Everdina Y Wanggay (kiri) bersama ketua Komplek Bugis, Manokwari

Puskesmas Wosi Gencar Cegah Penularan Penyakit Kaki Gajah

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Puskesmas Wosi Manokwari sedang gencar mencegah penularan penyakit kaki gajah (filariasis). Puskesmas ini, menarget 80 persen warga di Kelurahan Wosi mengonsumi obat pencegahan penyakit tersebut.

Koordinator Pencegahaan Penyakit Menular (P2M) Puskesmas Wosi, Everdina Y Wanggay, mengatakan, program eliminasi filariasis, sudah dicanangkan secara Nasional pada 1 Oktober lalu. Menyusul, pencanangan nasional itu, Pemerintah provinsi Papua Barat pun sudah melakukan hal yang sama.

“Untuk Kelurahan Wosi, sosialisasi dan pemberian obat pencegaan filariasis akan dilakukan hingga hingga 13 November mendatang,”kata Everdina, saat melakukan sosialisasi dan pemberian obat di Komplek bugis beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, kata dia, pemberian obat sudah dilakukan di Kampung Maduraja, Komplek Bugis dan Kampung Makasar. Puskesmas, akan mendatangi seluruh kampung, untuk menyukseskan program eliminasi filariasis.

Bagi warga yang belum sempat datang ke lokasi pengobatan, petugas akan datang hingga ke rumah warga. “Total penduduk di Kelurahan Wosi, sebanyak 15 ribu jiwa, kami menarget 80 persen tercapai hingga 13 November mendatang,”kata dia menambahkan.

Di komplek Bugis kata dia, terdapat sebanyak 300 kepala keluarga, sehingga diperkirakan ada sekitar 600-700 warga yang sudah mengonsumsi obat pencegah penyakit ini. Sementara di Kampung Maduraja sekitar 647 jiwa.

Pada program ini, lanjut dia, Puskesmas Wosi melibatkan sebanyak 50 orang tenaga kesehatan. “Kami akan bekerja maraton, hingga 13 November. Sebab, target 80 persen harus tercapai, syukur bisa lebih dari itu,”kata dia.

Dia menyebutkan, meski obat ini wajib dikonsumsi seluruh warga, namun, hal itu tidak berlaku bagi wanita hamil, serta anak dibawah usia dua tahun.

Saat ini, lanjut Everdina, di Kelurahan Wosi, sudah ada dua orang yang teridentifikasi positif mengidap penyakit kaki gajah, yakni, satu orang di Sowi Gunung satu orang lainya, di Kampung Inggramui.

Menurutnya, kondisi dua orang itu sudah akut, sehingga harus dilakukan pengobatan dan perawatan secara baik.

“Meskipun baru dua orang, kita tidak boleh menyepelekan, sebab, satu penderita, berpotensi menular ke 100 orang, melalui gigitan nyamuk,” pungkasnya.|TOYIBAN