Solidartas Kemanusiaan dan Keadilan

Soal Pembunuhan Frelly, Warga Diminta Hormati Proses Hukum

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com—- Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Papua Barat, Stepanus Selang, mengapresiasi langkah maju aparat penegak hukum dalam penyelidikan kasus pembunuhan Ny. Frelly dan dua anaknya di Teluk Bintuni.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang oknum anggota TNI, Semuel Jitmau, telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Meyusul adanya kemajuan itu, Stepanus menghimbau warga terutama warga etnis Toraja di Papua Barat agar tetap menghormati dan mengedepankan proses hukum.

Menurut Selang, sikap untuk mengedepankan proses hukum sangat penting untuk memberi ruang kepada aparat penegak hukum agar bekerja secara profesional dan seadil-adilnya dalam mengungkap kasus ini.

“Penting kami sampaikan kepada seluruh warga terutama etnis Toraja agar melihat ini sebagai masalah kriminal. Tidak perlu disangkut-pautkan dengan persoalan etnis karena bisa menjadi pintu masuk bagi pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana,” ucapnya usai bertemu dengan sejumlah pengurus IKT Papua Barat dan Wakil Ketua DPRD Teluk Bintuni sekaligus wakil keluarga korban, Dan Topan Sarungallo di Manokwari, Minggu (27/9) malam.

Di sisi lain, penghormatan terhadap hukum juga dimaksud untuk menjaga kondusivitas Papua Barat. Apalagi hal ini sudah merupakan komitmen bersama yang disepakati pemimpin sejumlah kelompok masyarakat/etnis di Manokwari, Ibukota Papua Barat, beberapa waktu lalu.

Salah satu poin dari kesepakatan itu secara substansial menyatakan bahwa siapapun yang terlibat dalam masalah kriminal, harus diproses secara hukum tanpa melihat latar belakang sosial pelakunya.

Sementara itu, penasehat hukum Semuel, Yan Christian Warinussy meminta agar aparat dan masyarakat tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam mengusut dan melihat kasus ini. Ia juga meminta aparat kepolisian militer TNI AD di Jayapura yang kini memeriksa Samuel agar tetap mengedepankan prinsip-prinsip hak asasi manusia.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait dikabarkan tiba di Manokwari pagi ini. Via pesan pendek, Arist menyatakan rencana bertemu dengan Kapolda Papua Barat dan aparat kepolisian militer AD sebelum bertolak ke Bintuni menemui keluarga korban.

Pada tanggal 27 Agustus 2015, sekitar pukul 21.00 WIT warga Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, dikagetkan oleh penemuan 3 mayat dalam kondisi mengenaskan di Jl Raya Bintuni Km 7, Distrik Bintuni.

Jenazah yang ditemukan itu adalah Ny Frelly Dian Sari (26 Tahun) bersama dua anaknya Cicilia Putri Natalia (6 Tahun) dan Andhika (2 Tahun).
Ihwal penemuan jenazah itu bermula ketika Yanto, seorang tetangga korban, melihat rumah korban sepi dan dalam keadaan gelap gulita.

Di samping rumah, sejumlah pakaian tampak masih tergantung di jemuran. Karena merasa curiga, Yanto pun masuk mengecek rumah sebelum menemukan jenazah ketiga korban dalam kondisi mulai membusuk di lantai 2.

Frelly yang dikabarkan sedang mengandung 4 bulan, ditemukan dengan sejumlah luka dan bekas tusukan di tubuhnya. Warga menuturkan, terdapat luka tusukan pada (maaf) alat vitalnya disertai semacam sayatan/irisan menuju perut.

Foto-foto Ny Frelly saat ditemukan– beredar di internet– memperlihatkan posisi korban dalam keadaan tengadah. Dua tangannya terletak disamping kepala. Sementara tubuh bagian bawah tanpa busana.

Jenazah 2 anaknya yang ditemukan di ruang berbeda di lantai 2 juga mengenaskan dengan sejumlah luka tusuk dan tebasan. Diduga ketiganya adalah korban pembunuhan. Warga pun melaporkan penemuan jenazah ini ke pihak kepolisian resort Teluk Bintuni yang segera melakukan penyelidikan bersama Polda Papua Barat.

Ny Frelly adalah istri dari Julius Hermanto (32 tahun). Suaminya bekerja sebagai guru/kepala sekolah di SD Inpres Yensey. Lokasi tempat Julius mengajar terletak di daerah pedalaman. Dari pelabuhan Bintuni, Kampung Yensey dapat dijangkau menggunakan long boat dengan waktu tempuh sekitar kurang lebih 4 jam.

Julius terakhir berkumpul bersama keluarganya pada Selasa 25 Agustus 2015. Atau dua hari sebelum istri dan dua anaknya ditemukan warga dalam keadaaan tak bernyawa.

Julius bertolak ke pelabuhan Bintuni menuju Yensey pada Selasa pagi, sekitar pukul 06.30 WIT, Ia menemani guru-guru baru yang akan bertugas di daerah itu.
Pada hari yang sama—diduga setelah dibunuh– telepon selular (ponsel) milik korban (Ny. Frelly) tiba-tiba digunakan seorang laki-laki.

Hal ini diketahui saat pria itu menelepon keluarga Frelly di Jayapura pada pukul 15.02 WIT. Berdasarkan keterangan dari keluarga korban, telepon itu hanya bertanya soal kabar. Pada pukul 22.00 WIT, ponsel itu digunakan kembali untuk menelepon.

Ihwal ditetapkannya Semuel sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan ini berkaitan dengan ditemukannya petunjuk dalam penyelidikan bahwa ia sempat menguasai HP korban yang kemudian ia gunakan untuk menelpon sejumlah orang di Jayapura, Babo dan Manokwari. Hal ini didasarkan atas penyelidikan polisi atas lalu lintas percakapan dari nomor korban. Sejumlah orang yang ditelpon Samuel telah diperiksa polisi dan hasil pemeriksaan itu kian mengarahkan kecurigaan aparat kepada Samuel.

Status Semuel sebagai anggota TNI membuat pihak kepolisian melimpahkan kasus ini ke kepolisian militer. Tepat pada hari dimana Semuel diterbangkan ke Jayapura untuk diperiksa oleh polisi militer, Komandan Komando Resor Militer 171/Praja Vira Tama Sorong, Brigadir Jenderal TNI Purnawan Widi Andaru di ruang VIP Bandara DEO Kota Sorong, Senin (21/9) memberikan signal kepada wartawan soal dugaan keterlibatan Semuel dalam kasus ini.

“Dari hasil yang saya dapatkan, diduga kuat ada keterlibatan anggota saya. Dia sudah saya tahan karena ada keterkaitannya dengan barang bukti,” katanya.
Setelah polisi militer memeriksa Samuel selama beberapa hari, Jumat pekan lalu saat mengunjungi Teluk Bintuni Panglima Daerah Militer XVII Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Hinsa Siburian, menegaskan kepada wartawan bahwa Semuel Jitmau telah ditetapkan sebagai tersangka. Meski demikian Pangdam tidak mengurai motif pembunuhan ini.

Beredar kabar bahwa malam sebelum pembunuhan, Semuel dan beberapa orang lainnya menengak minuman keras ‘bobo’ di sekitar Bandara Bintuni. Polisi telah memeriksa rekan-rekan Samuel itu dan sejauh ini, mereka berstatus sebagai saksi. | PATRIX B TANDIRERUNG