Para Bidan melakukan unjuk rasa damai menuntut perlindungan selama menjalankan tugas dan mendesak penyelesaian kasus pemerkosaan terhadap rekan mereka baru-baru ini. Foto: CAHAYAPAPUA.com | Zack Tonu Bala

Rekan Diperkosa, Bidan di Manokwari Demo, Malah Dimarahi Sekda

Puluhan bidan yang tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Manokwari memenuhi halaman kantor bupati Manokwari di Sowi Gunung, Senin (15/12/2014) pagi. Mereka bukan sedang memberi pelayanan medis atau melakukan kegiatan dinas. Mereka menggelar unjuk rasa damai menuntut adanya perlindungan dan pengamanan saat menjalankan tugas.

Oleh Zack Tonu Bala

KEAMANAN para bidan di Manokwari terutama yang bertugas di tempat-tempat terpencil sedang jadi sorotan menyusul terjadinya kasus pemerkosaan terhadap seorang bidan desa yang bertugas di Puskesmas Mobja, distrik Masni, Manokwari 5 Desember 2014.

Korban sebut saja I, tidak hanya mengalami kekerasan seksual tapi juga kekerasan fisik yang membuat yang bersangkutan mengalami trauma yang dalam. Terduga pelaku sudah ditahan pihak berwajib, namun sampai saat ini belum ditetapkan sebagai tersangka.

“Kami sudah melayani masyarakat dengan baik tapi kenapa masyarakat membayar dengan cara seperti itu, kami tidak terima, “ kata Rosmilka Kama setengah terisak. Rosmilka merupakan koordinator aksi yang juga Ketua IBI Kabupaten Manokwari.

Kasus pemerkosaan yang dialami salah seorang rekan mereka, menurut Rosmilka, menjadi ancaman nyata yang kini dihadapi para bidan saat bertugas. Sesungguhnya, di lapangan mereka sering kali menghadapi situasi yang tidak jauh berbeda. Mulai dari cacian dan makian, pelecehan hingga ancaman pemukulan sudah berulang kali dialami para bidan.

“Kami mohon tolong lihat kami, dengar kami bidan-bidan yang bekerja di desa-desa. Kami dituntut dinas untuk tinggal di desa-desa untuk menekan angka kematian, tapi keamanan kami tidak diperhatikan, “ seru seorang bidan lainnya.

Para bidan menyesalkan lambannya respon Pemkab Manokwari terhadap kasus tersebut. Ini menjadi alasan kenapa mereka memilih melakukan demonstrasi damai langsung ke kantor bupati.

“Menuntut perlindungan terhadap bidan yang sedang bertugas. Pemerintah bertanggungjawab jika ada kekerasan yang dialami bidan saat menjalankan tugas,” lanjut Rosmilka saat membacakan pernyataan sikap para bidan.

Mereka mendesak, Pemkab Manokwari mengambil sikap untuk mempercepat proses hukum terhadap terduga pelaku yang saat ini sudah ditahan Polisi.

“Kami minta pelaku dihukum sesuai hukum yang berlaku jangan diselesaikan dengan adat. Kami mendesak pelaku segera dijadikan tersangka. Kami beri waktu 2x 24 jam sejak aspirasi disampaikan, kalau tidak ada respon, kami IBI Manokwari akan melakukan aksi mogok kerja, “ tandas Rosmilka.

Sekda Marah-marah

Para bidan sejatinya ingin menyampaikan aspirasi mereka langsung kepada Bupati Bastian Salabai. Itu sebabnya, mereka sengaja memilih waktu usai pelaksanaan apel gabungan yang dipimpin Bupati.

Namun keinginan para bidan itu kandas karena Sekda Drs.FM. Lalenoh bersama sejumlah asisten yang datang menemui mereka. Berdalih, Bupati akan mengikuti acara lain pada waktu bersamaan sehingga dia yang diutus untuk mewakili.

Sempat terjadi perdebatan karena para bidan ngotot untuk bertemu Bupati. Anehnya, tidak hanya menolak tuntutan para bidan untuk bertemu langsung dengan Bupati, Sekda juga melarang para bidan untuk bergerak lebih dekat ke arah tangga kantor bupati.

Lalenoh bahkan sampai membentak salah seorang pejabat yang sebelumnya mempersilahkan para bidan untuk lebih dekat ke kantor bupati.

“Stop, stop, berhenti di sini. Siapa yang perintah itu, saya ini Sekda, saya yang mewakili bupati, “ teriak Lalenoh sembari meminta personil Satpol PP membuat pagar betis.

Lalenoh kemudian menegaskan, Pemda akan mengawal proses hukum terhadap pelaku pemerkosaan. Dia berjanji akan bertemu langsung dengan Kapolres untuk meminta agar pelaku tetap diproses hukum.

“Siang ini (kemarin) juga saya akan bertemu dengan Kapolres. Pemda tetap akan mengawal,“ tandasnya.

Merasa penjelasannya kurang dihiraukan, Lalenoh kemudian balik bertanya, “Kalian tidak percaya saya, kalian tidak percaya Sekda ?” tukasnya dengan wajah merah padam menahan emosi.

Sikap Sekda yang terkesan arogan itu membuat para bidan kecewa. Mereka merasa, Pemda seolah tidak menganggap ancaman besar yang kini menghantui keselamatan para bidan saat bertugas.

“Kita ini demo baik-baik kok caranya seperti ini, macam kita ini mau datang bikin kaco kah,“gerutu seorang bidan. Setelah berunjuk rasa di kantor bupati, mereka kemudian menuju ke kantor DPRD untuk menyampaikan aspirasi yang sama. (*)

One comment

  1. Sekda adalah bagian dari Bupati agar menerima semua aspirasi sebagai seorang pemimpin banyak sabar.

Tinggalkan Balasan