Salah satu sudut di pasar Wosi, Manokwari.

Sorotan Diarahkan ke Pemda Manokwari Soal Pasar Wosi

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com– Kenyamanan transaksi jual beli di pasar tradisional Wosi, Manokwari, Papua Barat, sedang menjadi sorotan menyusul “lumpuhnya” berbagai sarana pendukung di pasar tersebut, sementara biaya retribusi yang ditarik pemerintah paling sedikit mencapai Rp. 40 juta per bulan.

Lokasi pembuangan sampah berukuran besar yang tidak terurus dan menimbulkan bau tak sedap dari sudut pasar tersebut, jalan bergelombang yang dipenuhi becek tiap kali hujan dan selokan yang menumpahkan air ke badan jalan di pasar itu merupakan sedikit hal menyangkut kenyamanan di pasar.

Para pedagang dan pembeli juga harus bergelut dengan becek yang memenuhi lorong-lorong pasar itu ketika hujan menguyur. Ini belum termasuk soal keamanan pasar yang belakangan juga dikeluhkan.

“Kami kecewa dengan sikap pemerintah yang terkesan tidak serius mengurusi berbagai permasalahan itu,” ujar Koordinator Umum Asosiasi Pedagang Pasar Wosi (Aspipasi) Manokwari, Amin Husain, Senin (19/1/2015).

Salah satu sudut jalan lingkar pasar ini, yang baru-baru ini terlihat ditimbun menggunakan tanah campuran, merupakan inisiatif yang digalang asosiasi. Pemda Manokwari tidak hadir disitu. Baru-baru ini asosiasi juga menggalang upaya untuk membersihkan parit-parit dan sebagian sudut pasar.

“Kami menuntut Pemda Manokwari serius mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh para pedagang. Jika dibanding pasar lain di Tanah Papua, Pasar Wosi sangat tertinggal jauh,” tambah Wakil ketua 2 Aspipasi, Arsyad.

Selama ini para pedagang mengaku dikenai biaya retribusi antara Rp. 2000 hingga Rp. 4000 per hari. Pedagang sayur dan kebutuhan pokok lainnya dikenai tarif Rp. 2000 sementara pedagang barang pecah belah dan pakaian antara 3000 sampai Rp. 4000.

Seluruh iuran tersebut menurut pedagang jika diakumulasikan, maka dalam sebulan pemerintah memungut antara Rp. 40 – 50 juta.

“Harusnya dengan dana retribusi sebesar itu Pemda dapat memberikan layanan maksimal dengan memperbaiki sanitasi atau parit-parit di sekitar pasar Wosi, agar tidak terjadi banjir dan penumpukan sampah sehingga terlihat kumuh. Perbaikan jalan yang rusak parah dan los-los dan atau lapak-lapak para pedagang yang tidak layak pakai juga tidak harus dilakukan,” papar Arsyad.

Mereka juga mengancam akan menutup pasar sebagai bentuk protes ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke Manokwari, jika Pemda Manokwari terus mengumbar janji kosong. |RIZALDI

 

Tinggalkan Balasan