Ilustrasi. | Ist

12 Persen Responden Pelajar SMP Mengaku Pernah Berhubungan Seks

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com— Hasil riset terbaru Perkumpulan Keluarga Besar Indonesia (PKBI) yang bekerjasama dengan Unicef mengungkap, 12 persen pelajar di 6 Sekolah Menengah Pertama di Manokwari pernah melakukan hubungan seks.

Gejala yang sama juga ditemukan di kota-kota besar di Tanah Papua seperti Kota Sorong, Kota Jayapura dan kabupaten Biak.

Riset ini diungkapkan dalam pertemuan pengembangan program KKB dan pertemuan kemitraan dengan IPKB tahun 2014 di Bily Jaya Hotel, Manokwari, Kamis (20/11/2014).

Dalam pertemuan itu disebutkan, riset dilakukan terhadap 150 pelajar. Hasilnya 12 persen pelajar kelas 3 SMP di sejumlah sekolah itu sudah pernah berhubungan badan layaknya suami istri. “Pelajar kelas 1 ditemukan 2 persen,” kata Direktur PKBI Papua Barat Olaf Frans Krey dalam pertemuan itu.

Olaf mengatakan jumlah pelajar yang telah melakukan hubungan seks ini cukup besar untuk ukuran Manokwari. “Ini memperihatinkan,” ucapnya.

Pria yang sudah berkecimpung sebagai relawan PKBI sejak 2007 bahkan mengungkap bahwa beberapa pelajar SMP yang pernah berhubungan seks itu juga merupakan pekerja seks.

Lebih jauh Olaf juga mengungkap, ditemukan mahasiswi yang tinggal di asrama di jadi korban seks di asrama hanya karena pengaruh ekonomi.

Menurut Olaf pelajar yang terjerumus sebagai pekerja seks beraktifitas pada malam hari.

Sementara itu menurut Olaf, sejumlah pelajar di kota-kota besar di Tanah Papua seperti Kota Jayapura, Kota Sorong dan kabupaten Biak juga ditemukan telah melakukan hubungan seks. Angkanya sekitar 12 persen dari responden. “Mereka rata-rata terjerumus karena masalah ekonomi seperti supermi, sabun mandi dll,” kata Olaf.

Selain itu, menurut Olaf, pengaruh pergaulan yang salah juga merupakan salah satu penyebab fenomena tersebut.

“Mereka (juga) takut menyampaikan perkembangan gejala dewasa kepada orang tua, akhirnya mereka komunikasi dengan teman. Dari situ mereka terpengaruh, akhirnya salah pergaulan, dan salah jalan sehingga terjerumus dan melakukan hubungan layaknya suami istri,” kata Olaf.

Olaf mengatakan sejauh ini pihaknya sudah melakukan sejumlah pencegahan dengan melakukan sosialisasi soal perkembangan seksual di sekolah-sekolah organisasi pramuka, keagamaan, juga melakukan konseling, termasuk menyiarkan informasi-informasi pendidikan seks melalui radio.

“Kami juga melakukan pendampingan kepada pegidap HIV yang jumlahnya kurang lebih 60 orang,” kata Olaf.

Pertemuan ini diinisiasi BKKBN dengan mengundang petugas klinik kabupaten/kota di Papua Barat, mitra IPKB, tenaga kader dari kabupaten Manokwari dan pekerja pers.

Ketua Panitia Bernadus Dedaida mengatakan kegiatan ini juga sekaligus untuk memberi pembekalan kepada para petugas pengelola data dan informasi pada klinik KB ditingkat kabupaten/kota. Pembekalan mengenai sistem pencatatan dan pelaporan program pelayanan kontrasepsi.

“Mereka diharapkan dapat menyajikan data sistem pelaporan pelayanan kontrasepsi yang cepat, tepat dan akurat,” kata Bernadus. |DINA RIANTI

 

EDITOR: DUMA TATO SANDA

One comment

Tinggalkan Balasan