Satu

Poro lagi serius nonton televisi di ruang tengah. Tiba-tiba dia pu mama datang dan ganti saluran. “Bah..orang lagi nonton berita baru ganti lagi,” poro jengkel. “Berita-berita apa…sa mau liat sinetron. Kamorang tara bosan liat berita ka? mace ganas. “Nonton berita supaya bikin otak tabuka.” “Yoo, tabuka supaya ikut-ikut bikin kerusuhan,” mace sindir. “Bicara-bicara tapi tadi sa baca di koran, kejaksaan dorang bilang tersangka korupsi yang masuk penjara, delapan puluh persen tu  pejabat,” Poro alihkan pembicaraan. “Kalau itu sa tara kaget. Bila perlu seratus persen. Karena pejabat dorang rata-rata pu kelakuan begitu. Apalagi kitorang pu masyarakat ni. Kalau su duduk lupa diri. Liat wang banyak, mata ijo. Sulap sana sulap sini. Kaget begini…. mobil baru, rumah baru, maitua baru. Yang ada di dorang pu otak tu bagaimana supaya bisa jalan-jalan ke Jakarta. Alasan bilang urusan dinas,” mace bicara tara pake rem. “Mama tau e,” poro senyum. “Sa ni orang tua, su makan asam garam. Kenyang liat dan dengar yang model begini. Tapi pejabat dorang korupsi ini juga karena dorang pu maitua-maitua. Mata tinggi, ingin banyak, ingin barang-barang bagus. Itu yang pengaruh dorang pu laki,” mace bicara kasih lengkap. “Iya e…” poro tinggal akui. “Jadi besok-besok kalau ko cari istri, jangan yang mata tinggi.” “Nanti sa cari yang mata satu…….

Tinggalkan Balasan