Antrian kendaraan yang terpaksa berhenti di Kampung Guientuy, Distrik Warmare akibat massa memblokade Jalan Raya Manokwari-Warmare, kemarin.

ROMBONGAN BUPATI DIHADANG, JALAN MANOKWARI — WARMARE MACET 2 KM

MANOKWARI, cahayapapua.com—- Jalan raya Manokwari- Warmare, tepatnya di kampung Quientuy, Distrik Warmare, Rabu sekitar pukul 17.00 WIT diblokade warga setempat. Sebuah pohon besar sengaja ditebang untuk memalang badan jalan. Akibatnya, selama sekitar 1 jam, arus lalulintas dari dua arah macet sepanjang kurang lebih 2 kilo meter.
Pemblokiran jalan ini rupanya dilakukan untuk menghadang Bupati Manokwari Bastian Salabai bersama rombongan yang akan kembali ke Manokwari setelah melantik kepala kampung di distrik Prafi dan Warmare.
Aksi yang digalang para pemuda itu untuk mendesak Bupati segera memerintahkan pencairan dana guna menjawab proposal permohonan bantuan sosial yang diajukan masyarakat.
Mereka kesal dan kecewa lantaran sudah berulang kali bolak-balik menemui Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD) maupun bendahara Bansos. Namun, meski telah mengantongi disposisi Bupati maupun Wakil Bupati, uang tak kunjung cair.
“Kami minta Bapak Bupati sekarang ini perintahkan mereka untuk bayar. Kami tidak mau dijanji-janji terus, tapi tidak ada bukti, “ kata Paulus Ullo, salah seorang dari para pemuda.
Warga juga mempertanyakan alasan Pemda tidak mengalokasikan anggaran untuk pembayaran proposal dalam APBD 2015.
“Katanya baru dianggarkan tahun 2016. Kalau ada Bupati baru, apakah dia akan mau membayar. Makanya kami minta ada kepastian pembayaran hari ini juga. Karena masyarakat sudah menunggu dari 2012, “ ucap Hans Ayok, tokoh pemuda Warmare.
Bupati mengakui, dirinya pernah mengeluarkan disposisi untuk memerintahkan pembayaran proposal yang diajukan masyarakat. Namun karena proposal yang masuk begitu banyak, dia sendiri tidak tahu persis disposisi yang dikeluarkan itu untuk proposal mana saja.
“Disposisi yang saya keluarkan itu (ada lambang) Garuda Mas. Jadi itu sudah langsung ke (dinas) keuangan. Tapi kalau belum dibayar berarti saya harus cek lagi kenapa itu belum dibayar, “ujar Salabai yang tetap sabar meski diberondong dengan berbagai pernyataan dari massa yang ikut dalam aksi tersebut.
Salabai juga berjanji akan memanggil Kepala Dinas PPKAD Ferry Lukas dan Bendahara Bansos Sem Ayorbaba untuk menanyakan apa alasan yang membuat disposisi Bupati belum juga dicairkan.
Sempat terjadi perdebatan perihal berapa lama waktu sampai diperoleh kepastian pembayaran. Massa bersikeras menolak membuka palang apabila tidak ada kepastian kapan dana proposal dibayarkan.
Namun setelah mendapat jaminan dari Bupati, massa akhirnya mau membuka blokade jalan. Arus lalulintas pun kembali normal setelah blokade jalan dibuka oleh warga setempat dibantu aparat keamanan dari polisi maupun TNI.
|ZACK TONU BALA