Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka Sirait berbaju biru, bersama murid SD di kabupaten Teluk Bintuni bersorak sambil mengepalkan tangan ketika berkunjung ke daerah tersebut, Selasa (29/9). KPAI berkunjung ke daerah tersebut terkait dengan kasus pembunuhan Frelly dan dua anaknya akhir Agustus lalu.

Suami Frelly Sebut Istrinya Tidak Dalam Kondisi Hamil

BINTUNI, CAHAYAPAPUA.com – Frelly Dian Sari (26 tahun), korban pembantaian bersama dua anaknya, Cicilia Putri Natalia (6 tahun) dan Andhika (2 tahun), awalnya dikabarkan tengah mengandung. Soal ini dibantah tegas oleh suami korban, Yulius Hermanto saat ditemui ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka Sirait, di Bintuni, Selasa (29/9).

Merebaknya informasi istrinya tengah hamil, menurut Yulius mungkin dikarenakan foto korban yang tersebar luas. Dalam foto itu memang terlihat perut korban kelihatan membesar, tetapi bukan karena hamil melainkan diduga terjadi karena adanya pembengkakan yang disebabkan jenazah yang ditemukan sudah berusia beberapa hari.

“Sebenarnya tidak hamil, mungkin pada saat ditemukan kan sudah dalam kondisi bengkak. Dan foto itu cepat menyebar, sehingga orang berpikiran bahwa berdasarkan foto yang ada bahwa sedang hamil,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa istrinya sebelum meninggal tidak pernah bercerita sedang mengandung.“Setahu saya tidak, tidak,” tegasnya.

Sementara itu Wakil Ketua II DPRD Teluk Bintuni, Dan Topan Sarongallo mengungkapkan bahwa isu korban sedang dalam keadaan hamil mencuat saat adanya pernyataan sikap dari guru-guru (PGRI) di Polres Teluk Bintuni. Pada saat itu sempat terlontar pernyataan bahwa korban sedang dalam keadaan hamil.

Terkait itu, Arist Merdeka Sirait mengungkapkan bahwa kepastian kondisi korban tersebut sangat penting untuk diketahui. “Kalau benar korban dalam keadaan hamil empat bulan, maka korban anak-anak yang meninggal bukan dua tapi tiga. Karena usia kehamilan 4 bulan itu, sudah menjadi janin dan sudah hidup sehingga bisa dikategorikan anak,” jelasnya.

Arist mengatakan, kehadirannya ke Bintuni untuk memberikan dukungan kepada keluarga korban agar tetap tegar dan tidak putus asa atas kejadian tersebut.“Kehadiran Komnas Perlindungan Anak, datang untuk mendukung supaya tegar. Karena kehendak Tuhan tidak bisa ditolak. Jangan putus asa,” ucapnya memberi dukungan.

Disampaikan bahwa pihak kepolisian sudah bekerja keras untuk menggungkap kasus ini, sehingga terduga yang ditetapkan sebagai tersangka sudah bisa ditahan. Karena tersangka adalah oknum anggota TNI, sehingga proses hukumnya diserahkan ke pihan Den POM. |ARI MURTI