Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Papua Barat memasang papan nama penyitaan aset mantan ketua harian KONI Papua Barat Albert Rombe, tersangka kasus korupsi dana hibah pembangunan kantor KONI Papua Barat tahun 2012 dan 2013 di Jalan Jenderal Sudirman, Manokwari. Penyidik menyita 7 ruko dan satu gudang di empat lokasi berbeda.

Sidang Kasus KONI Papua Barat: Terdakwa Sebut Saksi Berbohong

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi KONI Papua Barat di Pengadilan Negeri Manokwari, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan saksi fakta yakni mantan ketua harian KONI tahun 2012, Yanuarius Renwarin.

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Sony Alfi, SH serta dua wakil majelis hakim, saat majelis hakim menanyakan perihal kapasitas saksi dalam kepengurusan KONI di tahun 2012 serta kaitan dengan pembangunan kantor KONI, Yan Renwarin sebagai saksi mengatakan, saat menjabat sebagai Ketua Harian KONI di tahun 2012, dirinya tidak pernah mengusulkan atau membuat proposal terkait dana pembangunan kantor KONI.

“Saat saya menjabat di tahun 2012 hanya ada hibah dari Pemerintah Provinsi untuk biaya atlit untuk mengikuti PON, saat itu dalam bentuk NHPD yang saya tanda tangani dengan nilai Rp 80 miliar antara Pemprov dan KONI,” jelasnya.

Meskipun demikian, saksi mengaku saat masih menjabat sebagai ketua harian, terdakwa yang saat itu menjabat Kepala Bagian Perencanaan dan Anggaran pernah mengusulkan dua program dari item untuk di tanda tangani.

“Pada Februari 2012 dari  bidang perencanaan dan anggaran  mengajukan proposal terdiri dari 7 item, lima terkait PON dan dua item persiapan  pembangunan KONI,” jelasnya.

Di sisi lain terdakwa Albert Rombe dalam persidangan mengaku pernah mentransfer uang kepada saksi Yan Renwarin di bawah Rp 600 juta atas permintaanya, namun hal itu pun di bantah oleh saksi. Menurut saksi uang tersebut di transfer guna biaya transportasi peserta PON.

“Uang yang di transfer ke rekening saya saat saya ada di lokasi PON, saat itu di transfer Rp 150 juta lewat BNI untuk kebutuhan transportasi di lokasi PON, sebab mengurus transportasi harus di bayar DP (uang muka),” kata Yan di hadapan Majelis Hakim.

Sontak terdakwa Albert Rombe menyebut saksi berbohong, bahkan dia beberapa kali mengantar uang ke Yan Renwarin juga melalui transfer.

“Majelis hakim saksi berbohong, saudara dalam memberi kesaksian di bawah sumpah Al-Kitab, hanya Tuhan Yesus saja yang tau, saya bahkan pernah mengantar uang cash Rp 100 juta ke saudara, ” ujar Rombe saat diberi kesempatan oleh Majelis Hakim bertanya ke saksi.

Selain pertanyaan seputar usulan program, serta tahapan dana hibah yang di peroleh KONI, saksi juga dicerca pertanyaan seputar rencana pembangunan gedung KONI. Yan Renwarin dalam usulan harusnya di bangun spot center, serta tanah yang akan di lakukan pembangunan.

Terdakwa menyebut usai PON di Riau tahun 2012 pernah dihubungi Yan Renwarin untuk mencari tanah yang akan di bangun sport center.

“Periode pertama selaku bidang perencanaan anggaran, waktu itu selesai PON dari Kaltim, tolong cari tanah untuk pembangunan spot center, ” ujar Rombe.

Namun hal itu di bantah oleh Yan Renwarin, dikatakan   terkait lahan spot center sudah di rencanakan oleh bagian perencanaan.

“Pada saat itu tanah Susweni sudah di sediakan oleh Pemerintah Daerah saat itu melalui Bupati Dominggus Mandacan, ” katanya.

Meskipun terdakwa mengaku dia yang mengerjakan pagar keliling kantor KONI waktu awal pembangunan hal itu juga di bantah oleh Yan Renwarin

“Setahu saya pagar dan jalan itu di buat oleh Dinas Pekerjaan Umum,” bantah Yan yang juga saat ini sebagai tersangka dalam kasus pembangunan KONI Papua Barat.

Dalam sidang tersebut saksi beberapa kali mengelak atas pertanyaan Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum maupun penasehat hukum terdakwa, bahkan Jaksa Penuntut Umum membandingkan pertanyaan dengan keterangan saksi saat memberi keterangan di penyidik Polda Papua Barat, hal itu juga dibantah oleh Yan Renwarin.

Dalam sidang tersebut hanya di hadirkan satu saksi oleh Jaksa Penuntut Umum. Terdakwa Albert Rombe di dampingi dua penasehat hukumnya. Sidang akan di lanjutkan pekan depan dengan agenda masih  menghadirkan saksi dari jaksa. (MAR)

Tinggalkan Balasan