Landasan pacu Bandara Rendani Manokwari, nampak sebuah pesawat hendak lepas landas.
Landasan pacu Bandara Rendani Manokwari, nampak sebuah pesawat hendak lepas landas.

Rencana Perluasan Bandara Rendani Kembali Dibahas

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan bersama Dinas Perhubungan, Informatika dan Komunikasi Provinsi Papua Barat kembali menggelar pertemuan yang membahas kelanjutan Pembangunan Perpanjangan Runway Rendani Manokwari.

Bertempat di ruang Sasana Karya Kantor Bupati Manokwari pada, Senin (31/10/2016), pertemuan tersebut mengagendakan pembahasan handout studi LARAP (Land Acquistion And Resettlement Action Plan) perpanjangan Runway Rendani.

Dihadiri Kepala Bandara Rendani Manokwari, Kepala Pertanahan Manokwari, serta pihak Perhubungan Provinsi Papua Barat serta Perhubungan Kabupaten Manokwari. Bupati mengharapkan agar rencana perpanjangan Runway dimaksud dapat terealisasikan dalam waktu dekat.

Dikatakan bupati, target utamanya adalah menghadirkan Runwar Rendani yang lebih panjang dari yang dimiliki Manokwari saat ini, karena dengan panjanganya Runway maka dengan sendirinya para maskapai penerbangan dengan layanan penerbangan terbaik di Indonesia dapat landing (mendarat) di Kabupaten Manokwari yang merupakan Ibukota Provinsi Papua Barat.

Dikatakan, Kabupaten Manokwari harus bisa bersaing dengan Kota Sorong yang telah merombak wajah bandaranya beberapa waktu lalu, dimana dengan perombakan tersebut juga beberapa maskapai berbintang telah singgah di Kota Sorong.

“Saya dapat informasi bahwa Batik Air saja sudah masuk di Sorong, terus kita Manokwari ini kapan, mudah-mudahan ini langkah awal untuk membawa perubahan di tahun yang akan datang,” jelas bupati.

Sejauh ini hanya tiga maskapai yang telah membuka layanan penerbangannya ke Kabupaten Manokwari yakni Sriwijaya Air, Garuda serta Express Air.

Diakuinya, rencana pemerintah melakukan perluasan Bandara Rendani telah mendapat beberapa penolakan dari masyarakat setempat.

Namun terdapat keuntungan lainnya jika perpanjangan Runway tersebut dapat terwujud, dimana masyarakat Manokwari dapat menikmati beberapa pilihan maskapai terbaik dengan harga terjangkau.

“Saya kira untuk proses awal pasti ada penolakan dari masyarakat yang terkena relokasi dan itu bukan terjadi di Manokwari saja, tetapi di daerah lain juga demikian, dan saya mau kita bisa sikapi ini secara bersama-sama,” ujar bupati.

Ditegaskan jika hal ini terwujud, maka pemerintah telah menyiapkan lahan di Kampung Soribo untuk dijadikan sebagai tempat relokasi warga Taman Ria yang terkena dampak perpanjangan Runway Rendani.

Dimana beberapa ganti rugi seperti tanah, bangunan serta tumbuhan juga telah dipersiapkan oleh pemerintah, mengingat hal tersebutlsh yang saat ini diminta oleh masyarakat setempat.

Ia juga menyebutkan, sejauh ini dirinya telah berkoordinasi dengan pemerintah Provinsi Papua Barat untuk menyelesaikan perpanjangan Runway Rendani, dimana hal tersebut bertujuan untuk mengetahui berapa besaran anggaran yang harus dikeluarkan oleh pemerintah baik Provinsi Papua Barat maupun Kabupaten Manokwari.

“Karena masalah bandaran ini bukan semata-mata tanggungjawab satu pihak saja, tetapi tanggungjawab kita semua,”sambung bupati.

Sementara itu Dinas Perhubungan Informatika dan Komunikasi Papua Barat, melalui konsultan asal Bandung, Jawa Barat, dalam paparannya menjelaskan, studi LARAP yang dilakukan ini mempunyai maksud untuk mengidentifikasi daerah yang terkena dampak pembangunan perpanjangan Runway Rendani.

Dimana seiring dengan laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Manokwari yang tiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar 2,74 persen, maka perpanjangan Runway Rendani guna menghadirkan banyak maskapai di Kabupaten Manokwari dirasa tepat, guna memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menggunakan transporatasi udara.

Dalam pemaparan handout LARAP, juga dijelaskan, dampak dari proyek tersebut berdasarkan pengamatan di lapangan serta wawancara warga sekitar 265 persil yang tekena dampak, diantaranya 236 rumah warga dan 28 non perumahan, dimana dari hasil survey lapangan diketahui pengguna lahan diwilayah yang terkena dampak cukup bervariasi, seperti pemukiman warga, lahan kosong, kebun pinang, perairan serta kolam.

Sedangkan dalam materi estimasi besaran kompensasi, diketahui luas lahan yang terkena dampak perpajangan Runway Bandara Rendani diperkirakan seluar 55.157 meter persegi, sementara untuk luas bangunan yang terkena dampak diperkirakan sebesar 32.991 meter persegi.

Praktis dari hasil perhitungan dengan menggunakan pendekatan maksimum diketahui Besaran kompensasi (lahan dan bangunan) sebesar Rp.70.195.326.000,-. Sementara dengan menggunakan pendekatan Minumum diketahui estimasi besaran kompesasi (lahan dan bangunan) sebesar Rp.45.708.957.000,-.

Diketahui sesuai rencana Pemerintah Kabupaten Manokwari, perpanjangan Runway Rendani Manokwari sepanjang 700 meter dan luas mencapai 250 meter, tentunya jika ini terwujud maka Bandara Rendani Manokwari akan mejadi salah satu bandara terpanjang di Papua Barat.

Perlu diketahui juga, Runway Rendani Manokwari memiliki panjang 2000 meter dengan luas 45 meter dari total luas lahan 1.298 ha. (ACS)

Tinggalkan Balasan