Truk berisi profil tank yang disita sebagai barang bukti kasus penyelundupan 28 ribu liter solar illegal di Kabupaten Teluk Bintuni.

Solar Ilegal 28 Ribu Liter di Bintuni Dipasok di Tengah Laut

BINTUNI, Cahayapapua.com— Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Teluk Bintuni terus mengembangkan kasus penyelundupan solar ilegal sebanyak 28 ribu liter yang ditangkap di Kampung SP 1, Distrik Manimeri, Teluk Bintuni, Minggu (9/10/2016). 

Pengungkapan solar ilegal ini dilakukan saat polisi memeriksa aktivitas bongkar muat BBM dari KM Askar dan KM Doa Ibu ke angkutan truk di pelabuhan perusahaan kayu log di Kampung Manimeri. Setelah ditelusuri ternyata pemilik tak mengantongi ijin angkutan BBM.

Hasil pemeriksaan terbaru mengungkap solar ilegal itu didapat dari kapal LCT atau kapal angkutan multifungsi yang proses jual belinya dilakukan di Perairan Teluk Bintuni.

Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni AKP Braiel A. Rondonuwu mengatakan, para tersangka mengaku solar ilegal itu merupakan bahan bakar sisa kapal LCT. Untuk memuluskan penyelundupan ke kota Bintuni mereka melakukan bongkar muat di pelabuhan kayu log yang jauh dari perkotaan.

Para tersangka menurut Rondonuwu mengaku baru pertama kali melakukan perdagangan solar ilegal, namun keterangan warga menyebutkan aktivitas mereka di pelabuhan Manimeri sudah cukup sering.

“Para pelaku mengaku solar ilegal tersebut diecerkan ke kios-kios (di Teluk Bintuni). Belum ada dugaan pelaku lain yang menampung BBM (solar) tersebut,” kata Rondonuwu.

Rondonuwu mengaku belum mengetahui apakah ada dugaan solar ilegal tersebut dipasok sebagai kebutuhan industri di daerah itu. “Tersangka mengaku hanya untuk diecerkan.”

Dua kapal motor pemuat 28 ribu liter solar ilegal tersebut ditangkap pada Minggu 9 Oktober oleh Polres Teluk Bintuni dibantu tim khusus Direktorat Kriminal Khusus Polda Papua Barat berdasar laporan warga.

Untuk keperluan pemeriksaan polisi menyita 3 unit truk dan 4 profil tank berkapasitas masing-masing 5300 liter dan 2500 liter yang dipakai untuk menampung solar.

Polisi juga memberi garis polisi pada dua kapal tersebut yang masih terdapat solar ilegal yang saat ini sudah dipindahkan ke pelabuhan Kampung Lama, Kota Bintuni.

Para tersangka dalam kasus ini adalah BH, kaptain KM Askar, H alias U Kaptain KM Doa Ibu, S anak buah kapal KM Doa Ibu, A ABK KM Askar dan sebagai pemilik BBM tersebut.

Rondonuwu berkilah para tersangka tidak ditahan karena ancaman hukuman dibawah 4 tahun penjara. Saat ini mereka hanya diwajibkan untuk melapor ke sentra kepolisian.

Para tersangka dijerat pasal 23 junto 53 ayat 2 huruf (b) dan (d) UU RI No 22 Tahun 2001 dengan acaman hukuman maksimal 4 tahun penjara. (ART)

Tinggalkan Balasan