Ilustrasi pemalsuan dokumen. Foto: Ist

Stempel dan Tandatangan Palsu Sang Kontraktor

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Direktur CV Tujuh Saudara Abdul Manaf, diduga melakukan pemalsuan dokumen laporan perkembangan proyek rehabilitasi ruang kelas SMPN 1 Dom, Sorong.

Proyek yang tidak selesai itu kini membuatnya duduk sebagai terdakwa di pengadilan tindak pidana korupsi Papua Barat.

Meski adanya dugaan pemalsuan itu terungkap dalam sidang yang digelar kemarin di Manokwari, namun jaksa lebih menitik beratkan dakwaannya pada kesalahan manaf yang tidak menyelesaikan proyek senilai 624 juta rupiah itu.

“Dalam sidang tadi, konsultan proyek mengatakan sudah meminta terdakwa untuk membuat laporan perkembangan proyek, tapi tidak dilakukan. Sementara dalam laporan yang disampaikan terdakwa, ada dokumen yang mengatasnamakan konsultan. Dokumen itu rupanya dibuat menggunakan tanda tangan dan stempel palsu,” jelas jaksa penuntut, Ahmad Muzayyin kepada wartawan usai sidang, Senin (3/11/2014).

Dalam sidang yang digelar kemarin di ruang sidang Pengadilan Negeri Manokwari, ada 6 orang saksi yang dihadirkan untuk memberi keterangan di depan hakim Haryono. Diantaranya, Yunus Sattu, Daniel Palulungan, R.M Widi Saputro, Yan Rante dan  Jemi Buyang Sattu.

Berdasar hasil audit BPKP, proyek yang pembiayaannya berasal dari dana otonomi khusus ini membuat negara rugi 144 juta rupiah.

Kejaksaan telah memanggil kepala SMPN 1 Dom ini untuk dimintai keterangannya oleh penyidik.

Sementara di lapangan, kata Ayin—panggilan Akrab Ahmad Muzayyin— ditemukan fakta bahwa Abdul Manaf belum memasang keramik dan beberapa bagian dari bangunan yang seharusnya ia kerjakan selaku kontraktor. |PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan