Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Papua Barat, Paskalina Yamlean (kedua dari kiri).

Tangguh butuh 3.290 tenaga kerja pada puncak proyek Train 3

Disnaker: 300 tenaga kerja telah direkrut dari 62 kampung terdampak langsung

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Proyek Tangguh Train 3 yang sedang berlangsung di Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak, Papua Barat, ditargetkan membutuhkan 3.290 tenaga kerja pada puncak proyek tersebut tepatnya Oktober 2018.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Papua Barat, Paskalina Yamlean pada kegiatan temu media di Manokwari, Selasa, mengatakan, kebutuhan tenaga kerja pada puncak proyek tersebut untuk tenaga kerja nonskill dan semi skill.

Dia menyebutkan, perekrutan sudah berjalan melalui Disnakertrans sejumlah kabupaten Papua Barat. Data terakhir yang diperoleh pada 26 Januari 2018, sebanyak 300 tenaga kerja sudah direkrut dari 62 kampung terdampak langsung proyek tersebut di Teluk Bintuni dan Fakfak.

“Lalu 160 tenaga kerja dari Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak diluar 62 kampung, 371 orang dari wilayah Sorong Raya dan Manokwari Raya, serta 1.610 orang dari luar Papua Barat,” katanya.

Menurut Paskalina, kesehatan fisik tenaga kerja sangat dibutuhkan pada proyek konstruksi tersebut. Pihaknya akan terus mengawasi proses perekrutan di kabupaten/kota.

Pada kesempatan itu, ia juga menekankan, tidak boleh ada pungutan biaya apapun dalam perekrutan ini. Jika terbukti ada pungutan, pihaknya akan mengambil tindakan tegas.

Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Migas Wilayah Papua-Maluku, Rinto Pudyantoro pada kesempatan yang sama mengatakan, perbaikan dan penyelesaian masalah dalam penerimaan tenaga kerja ini akan terus dilakukan.

Ia menjelaskan, pada proyek tersebut perekrutan tidak serta merta dilaksanakan perusahaan melainkan melalui Disnaker dan tiga subkontraktor yang telah ditunjuk.

Pada proses ini diharapkan, tidak ada pungutan atau biaya apapun. Selain itu, perekrutan ini pun harus mengacu pada kesepakatan yang tercantum dalam dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Jadi ada prioritas penerimaan, pertama mengutamakan warga lokal atau Papua asli atau yang ber-ras melanesia. Kedua, mereka yang ayah atau ibu asli Papua, berikutnya orang yang menikah dengan orang Papua, yang terakhir mereka yang tinggal Papua sudah lebih dari 10 tahun,” katanya menjelaskan.

Secara keseluruhan, lanjut Rinto, tenaga kerja yang akan direkrut pada proyek Train 3 Tangguh sebanyak 7.000 orang, baik skill maupun nonskill. 30 persennya akan diutamakan berasal dari orang asli Papua.

Rinto mengatakan SKK Migas dan kontraktor BP serta subkontraktor bersama Pemda Provinsi dan kabupaten di Papua Barat telah melakukan dialog ketenagakerjaan.

Komunikasi tersebut menurutnya akan terus disinergikan agar memastikan agar BP selaku operator tetap tunduk dan patuh terhadap Undang-Undang dan aturan serta pedoman ketenagakerjaan yang berlaku.

“Kami sangat berharap agar nantinya kewenangan yang dimiliki oleh Disnaker dapat menjembatani sinergi yang diharapkan oleh masyarakat asli dalam hal ikut berkontribusi membangun tanah Papua,” ujarnya.

Sementara itu BP Indonesia, seperti diberitakan Katadata, menargetkan dua anjungan lepas pantai yang merupakan bagian dari proyek Tangguh train 3 bisa sampai di Teluk Bintuni sebelum akhir tahun 2018. BP menargetkan seluruh pembangunan Train 3 dapat terlaksana sesuai jadwal dan bisa dioperasikan pada April 2020. |Toyiban | Abdul Wahab Arey | Elyas

Leave a Reply

%d bloggers like this: