Ilustrasi. Foto: Ist

Sudutkan Terdakwa, 1 Saksi Ditimpuk Tas

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.comKeluarga Asisten I Administrasi Pemerintahan Kota Sorong, Drs. Markus Iek, M.Si meradang di Pengadilan Negeri Manokwari, kamis (30/10/2014) siang.

Mereka meneriaki dan mengejar para saksi saat akan— dan sesudah—  memberi keterangan dalam sidang kasus korupsi dana pelantikan walikota dan wakil walikota Sorong periode 2012-2017.

Seorang ibu yang marah sepertinya adalah istri Markus Iek.  Sebelum sidang digelar, cacian dan kemarahannya dialamatkan kepada  Novita C.H Homer.

Ko yang enak-enak di luar, Bapa yang dipenjara,” teriaknya dongkol. “Di Sorong ko tepuk dada bilang mau pasang badan, sekarang mana?”.

Novita adalah saksi kasus ini karena kapasitasnya sebagai koordinator konsumsi dalam panitia pelantikan. Dicerca pertanyaan bernada marah, ia hanya balik tersenyum. Namun senyum simpulnya,  justru jadi bumerang. Si ibu makin meradang.

Ko tertawa-tertawa buat apa? Ko pikir ini lucu kah!” Ibu itu makin dongkol dan mencoba mendekatinya.  Namun ia dilerai oleh beberapa pegawai pengadilan.

Saat sidang digelar, Markus Iek benar-benar tersudut oleh keterangan para  saksi. Novita misalnya. Ia mengaku hanya menerima uang tunai 400 juta untuk kepentingan konsumsi, tapi Markus Iek yang menjadi Ketua Panitia kegiatan memintanya menandatangani kuitansi bernilai 1 miliar rupiah.

Koordinator Seksi kesekretariatan, Oktavianus Bless, menerima uang tunai 400 juta rupiah namun diminta meneken kuitansi senilai 810 juta rupiah.

Koordinator seksi dekorasi,  Ricky Nauw, menerima 130 juta tapi diminta meneken kuitansi sebesar 230 juta rupiah.  Saksi terakhir; Koordinator Seksi Kesehatan, Naomy Tanaway, mengaku menerima 50 juta rupiah. Namun ia mengaku menolak saat diminta meneken 102 juta rupiah.

“Saya tidak mau tandatangan pak. Saya bilang kalau 50 juta saya bisa pertanggungjawabkan. Tapi 102 juta terlalu berat,” kata Naomy kepada hakim Haryono,SH.

Usai sidang, ibu yang tadi berulah kembali mencoba mengejar para saksi yang memilih duduk diam di dalam ruang sidang. Sasaran utama tetap Novita.

Sejurus kemudian, seorang saksi memilih berjalan keluar ruangan.  Tak pelak, pria setengah baya itu langsung jadi sasaran empuk kemarahan si ibu. Beberapa kali ia ditimpuk tas. Ia pun hanya bisa menangkis. Rona wajahnya memerah malu sebab peristiwa ini jadi tontonan pengunjung sidang. Polisi diam saja.

“Itu trapapa. Pace itu masih keluarga dengan ibu kapa. Makanya berani keluar,” seloroh seorang pengunjung.

Seorang jaksa mencoba beberapa kali menenangkan ibu ini. Ia mengatakan bahwa kasus yang menimpa Markus Iek murni masalah hukum. Upaya jaksa ini rupanya berhasil meluluhkan si ibu. Ia pun menangis, terisak-isak dalam rangkulan pak Jaksa. |PATRIX B TANDIRERUNG |TAKDIR

 

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan