Bupati Kabupaten Manokwari Selatan, Markus Waran.

Tak Cukup Bukti, Penyelidikan Kasus Ijazah Markus Waran Dihentikan

MANOKWARI, Cahayapapua.com—  Kepolisian Daerah  (Polda) Papua Barat resmi  mengeluarkan Surat Perintah Pemberhentian Penyelidikan (SP3) terhadap dugaan penggunaan ijazah palsu calon bupati terpilih Manokwari Selatan, Markus Waran,ST.

Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol Royke Lumowa, melalui Kabid Humas Polda PB , AKBP Harry Supriyono menjelaskan,  pihaknya tak menemukan bukti yang kuat usai melakukan serangkaian penyelidikan.

Penyelidikan tersebut dilakukan penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditkrimum) dengan meminta keterangan beberapa pihak yang berkaitan langsung. Diantaranya Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) PB dan pihak Universitas Sunan Giri Surabaya.

“Setelah gelar perkara yang dipimpin Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda PB Kombes Pol. Bonar Sitinjak yang dihadiri Wakapolda, Kombes Pol Petrus Waine,S.H,M.Hum, sejumlah PJU, tidak cukup bukti atau tidak ada perbuatan melawan hukum dalam hal melakukan tindak pidana pemalsuan,” terang Hari, Rabu (12/10).

Bahkan dari hasil itu, sebut  hari, penyelidik mendapatkan bukti yang menguatkan bahwa ijazah yang digunakan terlapor (markus waran) dengan nomor seri ijazah : 1623 / A.09/ U/ VIII/ 2005 memang benar dikeluarkan oleh Universitas Sunan Giri Surabaya tertanggal 19 Agustus 2005.

“Karena itu penyelidikan dugaan pemalsuan Ijazah oleh Bupati Mansel tidak memenuhi unsur maka perlu diterbitkan SP3 atau dihentikan penyelidikannya guna memberikan kepastian hukum,” ujarnya.

Kasus ini awalnya dilaporkan Maxsi Nelson Ahoren di Bareskrim Mabes Polri. Berdasar surat Kabareskrim Polri nomor : B/ 1826/ Ops/ III/ 2016/ Bareskrim tanggal 16 Maret 2016 berkas perkara ini dilimpahkan ke Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Polda Papua Barat.

Kemudian, berdasarkan surat perintah penyidikan (SPP) nomor : SP.Sidik/ 53/ IV/ 2016/ Dit Reskrimum, penyidik mulai melakukan penyidikan.

Sementara itu Markus Waran menyebut ijazahnya yang kini dipermasalahkan itu memang benar dia peroleh melalui pendidikan tinggi pada salah satu perguruan tinggi di Surabaya

“Supaya publik tahu bahwa ijazah itu saya dapat bukan dengan cara beli, saya pernah mengenyam pendidikan tinggi sejak 2001-2005 di Universitas Sunan Giri (UNSURI) ” ujarnya

Selain itu dia juga mengakui memiliki kartu rencana studi KRS yang sudah di serahkan sebelumnya ke penyidik sebagai barang bukti.  Dalam kasus ini Markus Waran setidaknya empat kali dipanggil untuk diperiksa oleh penyidik.

Markus Waran mengaku menerima jika ia memang dinyatakan bersalah. Namun karena kasus ini sudah di SP-3 kan maka ia mengaku siap untuk metuntut balik pelapor atas kasus pencemaran nama baik. (MAR).

Tinggalkan Balasan