Sedikitnya 70 warga Australia berperang di Suriah dan sekitar 20 orang yang kembali ke tanah air menjadi ancaman bagi keamanan dalam negeri. (Reuters/ David Gray)

Radikalisme di Australia Berujung Penyanderaan

SYDNEY, CAHAYAPAPUA.com— Pagi ini, Senin (15/12), publik Australia dikejutkan oleh penyanderaan di sebuah kafe di pusat kota Sydney. Pelakunya membawa bendera bertuliskan Arab, diduga simpatisan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah, ISIS.

Penyanderaan kali ini bisa disebut adalah buah dari tumbuh suburnya terorisme dalam negeri di Australia.

September lalu, polisi anti terorisme di Australia mengaku telah menggagalkan rencana kelompok radikal untuk melakukan pemenggalan warga di muka publik. Beberapa hari setelah itu, seorang remaja di Melbourne ditembak mati setelah menyerang dua polisi anti-teror dengan pisau.

Di hari yang sama dengan peristiwa penyanderaan kali ini, polisi Australia menahan pria Sydney yang diduga sebagai penyalur dana dan perekrut militan untuk dikirim ke Suriah dan Irak.

Penangkapan pria berusia 25 tahun itu adalah bagian dari penyelidikan polisi terhadap rencana serangan di Australia dan memfasilitasi perjalanan warga Australia ke Suriah untuk berperang, seperti disampaikan Polisi Federal Australia dalam pernyataannya, dikutip Reuters.

Penangkapan ini terjadi selang beberapa jam sebelum aksi penyanderaan di kafe Lindt berlangsung. Belum diketahui apakah ada hubungan antara kedua peristiwa ini.

Perdana Menteri Tony Abbott sebelumnya mengatakan bahwa sedikitnya ada 70 warga Australia yang berperang di Irak dan Suriah, disokong oleh sekitar 100 warga di dalam negeri yang menjadi fasilitator dan pemberi dana.

Diperkirakan sekitar 20 warga Australia telah tewas di Suriah. Namun jumlahnya tergantikan dengan membanjirnya kedatangan dari Australia dan negara-negara Barat lainnya.

Jaksa Agung Australia George Brandis mengatakan ISIS menggunakan warga Barat termasuk Australia sebagai “pejuang garis depan, pengebom bunuh diri atau alat propaganda.”

Brandis kepada 9News.com.au, mengatakan bahwa pemerintah punya tanggung jawab untuk melindungi para pemuda dari cengkeraman ISIS.

Namun yang paling dikhawatirkan Australia adalah kembalinya pada militan ke tanah air. Sejak tahun 2012, diperkirakan sekitar 30 warga yang berperang di Suriah dan Irak telah kembali ke Australia.

Salah satu warga Australia yang berangkat ke Suriah dikenal bernama Khaled Sharrouf. Dia ke Suriah bersama putranya yang berusia tujuh tahun, bergabung bersama Jabhat al-Nusra yang berafiliasi dengan al-Qaidah lalu berbaiat ke ISIS.

Sharrouf dikenal setelah memasang foto putranya yang memegang kepala buntung, dia menulis “Itu baru anakku.”

Australia termasuk dari negara-negara PBB yang menandatangani kesepakatan untuk mencegah warga negaranya pergi untuk berperang di luar negeri.

Dalam pidatonya di PBB September lalu, Abbott mengatakan bahwa negaranya akan memperketat pengawasan terhadap propaganda ekstremisme terhadap para pemuda Australia, salah satunya adalah meningkatkan kewenangan aparat keamanan melalui peraturan baru.

Selain itu, warga Australia dilarang bahkan dianggap ilegal mengunjungi negara-negara yang menjadi sasaran terorisme.

“Peraturan Australia sekarang diubah untuk memastikan kelompok radikal yang pulang ke tanah air bisa ditangkap, diadili dan dipenjara untuk waktu yang lama. Kita tidak hanya melawan terorisme potensial di dalam negeri, tapi juta inspirasi mereka di luar negeri,” kata Abbott di PBB. |CNN INDONESIA

Tinggalkan Balasan