Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka Sirait (kiri) berbincang dengan suami Frelly, korban pembunuhan sadis yang terjadi Teluk Bintuni akhir Agustus lalu, Selasa (29/9).

Suami Frelly Mengaku Tidak Kenal Tersangka

BINTUNI, CAHAYAPAPUA.com- Kejadian terbunuhnya istri dan kedua anaknya, membuat Yulius Hermanto sangat terpukul. Apalagi pada saat itu ia sedang menunaikan tugas sebagai kepala sekolah di SD Yensei Distrik Wamesa, Teluk Bintuni, yang jaraknya cukup jauh.

Menurut Yulius, untuk mencapai tempat tugas ia harus menggunakan perahu longboat 15 PK selama 6 jam hingga satu hari perjalanan.“Kalau cuaca bagus sih bisa 6 jam, tapi kalau cuaca kurang bagus bisa satu hari apalagi pada saat air surut,”ujarnya.

Pada saat kejadian, diakui ia sedang mengantarkan dua orang guru SM3T untuk mengabdi di sekolah yang ia pimpin. Karena memang di sekolah tersebut hanya ada enam guru yang harus mengajar sebanyak enam kelas. Jumlah murid di SD Yensei, dikatakan sebanyak 76 murid. Karena melaksanakan tugasnya, sehingga ia terpaksa harus meninggalkan keluarga hingga berbulan-bulan.

Namun sebelum kejadian tragis itu, ia berencana akan membawa keluarga ke tempat tugas. Tapi karena ada keperluan dinas sekolah, rencana tersebut ditunda hingga akhirnya kejadian mengerikan itu pun terjadi.

Diceritakan sebelum berangkat ke tempat tugas pada pagi hari, kedua anaknya masih dalam keadaan tidur. Hanya sang istri yang melepasnya untuk berangkat kerja. Pada waktu itu Yulius tidak merasakan firasat apa-apa.

“Pesan waktu berangkat itu biasa saja. Waktu ketika berangkat anak-anak masih tidur, karena sebelumnya pulang ibadah sudah malam tapi masih sempat main dan ngobrol sebentar lalu istirahat. Saya bangun mereka berdua (anak-anaknya) masih tidur hingga saya keluar dari rumah, cuma istri sudah bangun. Kadang kami keluar dari rumah sejak subuh sekitar jam empat pagi,” tuturnya saat ditemui di rumah kerabatnya, Selasa (29/9) kemarin.

Tidak lama berada di tempat tugas, kemudian mendapat info dari pihak Dinas Pendidikan yang datang menjemput tentang kejadian yang menimpa keluarganya.“Sampai di pelabuhan baru tahu, tapi belum semua tahu. Sampai di Polres baru tahu,” akunya.

Saat ditanya apakah mengenai tersangka SJ, Yulius mengaku sebelum kejadian sama sekali tidak mengenal SJ. “Sebelumnya tidak kenal, memang sama sekali tidak kenal yang namanya SJ ini,” akunya.

Ia mengharapkan agar kasus ini segera terungkap, siapa pun yang terlibat dalam peristiwa ini. Diakui sebelumnya diperkirakan bahwa pelakunya lebih dari satu, namun dari hasil penyidikan hanya mengarah pada satu orang, yaitu SJ yang merupakan oknum anggota TNI.

“Karena awalnya saya berpikir bahwa pelakunya bukan satu orang, tapi pada akhirnya dalam proses penyidikan mengarah pada satu orang. Yang kami kuatirkan kalau memang masih ada yang terlibat dan masih berkeliaran diluar, ini yang menjadi suatu kekuatiran bagi saya. Jadi harapan saya harus tuntas, siapa pun yang terlibat harus ditemukan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” harapnya.

Terkait banyaknya dukungan dari sejumlah pihak untuk penuntasan kasus yang menimpanya, Yulius menghaturkan ucapan terima kasih. “Harapan saya agar kasus ini dapat segera diselesaikan. Siapa pun pelaku yang terlibat dalam kasus ini dapat diproses dan dapat hukuman yang seberat-beratnya,” tegasnya.

Sementara itu Ketua KPAI, Arist Merdeka Sirait mengungkapkan bahwa saat ini tersangka SJ sudah menjadi tahanan militer di Jayapura. Ia berjanji akan terus mengawal kasus ini hingga selesai.“Kita tinggal mendukung Polisi Militer untuk menegakan hukum supaya berkeadilan. Saya sudah bertemu dengan Kapolda, Panglima untuk memeriksa tersangka. Jika melakukan kesalahan maka harus dihukum, meskipun mekanismenua harus melalui Polisi Militer,” ujarnya. |ARI MURTI