Agus Sumule

Rencana Sekolah Sehari Penuh Sebaiknya Tidak Dibatalkan

Oleh: Agus Sumule

SEKOLAH sehari penuh yang digagas oleh Mendikbud yang baru, Muhadjir Effendy, tampaknya tidak akan berwujud lantaran begitu banyak protes dari seluruh penjuru negeri.  Padahal, setiap gagasan, sepanjang demi kebaikan banyak orang, seharusnya dibiarkan bergulir selama beberapa waktu  supaya bisa diperkaya oleh masyarakat luas.  Biarlah proses pengayaan seperti itu yang kemudian membawa kita kepada keputusan menerima atau menolak suatu gagasan.

Ada banyak sekolah di nusantara ini yang dioperasikan pada kondisi yang jauh dari ideal.  Di perkotaan dan daerah pedesaan yang relatif maju setiap sekolah umumnya memiliki guru yang lumayan lengkap.  Selain itu, fasilitas seperti perpustakaan dan komputer umumnya tersedia bagi para murid.  Tetapi di daerah-daerah terpencil di nusantara ini, banyak sekolah yang dioperasikan oleh hanya satu-dua orang guru.  Selain itu, kampung-kampungnya hampir pasti tidak dialiri listrik.  Jadi, tidak mungkin bagi anak-anak di kampung-kampung itu untuk belajar di malam hari sebelum mereka tidur.  Para orang tua mereka pun banyak yang buta huruf, sehingga tidak ada yang membantu mereka mengerjakan PR yang diberikan guru.  Atau, tidak jarang kebun/huma mereka terletak jauh dari kampung, sehingga ketika anak-anak pulang sekolah di siang hari,  mereka harus menunggu sampai sore menjelang malam untuk bisa makan sebelum tidur.

Sekolah seperti apa yang cocok diterapkan pada situasi seperti ini?  Sistem sekolah yang bagaimana yang cocok untuk menolong puluhan juta anak sekolah yang tinggal di daerah-daerah terpencil dan terbelakang di Indonesia?

Sekolah sehari penuh adalah jawaban atas masalah seperti itu.  Anak-anak bisa datang ke sekolah pagi-pagi – katakanlah jam 06:00.  Sampai di sekolah mereka mandi dan sarapan bersama.  Akan jauh lebih baik lagi apabila mereka diberi siraman rohani.  Sesudah mereka bersama-sama membersihkan piring, sendok, dan gelas, mereka mengenakan pakaian seragam sekolah.  Pakaian seragam dan sepatu, demikian pulu buku-buku dan alat tulis, tidak dibawa pulang ke rumah, tetapi disimpan di locker di sekolah.

Tepat jam 07:30, mereka mulai belajar – normal, seperti semua sekolah di Indonesia.  Sesudah sekolah usai (pada jam 10 pagi untuk kelas 1-2, atau jam 1 siang untuk kelas 3 ke atas), mereka tidak langsung pulang.  Mereka berganti pakaian di sekolah, makan siang, kemudian ke perpustakaan.  Perpustakaan yang kita bayangkan dalam konteks ini bukan sekedar gudang buku, tetapi tempat di mana anak-anak bisa belajar mandiri.  Di perpustakaan seperti ini ada buku, majalah, komputer, video, alat musik, dan lain-lain.  Anak-anak bisa beristirahat sambal membaca.  Yang tidak kalah pentingnya, mereka pun bisa mengerjakan PR di perpustakaan itu.  Yang pandai mengarang, bisa menggunakan komputer untuk mengarang.  Yang ingin tahu tentang tata surya, bisa menonton video tentang pluto, yupiter, dan kawan-kawannya.

Sore hari, sekitar jam 16:00, mereka pulang ke rumah.  Satu-dua jam kemudian, ayah dan ibu tiba kembali dari kebun.  Anak-anak bisa bercengkerama dengan orang tua sambal membantu mereka menyiapkan santap malam.  Jam 09:00 mereka semua sudah bisa tidur, untuk kemudian bangun keesokan harinya guna memulai hari baru.

Siapa yang harus menjadi guru, ketika guru pemerintah hanya ada satu-dua orang yang bekerja di sekolah-sekolah terpencil?  Perbesar dan perluas program Indonesia Mengajar-nya Prof. Anies Baswedan.  Tercatat ada 3.320 perguruan tinggi di Indonesia.  Pasti banyak mahasiswa dan alumni yang bersedia mengabdi menolong Saudara-saudaranya dengan mengajar di sekolah-sekolah di tempat terpencil.

Siapa yang harus memasak untuk sarapan pagi dan makan siang anak-anak di sekolah sehari penuh?  Siapa yang harus mencuci dan menyeterika seragam mereka?  Siapa yang harus menyediakan bahan makanan bagi anak-anak itu? Para mahasiswa/alumni itu bisa sekaligus menjadi community organizer di kampung-kampoung.  Mereka bisa mengorganisir para orang tua untuk secara bergiliran memasok bahan makanan ke sekolah.  Ibu-ibu di kampung bisa dijadualkan untuk bekerja berkelompok memasak makanan serta mencuci dan menyeterika pakaian seragam anak-anak.

Hal-hal yang dikemukakan di atas bisa dicapai melalui “Sekolah Sehari Penuh”-nya Muhadjir Effendy yang dikombinasikan dengan “Indonesia Mengajar”-nya Anies Baswedan.  Rakyat Indonesia yang mampu bisa bergotong-royong menyiapkan dana dan/atau membangun fasilitas WC, kamar mandi, aula makan, lockers dan perpustakaan di sekolah-sekolah.  Sederhana saja – tidak perlu mewah.  Yang penting fungsional.  Perusahaan-perusahaan bisa membantu menyedian fasilitas listrik tenaga surya supaya peralatan elektronik di perpustakaan bisa dioperasikan.  Mereka juga bisa mendonasikan komputer, video, atau peralatan lain yang memudahkan anak-anak untuk mengembangkan diri dan menimba ilmu.

Kalau semua ini kita kerjakan dengan semangat gotong royong dan didasari rasa cinta kasih bagi generasi muda kita, maka peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan pendidikan dasar yang bermutu akan melesat dengan cepat.  Saya yakin, dalam waktu kurang dari 5 tahun anak-anak kita yang berada di lembah Kebar, Papua Barat, atau di Anggruk, Papua, atau di tempat-tempat terpencil di Maluku, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi – atau bahkan di Sumatera dan Jawa, akan memiliki pelayanan pendidikan dan tingkat penguasaan IPTEK yang tidak ada bedanya dengan yang dinikmati teman-temannya di Jakarta dan Surabaya.

 

AGUS SUMULE

  • Pendidik/DEkan Fakultas Pertanian Universitas Papua, Manokwari

One comment

  1. saya kira apa yang disamapaikan kakanda cukup menarik mungkin sdh bisa di coba oleh unipa bekerjasama dengan instansi terkait ataupun LSM, perusahan -perusahan yang peduli terhadap dunia pendidikan dengan demikian orang akan meniru apabila ide atau gagasan tersebut berhasil.tks

Tinggalkan Balasan