Ilustrasi. Foto: Ist

43 Ibu Hamil di Papua Barat Meninggal Selama 2014

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com-Kasus kematian ibu pada masa kehamilan persalinan dan nifas (Maternal), serta kasus kematian anak di Provinsi Papua Barat pada kurun waktu tahun 2014 masih tinggi.

Menurut data Dinkes Papua Barat, angka kematian Ibu per Oktober 2014 mencapai jumlah 43 kasus. Angka itu tidak jauh berbeda dengan angka kematian sepanjang kurun waktu tahun 2013 yang mencapai 57 kasus, dan yang paling tertinggi berada di Kabupaten Teluk Bintuni, Kaimana, Manokwari dan Fakfak.

Sementara kasus kematian bayi yang meninggal di bawah umur 28 hari (Neonatal) per Oktober 2014, sebanyak 114 kasus tidak jauh berbeda dengan kasus kematian ibu tahun 2013 yang mencapai 157 kasus dan paling tinggi berada di Kabupaten Teluk Bintuni, Kota Sorong, Kaimana dan Kabupaten Manokwari.

Lebih lanjut Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Papua Barat, dr. Victor Eka Nugraha menjelaskan, angka kematian bayi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (Data Tahun 2010 – 2013, red) mengalami fluktuasi yang relatif tidak jauh berbeda alias stabil. Kondisi ini menandakan belum ada angka penurunan yang signifikan.

Data tiga tahun terakhir untuk kasus kematian ibu tahun 2010 sebanyak 50 kasus, tahun 2011 sebanyak 13 kasus, 2012 sebanyak 47 kasus dan tahun 2013 sebanyak 57 kasus. Keempat kabupaten yang terus mengalami kasus paling tinggi adalah Kabupaten Manokwari, Fak-fak, Teluk Bintuni dan Sorong Selatan.

Sementara kematian neonatal tiga tahun terakhir juga menunjukan data fluktuatif yakni tahun 2010 sebanyak 177 kasus, tahun 2011 sebanyak 126 kasus, tahun 2013 sebanyak 157 kasus, dan tahun 2014 sebanyak 146 kasus. Kabupaten yang memiliki kasus tertinggi adalah Kabupaten Manokwari, Teluk Bintuni, Kota Sorong dan Fak-fak.

dr. Victor mengaku kematian ibu lebih banyak diakibatkan oleh pendarahan, baik pada kehamilan maupun pasca persalinan, dan biasa disebut hipertensi dalam kehamilan. Kondisi ini konon terjadi ketika ibu akan melahirkan serta mengalami tensi darah tinggi, kejang-kejang dan kaki bengkak.

Kasus kematian pada bayi baru lahir, penyebab utamanya disebut afiksia atau gangguan pernafasan. Umumnya, berat bayi ketika lahir berat tidak mencukupi. Kondisi ini harus dicegah bukan saja pada saat persalinan, tetapi jauh sebelum itu terutama pada masa kehamilan ibu melakukan pemeriksaan rutin.

Kata Viktor, faktor gizi ibu juga sangat mempengaruhi saat kelahiran. Bahkan bukan hanya ibu saat hamil, namun ibu seorang perempuan masih remaja terutama pada saat anemia sebaiknya sudah bisa mendeteksi ketika sudah memasuki masa usia subur.

Terkait upaya dan program yang sudah dilakukan Dinkes Pemprov, Viktor mengaku belum dapat melakukan banyak hal, karena masih banyak faktor pelayanan kesehatan yang harus dibenahi.

“Untuk mencegah resiko di tingkat puskesmas, terutama puskesmas rawat inap, kita memiliki puskesmas yang mampu menangani gangguan Obstreti, Neonatal, Emergensi dan Dasar (Poned) dengan peningkatan fasilitas peralatan, SDM dan obat, sehingga masalah jarak dan waktu bisa teratasi karena masa emas penyelamatan ibu melahirkan adalah dua jam,” kata Viktor.

“Kami sudah mulai kembangkan di 29 Puskesmas Poned yang melakukan pelatihan di pusat klinik sekunder dan RSUD Manokwari. Kami hanya melatih nanti masalah sarana prasarana menjadi tanggungjawab di dinas kabupaten,” katanya. |DINA RIANTI

 

EDITOR: BUSTAM

Tinggalkan Balasan