Distrik Moskona Utara Kabupaten Teluk Bintuni yang pernah dikunjungi Bupati Alfons Manibui. | CAHAYAPAPUA.com | Ari Murti

Subsidi Penerbangan ke Pedalaman Papua Barat Meningkat

BINTUNI,CAHAYAPAPUA.com—- Meski telah menjadi kabupaten sejak 2003 lalu, Teluk Bintuni masih memiliki sejumlah daerah pedalaman yang sulit dijangkau, diantaranya Distrik Moskona Utara dan Moskona Timur yang hanya bisa jangkau dengan pesawat berbadan kecil.

Sayangnya biaya transportasi udara tergolong sangat mahal, dan sudah barang tentu sangat sulit dijangkau oleh masyarakat ekonomi lemah. Oleh karena itu, pemerintah daerah sejak beberapa tahun terakhir telah memberikan subsidi penerbangan bagi masyarakat yang menetap di Distrik Moskona Utara dan Moskona Timur.

Menurut Bupati Teluk Bintuni, Alfons Manibui bahwa pada tahun 2014, subsidi transportasi udara yang diberikan oleh pemerintah daerah sebanyak 200 kali penerbangan yang terdiri dari 100 kali Moskona Utara dan 100 kali ke Moskona Timur. Diakui subsidi tersebut menelan anggaran daerah sekitar 4 Miliar rupiah.

Sementara untuk tahap pertama tahun ini, anggaran subsidi penerbangan ke wilayah terisolir tersebut ditingkatkan menjadi 5 Miliar rupiah.

Dengan demikian maka subsidi transportasi udara yang diberikan oleh pemda yaitu sebanyak 300 kali penerbangan yang terdiri dari 150 kali ke Moskona Utara dan 150 kali ke Moskona Timur.”Tahun ini kita taruh sebanyak Rp 5 Milyar, jadi perhitungannya menjadi 150 kali moskona utara, 150 kali moskona timur,” ungkapnya.

Dijelaskan adanya subsidi penerbangan, bukan berarti masyarakat dapat menggunakan angkutan udara secara gratis. Melainkan tetap dikenakan tarif, namun besarnya tarif dikenakan jauh lebih murah dibanding tidak disubsidi.

“Besarnya tarik yang dikenakan adalah Rp. 300 ribu per penumpang dengan rute Manokwari ke Moskona Utara atau Manokwari ke Moskona Timur. Jika tanpa subsidi, maka biaya transportasi udara yang dikenakan kepada masyarakat bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah per penumpang,”terang bupati.

Lebih jauh disampaikan bahwa hingga saat ini belum ada penerbangan reguler yang menuju Distrik Moskona Utara maupun Moskona Timur, sehingga pihaknya harus memberikan subsidi untuk angkutan udara. “Ini dihitung carter, karena tidak ada penerbangan reguler. Uang dua miliar hanya dapat 100 kali penerbangan,” terangnya.

Alasan rute penerbangan lebih banyak dari Manokwari dibanding dari Bintuni, ungkap bupati, karena bahan bakar atau Avtur pesawat tersedia di Bandara Manokwari. Sementara hingga saat ini Bintuni belum memiliki base untuk memenuhi kebutuhan pesawat udara.

Dikatakan sulitnya transportasi menuju dua distrik tersebut sangat mempengaruhi pembangunan di wilayah tersebut.

“Kuncinya cuma satu bahwa Moskona kita tidak bisa bangun apa-apa selama tidak ada bandara. Kalau yang bisa masuk hanya pesawat carter dan helikopter. Ada pembangunan tapi lambat sekali, kalau bisa bikin infrastruktur sangat susah, perbandingan di kota 100 juta di atas (Moskona, red.) satu miliar,” pungkasnya. |ARI MURTI

Tinggalkan Balasan