Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati berpidato dalam peluncuran modul pendidikan lingkungan hidup di Raja Ampat Senin, 2 Mei 2016. Foto: Nugroho Arif Prabow/TNC

Raja Ampat Luncurkan Modul Pendidikan Lingkungan

RAJA AMPAT, Cahayapapua.com——- Pemerintah Kabupaten Raja Ampat meluncurkan modul pendidikan lingkungan yang akan diterapkan di seluruh sekolah dasar di kabupaten tersebut bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016.

Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati menyatakan modul pendidikan lingkungan merupakan cara pihak untuk mengenalkan upaya menjaga lingkungan sejak dini kepada anak-anak di Raja Ampat.

Modul tersebut diharapkan dapat menumbuhkembangkan kesadaran anak secara dini melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar sehingga siswa memiliki kemampuan melakukan analisa masalah lingkungan serta memahami cara mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara baik dan berkelanjutan.

“Semoga isi dan pesan yang terkandung dalam modul ini selain dapat menambah pengetahuan tentang ilmu kelautan juga dapat memberikan pesan pelestarian sumber daya laut khususnya sumber daya alam yang ada di wilayah Kabupaten Raja Ampat.

Anak didik juga diharapakan mencintai dan menghargai segala bentuk anugerah yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa karena sumber daya alam yang kita punya ini hanya merupakan titipan yang harus dijaga untuk generasi yang akan datang,” kata Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati dalam sambutan pasca peluncuran dalam siaran pers yang diterima Cahaya Papua.

Modul tersebut disiapkan sejak pertengahan tahun 2015 oleh The Nature Conservancy (TNC) bersama Dinas Pendidikan Raja Ampat dan Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS). Modul difokuskan pada pengembangan kurikulum muatan lokal di sekolah dasar khususnya kelas IV dan V.

Kepulauan Raja Ampat yang terletak di jantung segitiga karang yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Data menunjukkan bahwa Raja Ampat merupakan rumah bagi 75% jenis terumbu karang di dunia dengan 553 jenis terumbu karang dan 1.437 jenis ikan karang.

Perairannya yang kaya menyediakan sumber kehidupan dan mata pencaharian bagi lebih dari 40.000 penduduk. Masyarakat lokal di Raja Ampat mempunyai kaitan budaya dan hak kepemilikan tradisional yang kuat atas wilayah baik darat maupun laut. (MAR)

Tinggalkan Balasan