Bagian kawasan hutan gunung meja yang diketahui telah diubah menjadi kebun ditemukan tim monitoring Dishut Manokwari, Kamis (6/11/2014). Foto: CAHAYAPAPUA.com| Adith Setyawan

Sekitar 10 Persen Kawasan Hutan Lindung Gunung Meja Jadi Kebun

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com —Kawasan hutan lindung dan hutan wisata Gunung Meja letaknya di jantung kota Manokwari, dari luasannya mencapai 460,25 hektar, diprediksi 5 hingga 10 persen luasannya sudah beralih fungsi menjadi kawasan perkebunan. Lokasi perkebunan itu tersebar di beberapa titik hutan, baik di pinggiran hingga bagian dalam hutan.

Kepala Bidang BKSDA Wilayah II Manokwari, I.G. Ketut Suartana mengatakan pihaknya belum bisa menjelaskan secara detail berapa luasan kawasan hutan yang sudah beralih fungsi menjadi kebun, namun dari diprediksi sekitar 5 hingga 10 persen dijadikan kebun oleh masyarakat.

Menurut Ketut, langkah yang ditempuh masyarakat untuk membuka kebun dengan jalan menebang pohon justru akan sangat merugikan warga. Pasalnya, di satu sisi mereka mempunyai penghasilan melalui bercocok tanam, namun di sisi lain mereka kehilangan sumber daya alam. “Alasan utama adalah untuk mengembalikan hutan itu butuh proses bertahun-tahun,” ungkap Ketut, Kamis (6/11/2014).

Penegasan serupa juga disampaikan Kadis Kehutanan, Erens Ngabalin bahwa lokasi hutan yang saat ini telah menjadi kebun harus dikembalikan fungsinya menjadi hutan dengan melakukan penanaman pohon.

“Hutan gunung meja memiliki beberapa titik mata air. Jika terus- menerus ditebang, maka fungsi mata air itu akan hilang seperti yang terjadi di beberapa titik yang diakibatkan pengrusakan hutan. Karena itu masyarakat harus menjaga hutan, agar fungsi hutan yang beranekaragam berguna bagi masyarakat,” pesannya.

Berdasarkan hasil monitoring tim di pinggiran hutan lindung gunung meja, terdapat sebuah perkebunan warga yang luasannya mencapai 1.71 hektar. Terdapat pula satu kampung yang terletak persis di luar hutan lindung Gunung Meja.

“Kami telah cek kampung itu tidak masuk kawasan dan masih berada diluar, hanya saja harus ada jarak antara kampung dan hutan, kalo berbatasan langsung, dikuatirkan masyarakat akan masuk ke kawasan hutan tersebut. Minimal pasti ada aktivitas pembuangan sampah,” sebutnya.

Kata Erens, pihaknya telah berkoordinasi dan memberitahukan Kepala Kampung dan warga untuk memberikan batas antara kawasan hutan dan pemukiman.

Salah satu pemilik kebun, Ny. Agusta yang ditemui wartawan mengaku membuka kebun berdasarkan ijin kepala kampong. Dirinya tidak  mengetahui jika lokasi hutan tersebut merupakan kawasan hutan lindung. Hasil berkebun ia pasarkan ke Pasar Sanggeng dan Wosi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehari-hari.

“Sayuran ini kami jual di Sanggeng dan Wosi untuk dapat uang. Kalo yang tebang pohon-pohon ini kami tidak tahu siapa pelakunya, karena kami menanam di lokasi yang sudah ditebang sebelumnya,” ungkapnya dihadapan tim monitoring. |ADITH SETYAWAN

 

EDITOR: JUSRIWANTO

Tinggalkan Balasan