Klub motor Wondama Trail Club (WTC) membagikan buku kepada anak-anak kampung Muri di Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana, dalam bakti sosial mereka di daerah tersebut, Sabtu, 27 Januari 2018. Zack Tonu Bala/Cahaya Papua.

Sepenggal kisah bakti sosial komunitas motor di perbatasan Kaimana-Wondama

Sabtu, 27 Januari 2018. Matahari baru saja merekah di atas pegunungan Wondiboi. Belasan sepeda motor dengan kecepatan tinggi melaju di atas jalanan Kota Wasior yang masih tampak sepi. Mereka menuju bagian barat Ibukota Teluk Wondama. Namun, mereka bukan sedang balapan atau melakukan konvoi. Anak-anak motor dari Wondama Trail Club (WTC) itu ingin cepat berjumpa dengan warga pedalaman yang sudah menanti mereka.

TEMPAT  yang dituju adalah Kampung Muri Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana. WTC berkunjung ke kampung ini untuk melakukan  bakti sosial. Jarak dari Wasior menuju Muri lebih kurang 145 Km. Muri merupakan kampung terpencil di Kabupaten Kaimana yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Nabire.

Dibutuhkan sekitar 3 jam lebih  untuk sampai di kampung terpencil yang berada di perbatasan Kabupaten Kaimana-Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Nabire ini.

Rombongan WTC menyusuri jalan Trans Papua Barat ruas Wasior-Nabire yang sebagian besar masih berupa jalan rintisan. Jalan menanjak yang penuh batu-batu pecah, turunan tajam dan berkelok, jalan yang licin dan penuh lubang hingga harus menembus belasan sungai/kali menjadi tantangan  sepanjang perjalanan.

Meski sempat diwarnai insiden jatuhnya salah satu anggota rombongan, namun touring ke Kampung Muri tetap berjalan sesuai rencana. Rombongan tiba di Muri sekitar pukul 13.15. Mereka disambut Kepala Kampung warga setempat.

Bentuk bhakti sosial yang dilakukan berupa pemberian bantuan sembako, pakaian layak pakai dan alat peraga bagi anak-anak sekolah. WTC juga menggandeng Dinas Kesehatan untuk melakukan pengobatan gratis bagi warga setempat.

Bakti sosial yang digelar klub motor yang berbasis di kota Wasior inipun disambut suka cita warga setempat.

“Kami sangat berterima kasih untuk adik-adik yang datang ke sini. Kami di sini sangat jarang dapat perhatian dari Pemerintah Kaimana. Ini sangat membantu masyarakat saya di sini, “ kata Kepala Kampung Jitro Samiata.

Jitro mengaku terharu lantaran yang datang memberikan bantuan dan layanan kesehatan orang dari kabupaten lain.

“Seharusnya pemerintah Kaimana yang buat seperti ini. Tapi ini yang kasih perhatian dari Wondama. Kami merasa kecewa dengan pemerintah kami (Kaimana) karena selama ini tidak ada perhatian, “ ujar Jitro.

“Tim kesehatan seperti ini pernah ada. Tapi satu tahun satu kali saja. Di sini ada Pustu tapi tidak ada petugas jadi kalau ada yang sakit kami hanya pasrah saja kepada Tuhan, “ kata Jitro lagi.

Abia Samiata, pelajar kelas II SDN Muri mengaku sangat senang bisa mendapatkan alat peraga berupa beragam mainan, buku gambar dan pensil berwarna serta pakaian layak pakai.

“(Kami) senang dapat barang-barang ini karena di sekolah tidak ada, “ ujar Abia yang tampak semangat bersama belasan teman-temannya mengikuti kegiatan mewarnai.

Wakil Ketua WTC Zulkarnain Bian mengatakan pihaknya terpanggil menggelar bakti sosial di kampung Muri karena prihatin dengan kondisi warga setempat yang jarang mendapatkan perhatian dari Pemda.

“Kita lakukan bakti sosial di sini karena mereka di Muri ini jauh dari jangkauan Kabupaten. Daerahnya masih terpencil,  di sini juga tidak ada petugas medis jadi kita datang bawa petugas medis sekaligus bawa alat peraga untuk anak sekolah karena guru juga jarang, “ jelas Zul, demikian panggilan karibnya.

Zul mengatakan pihaknya tidak melihat Muri sebagai wilayah kabupaten lain. Apa yang mereka lakukan semata-mata sebagai bentuk solidaritas sebagai sesama manusia yang membutuhkan perhatian.

“Walaupun  kami berbeda kabupaten, tapi karena jarak ini kami bisa tempuh maka  tujuan kami  ke sini juga sekaligus bersilahturami dengan masyarakat supaya kalau kami melintasi jalur ini masyarakat sudah mengenal kami, “ terangnya.

Terlepas dari itu, sebagai anak motor, WTC berharap apa yang mereka lakukan itu bisa menghapus imej negatif yang selama ini masih disematkan kepada geng motor.

“Anak motor kan selama ini dianggap hanya tahu balap-balapan liar, suka bikin masalah tapi kami buktikan kalau anak motor itu juga punya kepedulian sosial, “ tambah Yefta Siregar, Ketua WTC.  | ZACK TONU BALA

Leave a Reply

%d bloggers like this: