Senjata Petembak Runduk (SPR) buatan PT.Pindad. Senapan khusus sniper yang banyak digunakan para sniper Indonesia ikut dipamerkan pada pameran Alutsista di Lapangan Borarsi, Manokwari, baru-baru ini. Foto : CAHAYAPAPUA.com | ZAKARIUS TONU BALA

‘Si Ramping’ Andalan Sniper Itu Ternyata Buatan Negeri Sendiri…

CAHAYAPAPUA.com—-

BENTUKNYA boleh lebih kecil dan ramping dibanding model sejenis di kelasnya. Kalibernya memang hanya 7,6 mm, masih kalah jauh dibanding senjata dengan tipikal serupa yang bisa mencapai 12,7 mm. Namun jangan remehkan ‘Si Ramping’ yang satu ini. SPR atau senjata petembak runduk, demikian nama senjata khusus penembak jarak jauh itu. Meski tidak secanggih senjata serupa lainnya, SPR memiliki keunggulan tersendiri yakni akurasi tembakan yang sangat persisi. Tidak heran, SPR menjadi andalan banyak penembak jitu (Sniper) di Indonesia.

“Kita lebih senang pakai SPR karena ini lebih jitu. Saya sudah banyak coba senjata yang lain tapi SPR lebih bagus dari semuanya, “ kata Praka Jumlin, anggota penembak jitu TNI AD dari Kompi C Batalyon 752 Arfai, Manokwari di stand pameran alat utama sistem persenjataan (Alutsista) di lapangan Borarsi Manokwari, Selasa (5/1).

SPR merupakan salah satu senjata berat yang ditampilkan dalam pameran Alutsista yang digelar TNI-AD, 5-6 Januari di lapangan Borarsi Manokwari. Senjata yang memiliki panjang 1555 MM dengan jarak tembak efektif 1000 sampai 1500 meter itu merupakan salah satu koleksi milik batalyon 752 Arfai.

Jumlin mengaku, dirinya sudah menggunakan senjata khusus petembak jarak jauh seperti Black Arow buatan Cekoslavia maupun Galil buatan Israel yang juga dimiliki oleh Batalyon 753. Namun tetap saja dirinya merasa lebih sreg memakai SPR.

“SPR lebih bagus. Dia lebih jitu dari stayer lainnya, “ ucapnya. Yang membanggakan, senjata khusus sniper itu merupakan produksi dalam negeri. SPR pertama kali diproduksi PT.Pindad Indonesia pada 2007. SPR terdiri atas 3 jenis yakni SPR-1, SPR-2 dan SPR-3. Perbedaan utamanya ada pada sistem mekanisnya. SPR-1 dan SPR-2 masih manual, sementara SPR-3 sudah otomatis.

“Senjata ini biasa dipakai untuk pengamanan khusus tamu VIP. Waktu Presiden (SBY) ke sini (meresmikan situs Mansinam) kita pakai ini untuk pengamanan dari ketinggian, “ jelas Serda Anin Nur, petugas pada stan khusus senjata sniper.

Baik Serda Anin Nur maupun Praka Jumlin menyatakan, senjata buatan PT. Pindad sudah tidak kalah dari buatan luar negeri. Keduanya pun mengaku bangga menggunakan senjata produksi anak negeri sendiri.

“Senjata buatan kita (Pindad) sudah setara dengan buatan luar negeri mas. Kita (TNI) dapat gelar juara dunia lomba tembak 7 kali dengan senjata buatan Pindad. Jadi kita tidak harus minder dengan buatan kita sendiri, “ ujar Serda Anin Nur.

Sesuai pantauan, stand senjata penembak jarak jauh menjadi salah satu yang paling ramai didatangi para pengunjung pameran. Banyak pengunjung menjadikan senjata berat itu sebagai objek foto.

Pameran Alutsista TNI-AD itu resmi ditutup Selasa petang kemarin. Selama dua hari, pameran persenjataan itu mendapat antusiasme yang cukup tinggi dari masyarakat Manokwari. | ZACK TONU BALA

 

Tinggalkan Balasan