satu distributor dengan harga sewa Rp. 300 sampai 500 ribu per bulan.

“Saya ini sudah 15 tahun berdagang ayam potong disini. Pada saat penggusuran saya kena kemudian saat pembagian lapak malah saya tidak dapat. Ini merupakan permaianan yang cukup rapi. Bukan hanya yang kena, sejumlah pedagang lama juga mengalami hal yang sama seperti saya,” tuturnya.

Ia bahkan mempertanyakan sejumlah bangunan lapak yang hingga saat ini belum difungsikan. Lapak-lapak tersebut tertutup rapi padahal banyak pedagang yang belum mendapat lapak.

“Semua orang di pasar ini sudah tahu siapa itu A, dia merupakan aktor dibalik transaksi jual beli lapak di Pasar Wosi, padahal mestinya pedagang cukup membayar satu kali kepada pemerintah itupun disetor melalui rekening bank,” ujarnya menambahkan.

Hal lain diungkap pejasa roda dua yang biasa mangkal di Pasar Wosi. A disebut meminta pejasa roda dua yang mangkal di Pasar Wosi membayar retribusi sebesar Rp. 2000 rupiah perhari. Biaya itu harus dibayar di Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang terletak di area parkir Pasar Wosi.

“A ini sempat meminta saya untuk menghadap dia di kantornya. Dia minta agar kami ojek menyetor dua ribu per hari kepadanya kalau mau mangkal di dekat pasar,” tutur pejasa ojek yang enggan namanya disebut tersebut.

Polres Manokwari, Rabu (7/3), merilis hasil operasi tangkap tangan terhadap dua oknum pegawai dinas Perindakop GW dan MK. Polisi mengatakan A belum diperlihatkan kepada publik karena saat itu sedang diperiksa. Meski begitu A telah ditetapkan sebagai tersangka bersama GW dan MK.

Menurut polisi, A merupakan pemain lama sejak 2015 lalu yang melakukan pungutan liar kepada para pedagang. Sementara GW dan MK bergabung bersama A pada tahun 2017.

GW dan MK tertangkap tangan dalam operasi tim Saber Pungli Manokwari pada Senin lalu, menyusul A yang ditangkap di tempat berbeda. A ditangkap setelah tim mengorek keterangan dari GW dan MK.

“Kalau pelaku GW dan MK mereka baru melakukan aksi pada 2017, sedangkan pelaku A aksi Pungli terhadap pedagang sejak 2015,” kata Kapolres Manokwari AKBP. Adam Erwindi di Mapolres, Rabu (7/3).

Adam menjelaskan, peran A, GW dan MK di Pasar Wosi sama. Mereka menarik pungutan sebesar Rp.  500 ribu per bulan kepada pedagang yang menempati lapak baru yang dibangun pemerintah.

“Sesuai hasil pemeriksaan awal terhadap para pelaku,  pendapatan mereka dalam aksi ini setiap bulan sekitar Rp70 juta,” kata Adam.

Penangkapan terhadap para pelaku pungutan liar ini berdasarkan laporan masyarakat yang sudah merasa resah, dibawah pimpinan Kasat Reskrim Polres Manokwari AKP. Indro Rizkiadi yang merupakan kepala Pokja penindakan Saber Pungli Manokwari.

“Dari ketiga pelaku ini kemungkinan akan bertambah pelaku lain, kita akan terus kembangkan.  Yang jelas kita akan panggil kepala Dinas Perindakop untuk diperiksa,” kata Koordinator Tim Saber Pungli yang juga merupakan Wakapolres Manokwari Kompol Andi Maparenta.

Para pelaku akan dijerat dengan UU Nomor 20 tahun 2002 tentang tindak pidana korupsi pasal 12 huruf e dengan ancaman hukuman penjara minimal 4 tahun subsider Rp. 50 juta dan ancaman maksimal 20 tahun penjara subsider Rp 250 Juta. |Adlu Raharusun

Leave a Reply

%d bloggers like this: