Tambah

Hari minggu kemarin Poro pu mama bikin papeda dengan kua kuning. Tambah sayur kangkung campur bunga pepaya. Poro makan nikmat skali. Apalagi dia pu sambal pas. “Mama pu masakan ini masih mantap seperti dulu,” poro puji dia pu mama sambil lap dia pu keringat di testa. “Sa tau ko su lama tara makan barang ini jadi sa bikin,” mace senang. “Kalau bisa kitorang sering-sering makan papeda. Jangan nasi terus. Apalagi sagu ni kitorang pu makanan pokok,” Poro saran. “Mama juga maunya begitu cuma sagu mahal,” “Itu yang sa heran. Padahal hutan sagu di Papua ni paling luas di dunia. Kalau tara salah dua juta hektar,” Poro bicara sambil tambah ikan. “Sebenarnya sagu ni selain jadi papeda, kitorang bisa olah dia jadi tepung. Sagu juga dia pu kandungan gizi lebih bagus. Dan ternyata sagu bisa untuk bahan bakar nabati,” Poro jelaskan panjang lebar tapi tangan mendarat di piring sayur. “Iya e, berarti sagu ini dia pu guna banyak skali,” mace akui. “Makanya di Sorong, Perhutani dorang lagi bangun pabrik untuk olah sagu. “Wah, itu bagus. Supaya kalau kitorang mau bikin papeda atau kue lebih gampang. Karena tepung su banyak. Mudah-mudahan dia pu harga murah,” mace senang. “Tapi pemerintah dorang tara terlalu dukung proyek ini. Dorang janji mau bangun jalan dan pelabuhan tapi sampai sekarang belum,” poro tambah papeda lagi. “Pemerintah dorang memang parah. Tara bisa gunakan kitorang pu kekayaan alam ni untuk bikin masyarakat lebih sejahtera,” mace ganas. “Betul skali, sa tara mengerti dorang pu jalan pikiran.” “Bagaimana bisa mengerti kalau ko tinggal tambah papeda trus….

Tinggalkan Balasan